Konflik besar pertama mereka tidak datang dari tawaran asing — ia datang dari arah yang lebih dekat dan lebih pelan: dari pertanyaan tentang anak.
Dimas mengangkatnya pertama kali dengan hati-hati seorang analis — dengan data, bahkan: usia, kesehatan, keuangan yang sudah lebih stabil. Tapi di bawah data itu, Tiara mendengar sesuatu yang lain, sesuatu yang akhirnya keluar pada malam yang kemudian mereka sebut musyawarah dua bantal — karena berlangsung di tempat tidur, dalam gelap, sebagaimana percakapan terpenting selalu berlangsung: Dimas ingin anak, dan Dimas tidak bisa membayangkan bagaimana anak itu dibesarkan oleh dua jadwal yang berputar, dan di bawah itu lagi — lebih dalam, lebih jujur — Dimas lelah menjadi satu-satunya yang menunggu.
'Aku tidak menyuruhmu berhenti,' katanya dalam gelap. 'Aku bersumpah aku tidak. Aku menikahimu dengan pasal itu, dan aku tidak mengkhianati pasal yang kutandatangani. Tapi aku ingin kita jujur tentang sesuatu yang selama ini kita hindari: kalau ada anak, seseorang harus mengubah orbitnya. Dan selama ini, di rumah tangga ini, yang menyesuaikan selalu aku. Cutiku mengikuti rotasimu. Lebaran kita mengikuti jadwalmu. Aku tidak menyesal — tapi aku ingin kau tahu bahwa penyesuaian itu ada harganya, dan aku membayarnya dengan senang hati, dan aku butuh kau melihatnya.'
Tiara berbaring dalam gelap dengan mata terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jawab dengan logika: karena Dimas benar. Seluruh sistem rumah tangga mereka — dua kalender, laporan cuaca, hari pertama pulang — dibangun di atas keluwesan satu pihak. Dan keluwesan yang tidak diakui, ia tahu dari pekerjaannya, akan menjadi keretakan yang tidak terlihat sampai hari ia patah.
'Kau benar,' katanya akhirnya, dalam gelap, dan kata-kata itu keluar dengan susah. 'Dan aku tidak punya jawaban malam ini. Yang kupunya hanya ini: aku mendengar. Bukan mendengar untuk menjawab — mendengar untuk mengerti. Ada bedanya, dan kau tahu bedanya. Beri aku waktu untuk membaca cuaca ini. Ini bukan turbulensi ringan, Dimas. Ini keputusan ketinggian jelajah.'
Mereka tidak menyelesaikannya malam itu — dan justru karena tidak menyelesaikannya, mereka membuktikan bahwa pernikahan mereka bekerja. Tidak ada yang tidur dengan membelakangi. Tidak ada yang memenangkan. Dua bantal itu berbagi satu pertanyaan yang belum terjawab, dan di antara mereka, dalam gelap, ada genggaman tangan yang tidak dilepas sepanjang malam — karena mereka sudah belajar bahwa pertanyaan boleh menggantung, asal tangan tidak.
Musyawarah itu berlanjut berminggu-minggu, dalam potongan-potongan kecil: di sela makan, di mobil, di laporan cuaca malam yang mulai membawa nada-nada baru. Dan pelan-pelan, dari potongan-potongan itu, sebuah bentuk jawaban mulai terlihat — bukan jawaban yang memenangkan salah satu, melainkan jawaban yang dibangun berdua: Tiara akan mencari jalan untuk terbang lebih sedikit tanpa berhenti, dan Dimas akan berhenti menghitung penyesuaiannya sebagai utang yang tidak diakui. Keduanya mahal. Keduanya adil. Dan keduanya baru mungkin karena musyawarah itu diadakan sebelum keretakan menjadi patah — di tempat tidur, dalam gelap, dengan tangan yang tidak dilepas.
Ada satu malam dalam musyawarah panjang itu yang kemudian mereka sepakati sebagai malam yang menentukan — malam ketika Dimas akhirnya menceritakan hal yang tidak pernah ia ceritakan, hal yang berdiri di belakang semua keraguannya tentang anak dan jadwal. Ayahnya, ternyata, adalah orang yang selalu pergi: bekerja di kapal, berbulan-bulan di laut, pulang dengan oleh-oleh dan pergi dengan janji. 'Aku dibesarkan oleh jendela,' kata Dimas dalam gelap. 'Ibu bilang ayah bekerja untuk kami, dan itu benar, dan itu tidak mengubah apa pun: aku tetap makan malam menghadap kursi kosong. Aku tidak membencinya. Tapi aku bersumpah, sejak kecil, bahwa anakku tidak akan mengenal ayahnya dari jendela.' Ia berhenti, dan suaranya berubah arah. 'Dan sekarang aku melihat rumah kita, dan aku menghitung jam kita, dan aku takut, Tiara. Bukan takut kamu pergi — takut bahwa aku diam-diam sedang membangun jendela yang sama, hanya dengan arah yang berbalik.' Tiara mendengarkannya sampai habis, dan dalam gelap itu ia mengerti bahwa perdebatan mereka selama ini bukan tentang jadwal — melainkan tentang dua anak yang dulu sama-sama makan menghadap kursi yang tidak utuh: anak yang bapaknya sakit, dan anak yang bapaknya berlayar. 'Kalau begitu kita tulis aturannya sekarang,' katanya akhirnya, 'sebelum ada anak yang membaca pola kita: di rumah ini, tidak boleh ada orang tua yang hanya ada di jendela. Kalau pekerjaan memaksa salah satu dari kita menjadi foto, salah satu harus mengubah orbitnya. Bukan karena kalah — karena kursi makan anak kita tidak boleh kosong.' Dan malam itu, untuk pertama kalinya, musyawarah mereka punya dasar yang tidak bisa diganggu gugat: bukan siapa yang menang, melainkan kursi mana yang tidak boleh kosong.
Setelah malam itu, sesuatu di rumah mereka berubah dengan cara yang halus — bukan aturan baru, melainkan bahasa baru. Dimas berhenti mengatakan 'aku mengalah' dan mulai mengatakan 'aku memilih bagian ini'; Tiara berhenti mengatakan 'maaf aku pergi lagi' dan mulai mengatakan 'aku pulang tanggal ini, dan tanggal itu milik kita'. Kata-kata, mereka berdua belajar, adalah perabot rumah tangga: tersusun salah, seluruh ruangan terasa sempit; tersusun benar, ruangan yang sama terasa lapang. Dan pada laporan cuaca suatu malam, Dimas menulis satu kalimat yang oleh Tiara disimpan sebagai penanda bahwa musyawarah itu telah selesai dengan benar: 'Cerah. Tidak ada lagi yang dihitung dengan timbangan. Kita sekarang menghitung dengan kalender — dan kalender itu milik berdua, bukan milik salah satu.' Tiara membacanya, dan membalasnya dengan satu kalimat yang tidak kalah penting: 'Cerah juga. Dan untuk catatan: terima kasih sudah tidak berhenti berunding sebelum fajar. Itu yang menyelamatkan kita — bukan jawabannya, melainkan kerelaannya untuk terus bicara sampai ketemu.'