Tara berangkat ke Bandung pada Sabtu pagi setelah menyelesaikan pekerjaan. Galih menjemputnya di stasiun dan membawanya ke studio tempat ia magang. Ia memperkenalkan Tara kepada dua rekan kerja, lalu menunjukkan ruang produksi yang dipenuhi contoh kursi dan meja.
Galih tampak lebih percaya diri daripada saat pertama tiba. Ia menjelaskan bagian desain yang sedang ia kerjakan dan bagaimana ia membagi tugas dengan pembimbing. Tara melihat ia berani mengatakan jika satu tenggat tidak masuk akal.
“Sepertinya kau belajar menyampaikan batas,” kata Tara.
“Tidak sempurna. Tapi aku tidak lagi menganggap semua permintaan harus langsung kujawab iya.”
Mereka makan siang di warung dekat studio. Tara bercerita tentang proyek kantornya, tentang Pendar yang mulai stabil, dan tentang keputusan bahwa ia tidak akan kembali menjadi pengelola harian.
“Apa kau merasa kehilangan sesuatu?” tanya Galih.
“Sedikit. Tapi aku juga merasa lega. Dulu aku mengira kalau tidak tinggal di sana, berarti aku tidak peduli. Sekarang aku tahu bisa tetap terlibat dengan cara lain.”
Galih mengangguk. Ia tidak mencoba menghubungkan semua perubahan Tara dengan dirinya. Mereka berbicara tentang bagaimana menjaga hubungan selama tinggal di kota berbeda. Mereka sepakat mengatur kunjungan bergantian jika memungkinkan, dan membicarakan ulang jika salah satu merasa hubungan itu menjadi beban.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan berhasil. Ada ketertarikan dan kemauan mencoba, cukup untuk saat ini.
Minggu pagi, mereka berjalan di taman kota dan membeli kopi dari gerobak kecil. Galih mengajak Tara melihat pameran desain lokal. Mereka tidak membahas Pendar sampai sore, ketika Tara menerima laporan dari Bima bahwa satu pelanggan meminta pengembalian uang karena pesanan minuman salah.
Bima sudah mengganti pesanan dan mencatat penyebabnya: label dua sirup mirip. Ia mengubah penyimpanan dan memberi tahu staf. Tara membalas bahwa penyelesaiannya tepat.
Galih melihat Tara mengirim pesan. “Kau tidak perlu merasa bersalah karena sedang di sini.”
“Aku tidak merasa begitu. Aku hanya ingin tahu usaha tetap berjalan.”
“Bagus. Itu beda.”
Tara menyimpan ponsel dan kembali menatap pameran. Ia tidak harus memutus perhatian menjadi dua bagian yang saling berebut. Ia bisa bekerja, menjalin hubungan, dan menjadi pemilik usaha kecil tanpa menganggap salah satu membatalkan yang lain.
Saat mengantar Tara ke stasiun, Galih bertanya kapan mereka bisa bertemu lagi. Mereka memilih akhir pekan tiga minggu kemudian, jika jadwal kerja tetap seperti sekarang.
Dalam kereta pulang, Tara membaca laporan Pendar sekali lagi. Masalah pesanan telah selesai, jadwal staf aman, dan penjualan stabil. Ia menutup ponsel dan beristirahat.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menimbang kontrak, pekerjaan baru, dan kemungkinan pindah tanpa mengorbankan staf. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Kunjungan ke Bandung", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.