Kembalinya Tiara ke tugas terbang — setelah Kira berusia satu tahun, setelah musyawarah dua bantal yang tidak pernah benar-benar selesai, setelah peran pembimbing yang membuktikan jalannya — adalah kepulangan yang dirayakan dengan campuran rasa yang tidak bisa dipisah-pisah: rindu dan bersalah, dalam satu tas.
Penerbangan pertamanya kembali adalah penerbangan yang aneh: semuanya sama, dan semuanya berbeda. Sama lorongnya, sama trolinya, sama bunyi mesinnya — tapi ia kembali sebagai orang yang sudah melahirkan, dan tubuh itu mengingatkan dirinya dengan cara-cara kecil yang tidak tertulis di manual: punggung yang lebih cepat lelah, jam yang harus dihitung untuk memerah susu di toilet galley dengan alat yang dibungkus rapi, dan satu momen di ketinggian jelajah ketika ia menatap keluar jendela kegelapan dan mendadak merindukan bau rambut anaknya dengan kekuatan yang membuatnya harus berpegang pada sesuatu. Tidak ada yang mengajarkannya itu di pelatihan: bahwa pulang ke langit setelah menjadi ibu berarti membawa dua rumah ke mana-mana — kabin dan kamar kecil di kota — dan bahwa hati yang terbagi dua itu tidak pernah benar-benar beristirahat di salah satunya. Yustika, yang menyambutnya di briefing pertama dengan satu pelukan cepat yang mengejutkan semua orang, membaca keadaannya tanpa bertanya: 'Hari pertama selalu yang paling berat. Bukan pekerjaannya — hatinya. Besok lebih ringan. Minggu depan lebih ringan lagi. Dan suatu hari nanti kau akan menemukan bahwa anakmu bangga punya ibu yang terbang — percayalah, anak-anak itu tidak butuh ibu yang selalu ada. Mereka butuh ibu yang utuh. Dan kamu lebih utuh di langit ini daripada di rumah yang penuh penyesalan.' Kata-kata itu ia bawa sepanjang penerbangan itu seperti sabuk tambahan — dan terbukti benar: besoknya lebih ringan. Minggu depannya lebih ringan lagi.
Rindu, karena lorong itu adalah rumahnya. Bersalah, karena kini ada seseorang yang menunggunya pulang dengan cara yang berbeda dari menunggu suami: dengan tangan kecil yang menempel di kaca pintu, dengan kata pertama yang diucapkannya justru di hari ketika ibunya sedang terbang. 'Ma,' kata Kira untuk pertama kalinya, dan Dimas merekamnya, dan Tiara menonton rekaman itu di kamar hotel layover dengan tawa dan tangis yang tidak bisa dipisahkan — menontonnya tujuh kali, dan menulis di buku catatannya: hari ini anakku memanggil untuk pertama kalinya, dan aku tidak ada di sana. Ini adalah harga pekerjaan ini yang tidak tercantum di kontrak mana pun. Tidak menyesal — tapi mencatat. Mencatat dengan jujur, supaya kelak Kira tahu bahwa ibunya tidak pernah pura-pura harga itu tidak ada.
Pengasuhan bergantian itu berjalan dengan sistem yang mereka bangun dengan teliti: jadwal Dimas dan jadwal Tiara disusun saling menutupi, dengan neneknya — ibu Tiara yang kini datang berkala dari kota kecil — sebagai cadangan yang membawa serta bau warung dan lagu-lagu lama. Dan Kira tumbuh di dalam sistem itu seperti tanaman di rumah kaca: dikelilingi jadwal, tapi juga dikelilingi cinta yang tidak pernah absen dua-duanya sekaligus.
Tapi rasa bersalah ibu terbang adalah rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar selesai — ia hanya berubah bentuk. Ada pagi ketika Kira menangis menahan pintu. Ada malam ketika ia pulang dan anaknya sudah tidur, dan ia duduk di samping ranjang kecil itu memandangi wajah yang tidur, menghitung jam yang hilang. Ada hari-hari ketika penumpang di lorong mengeluhkan hal-hal kecil dan ia harus menelan keinginan untuk berkata: kau tahu apa yang kukorbankan untuk menuang tehmu?
Bu Arum — psikolog yang masih ia temui berkala — memberinya kerangka yang menyelamatkannya: 'Rasa bersalah ibu bekerja itu bukan bukti bahwa kamu ibu yang buruk. Itu bukti bahwa kamu mencintai. Pertanyaannya bukan bagaimana menghilangkan rasa bersalahnya — pertanyaannya adalah: apa yang kamu ajarkan kepada anakmu dengan kepergianmu? Kalau jawabannya: bahwa perempuan boleh punya langitnya sendiri, bahwa bekerja itu bermartabat, bahwa pulang selalu pasti — maka kepergianmu adalah pelajaran, bukan luka. Anak tidak menghitung jam, Tiara. Anak menghitung kepastian.'
Dan Tiara menulisnya, dan menjalaninya, dan menemukan bahwa kalimat itu benar: Kira tidak menghitung jam. Kira menghitung kepastian — kepastian bahwa ibu yang pergi selalu pulang, selalu dengan pelukan yang sama, selalu dengan cerita tentang awan. Dan pada suatu malam, ketika ia pulang dan Kira berlari ke pintu dengan langkahnya yang masih goyah sambil berteriak 'Ma! Ma! Awan!', Tiara mengangkatnya dan berputar sekali di ruang tengah kecil itu, dan berpikir bahwa dua dunianya — langit dan rumah — akhirnya, setelah sekian tahun, berhenti bertengkar. Tidak seimbang sempurna; tidak akan pernah. Tapi berhenti bertengkar. Dan untuk seorang ibu yang bekerja di ketinggian tiga puluh ribu kaki, itu sudah merupakan pendaratan yang paling mulus.
Ada satu ritual kecil yang mereka ciptakan di musim itu, yang kemudian menjadi favorit Kira bertahun-tahun kemudian: setiap kali Tiara pulang, ia membawa satu benda kecil dari kota tujuan — bukan mainan mahal, hanya benda kecil: batu yang aneh bentuknya, gantungan kunci murah, kartu pos. Dan setiap benda itu ditempel atau disimpan di kotak khusus yang mereka beri nama 'kotak awan' — dan setiap penambahan benda disertai satu cerita, satu malam, satu kota. Kotak itu, tanpa mereka sadari, menjadi jawaban atas pertanyaan yang kelak akan ditanyakan Kira ketika besar: ibuku ke mana saja selama ini? Dan jawabannya akan dibuka bersama-sama, benda demi benda, cerita demi cerita — bukti bahwa setiap kepergian pulang membawa sesuatu, dan bahwa anak itu tidak pernah ditinggalkan, melainkan selalu dibawa serta dalam bentuk yang bisa dipegang tangan kecil.