Di Surabaya, Tara memindahkan kardus terakhir ke lemari apartemen. Di dasar kardus, ia menemukan buku catatan lama milik Mira yang belum pernah dibuka sejak pemakaman. Sampulnya bergambar bunga pudar. Tara semula mengira isinya resep, tetapi halaman pertama berisi daftar pembelian dan jadwal kerja kafe dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia membaca beberapa halaman. Catatan Mira jauh lebih singkat daripada laporan Tara. Ada nama pemasok, jumlah kopi, hari libur Bima, serta beberapa baris tentang pelanggan yang meminjam buku lalu mengembalikannya. Tidak ada pesan rahasia atau petunjuk tentang keputusan bangunan.
Satu halaman mencatat bahwa Bima meminta libur karena ibunya menjalani operasi. Mira menulis: “Atur jadwal ulang. Jangan suruh dia memilih antara kerja dan keluarga.”
Tara memotret halaman itu dan mengirimnya kepada Bima, bertanya apakah ia sudah pernah melihat buku tersebut. Bima menjawab bahwa ia tahu Mira selalu punya buku catatan, tetapi tidak pernah membaca semuanya.
“Kalimat itu memang seperti beliau,” tulisnya.
Tara membawa buku tersebut ke kafe pada akhir pekan. Ia tidak menyerahkannya sebagai kewajiban untuk dibaca. Ia meletakkannya di rak dokumen lama, dengan catatan bahwa itu milik keluarga dan tidak digunakan untuk operasional.
Bima membuka beberapa halaman saat istirahat. Ia menemukan daftar menu yang sudah lama tidak dibuat dan catatan bahwa Mira menyukai teh serai tanpa gula. Ia tersenyum melihat tulisan tangan itu.
“Kau ingin mencoba resepnya?” tanya Tara.
“Boleh. Tapi kita uji kecil dulu dan hitung bahan.”
Mereka membuat satu teko. Rasanya ringan dan sedikit asam. Bima menambahkan sedikit madu pada cangkirnya sendiri, sedangkan Tara menyukai versi tanpa pemanis.
Mereka tidak langsung memasukkannya ke menu. Bima menulis takaran, lalu meminta dua staf mencicipi. Ayu menyukai aroma serai; Riko merasa rasanya terlalu tipis. Mereka menyepakati satu percobaan lagi sebelum memutuskan.
Buku Mira menjadi bagian dari arsip, bukan kitab aturan yang harus ditiru. Tara menyadari ia sering mencari jawaban dari masa lalu seolah bibinya pasti sudah tahu pilihan terbaik. Padahal Mira juga membuat keputusan berdasarkan hari yang ia hadapi.
Sore itu, Tara dan Bima berjalan ke pasar untuk membeli serai. Mereka membicarakan pekerjaan baru Tara di Surabaya dan bagaimana ia mulai merasa betah. Ia tidak merasa bersalah karena menyukai kehidupan di luar Pendar.
“Bibi tidak pernah bilang aku harus tinggal,” katanya.
“Beliau juga tidak bilang kafe harus sama selamanya.”
Mereka kembali membawa bahan. Bima menyimpan buku resep uji coba bersama catatan menu, sementara buku lama tetap di rak arsip.
Tara akan kembali ke Surabaya esok hari. Ia meninggalkan Pendar dengan satu hal yang terasa ringan: masa lalu boleh menjadi teman bicara, tetapi tidak harus memutuskan masa depan.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menimbang kontrak, pekerjaan baru, dan kemungkinan pindah tanpa mengorbankan staf. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Buku yang Tidak Dibuka", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.