Perwakilan perusahaan datang ke Pendar pada Jumat siang. Tara menghadiri pertemuan melalui video dari Surabaya, sedangkan Rendra dan Lusi duduk bersama Bima di ruang belakang. Mereka telah meminta notaris ikut mendampingi.
Perwakilan itu, Pak Fajar, menjelaskan rencana pembangunan dan kebutuhan pengosongan. Ia mengakui kontrak sewa Bima ada dan mengatakan perusahaan dapat menerima kafe tetap beroperasi sampai akhir tahun, tetapi ingin mendapat akses untuk survei bangunan pada hari tertentu.
Bima bertanya bagaimana survei akan dilakukan agar tidak mengganggu pelanggan atau membahayakan staf. Pak Fajar menawarkan jadwal di luar jam buka dengan pemberitahuan dua hari sebelumnya. Bima meminta pemberitahuan satu minggu dan daftar area yang akan diperiksa.
“Bangunan masih digunakan. Kami perlu memastikan kegiatan tidak mengganggu pekerjaan,” katanya.
Pak Fajar menerima permintaan itu. Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan belum bisa memberikan harga bersih final sebelum survei selesai. Rendra meminta mereka tidak menafsirkan angka awal sebagai nilai yang sudah disepakati.
Tara bertanya apakah penawaran akan tetap berlaku jika survei menemukan perbaikan yang perlu dilakukan. Pak Fajar mengatakan mereka akan memperbarui angka sesuai hasil pemeriksaan.
Notaris mencatat setiap jawaban. Tidak ada yang menandatangani dokumen dalam pertemuan itu.
Setelah Pak Fajar pergi, Lusi merasa tawaran tersebut masih layak dipertimbangkan. Rendra sepakat, tetapi ia ingin tahu apakah perusahaan akan memberi kompensasi untuk mengakhiri sewa lebih awal jika proyek memerlukan akses sebelum akhir tahun.
Bima menyampaikan bahwa kafe dapat tetap berjalan sampai akhir kontrak, tetapi ia tidak akan memindahkan usaha dalam waktu singkat tanpa biaya dan persiapan. Ia meminta agar apa pun yang dibicarakan mencakup hak staf dan nilai barang usaha.
Tara setuju. Ia mengingatkan bahwa para ahli waris perlu memisahkan harga bangunan dari biaya relokasi kafe. Tidak adil memasukkan semuanya dalam angka yang sama tanpa menjelaskan siapa menerima apa.
Mereka meminta Pak Fajar menyiapkan dua skenario tertulis: penjualan dengan kontrak sewa dihormati hingga akhir tahun, dan penjualan dengan pengakhiran lebih awal disertai kompensasi yang jelas. Mereka juga meminta waktu minimal enam minggu untuk pemindahan jika skenario kedua dipilih.
Bima kembali membuka kafe setelah rapat. Ia tidak mengubah jam atau menu. Riko bertanya apakah ada kabar tentang pekerjaan mereka.
“Belum ada keputusan,” jawab Bima. “Kalau ada perubahan, kalian akan diberi tahu sebelum jadwal berubah.”
Tara mengirim pesan yang sama kepada staf, menambahkan bahwa jadwal mereka tetap berlaku. Ia merasa lega tidak perlu menutup ketidakpastian dengan janji palsu.
Malamnya, Bima dan Tara berbicara sebentar. Bima mengaku ia tidak ingin kehilangan Pendar, tetapi juga tidak ingin berusaha mempertahankan bangunan dengan biaya yang akan menghabiskan semua tenaga.
“Kalau dijual dengan waktu yang layak, aku bisa mencari tempat lain,” katanya. “Aku ingin pilihan itu tetap terbuka.”
Tara mendengar tanpa meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka belum tahu apa hasilnya. Untuk sekarang, kafe tetap buka besok.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menimbang kontrak, pekerjaan baru, dan kemungkinan pindah tanpa mengorbankan staf. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Pertemuan dengan Pembeli", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.