Galih mengirim undangan digital untuk pameran akhir program magangnya. Ia akan mempresentasikan rancangan bangku modular yang dibuat dari kayu bekas bangunan. Tara melihat tanggalnya dan sadar pameran itu berlangsung sehari sebelum evaluasi usaha Pendar.
Ia tidak langsung menjawab. Ia memeriksa jadwal proyek kantor, tiket perjalanan, dan rapat keluarga. Ia bisa datang ke Bandung, tetapi harus mengatur agar laporan kafe dikirim lebih awal dan rapat evaluasi dilakukan daring.
Tara meminta pendapat Bima tentang perubahan jadwal. Bima mengatakan rapat bisa dilakukan lewat video, asalkan laporan disiapkan sehari sebelumnya. Ia tidak ingin Tara merasa harus memilih salah satu urusan tanpa mencoba menyusun waktu.
Tara mengatur tiket dan memberi tahu kantor bahwa ia akan bekerja jarak jauh pada hari Senin. Ia juga menjelaskan kepada Rendra dan Lusi bahwa evaluasi akan berlangsung dari Bandung. Mereka setuju.
Pameran Galih ramai tetapi tidak terlalu besar. Ia menjelaskan desain bangku yang dapat diperbaiki tanpa alat khusus. Tara menyukai gagasan itu, tetapi bertanya apakah sambungannya aman untuk penggunaan umum. Galih menunjukkan hasil uji dan batas berat yang dicantumkan.
“Dulu aku mungkin akan bertanya apakah bangkunya terlihat bagus,” kata Tara.
“Sekarang kau bertanya apakah orang bisa duduk dengan aman.”
“Banyak hal yang berubah.”
Mereka berjalan melihat karya lain, lalu makan malam setelah acara. Galih mengaku ia mendapat tawaran pekerjaan tetap di studio Bandung. Ia belum tahu apakah akan menerimanya, karena ada kemungkinan bekerja di kota lain setelah program selesai.
Tara tidak meminta keputusan segera. Ia mengatakan hubungan mereka terasa baik, tetapi jarak dan jadwal membuat mereka perlu sering memeriksa apakah keduanya masih nyaman.
“Aku tidak ingin kita terus bersama hanya karena sudah mulai,” kata Galih.
“Aku juga. Kita bisa menjalani ini sambil tetap boleh berubah pikiran.”
Mereka sepakat tetap mencoba hubungan jarak jauh selama tiga bulan, lalu membicarakan kembali. Mereka tidak menyebutnya sebagai janji seumur hidup. Mereka hanya memilih memberi kesempatan dengan batas waktu untuk mengevaluasi.
Keesokan pagi, Tara mengikuti rapat usaha dari ruang hotel. Bima memaparkan laporan: pesanan kantor berjalan lancar, pengeluaran bahan terkendali, dan satu staf meminta penyesuaian jadwal kuliah. Tara bertanya apakah perjanjian pesanan perlu diperbarui sebelum masa tiga bulan berakhir.
Mereka memutuskan menunggu dua minggu lagi, lalu membahasnya bersama pelanggan kantor. Rendra dan Lusi menyetujui laporan serta dana perawatan.
Setelah rapat, Tara merasa lega. Ia menghadiri pameran Galih tanpa meninggalkan keputusan mendesak, dan tetap hadir untuk urusan Pendar tanpa harus berada di toko secara fisik.
Kereta pulangnya berangkat sore. Ia membawa katalog kecil pameran dan catatan rapat kafe di tas yang sama. Dua bagian hidupnya tidak harus saling menghapus. Yang penting, ia mengakui batas waktu dan memberi tahu orang-orang yang terdampak.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menimbang kontrak, pekerjaan baru, dan kemungkinan pindah tanpa mengorbankan staf. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Undangan dari Kampus", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.