Minggu pertama Tara kembali bekerja di Surabaya terasa padat. Proyek barunya dimulai dengan rapat, pelatihan, dan tumpukan dokumen yang tidak menunggu ia menyesuaikan diri. Ia tinggal di apartemen yang lebih dekat dengan kantor, tetapi belum membeli banyak barang. Sebagian hidupnya masih berada dalam kardus.
Setiap Rabu malam, Bima mengirim laporan mingguan dari Pendar. Laporan pertama memuat pemasukan, jam kerja, pembelian bahan, dan keluhan pelanggan. Ia juga mencatat satu lampu depan yang berkedip dan meminta persetujuan untuk menggantinya.
Tara membalas dengan menyetujui pembelian sampai batas yang ditetapkan, lalu meminta kuitansi. Ia tidak menanyakan hal lain karena laporan sudah menjawab pertanyaan yang biasa ia ajukan.
Di kantor, seorang rekan bertanya apakah Tara akan bolak-balik ke Pendar setiap akhir pekan. Ia mengatakan belum tentu. Ia akan datang jika ada rapat pemilik atau pemeriksaan yang dijadwalkan, tetapi Bima adalah pengelola dan tidak membutuhkan Tara berdiri di belakang mesin kopi.
Jawaban itu terdengar sederhana, namun ia perlu mengulanginya kepada dirinya sendiri. Memercayai orang lain berarti membiarkan mereka mengambil keputusan tanpa terus-menerus meminta pembuktian.
Jumat malam, Galih mengirim pesan dari Bandung. Ia sudah memulai magang dan tinggal di kamar kecil dekat studio. Tara membalas dengan foto tanaman kecil yang kini berada di apartemennya. Mereka berbicara singkat tentang pekerjaan dan cuaca. Tidak ada kewajiban untuk saling mengabari setiap jam.
Minggu sore, Tara menelepon Bima. Mereka membicarakan satu masalah: pelanggan mengeluh karena menu roti panggang tidak tersedia saat alat pemanggang diperbaiki. Bima telah memberi tahu pelanggan bahwa menu sementara dihentikan. Ia bertanya apakah boleh membeli alat pengganti yang lebih kecil.
Tara meminta tiga penawaran dan memastikan dana perawatan cukup. Bima mengirim rincian keesokan hari. Mereka sepakat membeli alat sederhana dengan garansi, bukan model mahal yang tidak dibutuhkan.
“Kalau kau ada di sini, mungkin kita sudah membahasnya lebih lama,” kata Bima saat menutup telepon.
“Mungkin. Tapi keputusanmu sudah lengkap.”
“Aku perlu membiasakan diri.”
“Begitu juga aku.”
Minggu kedua, Tara datang pada hari Sabtu untuk rapat pemilik dan melihat keadaan bangunan. Ia tidak memberi kejutan kepada staf; ia memberi tahu Bima sehari sebelumnya dan datang di luar jam ramai. Kafe berjalan baik, meskipun jumlah pelanggan tidak sebanyak bulan sebelumnya.
Riko menyapanya dan bercerita bahwa jadwal kuliahnya berubah. Bima sudah menyesuaikan shift setelah mendapat persetujuan Riko. Tara memuji cara mereka menyelesaikannya tanpa membuat orang kehilangan jam kerja mendadak.
Ia duduk sebentar di kursi dekat jendela, memesan teh, lalu kembali ke Surabaya sebelum malam. Pendar tetap terasa akrab, tetapi ia tidak lagi merasa harus tinggal di sana untuk membuktikan bahwa ia peduli.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menguji kerja sama warga dan memisahkan kebutuhan usaha dari keinginan untuk menyenangkan semua orang. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Kota yang Berbeda", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.