Tara meminta satu hari tanpa jadwal pelayanan untuk menyelesaikan tiga hal yang terus ia tunda: laporan penjualan, jawaban kepada kantornya, dan pembicaraan dengan Bima mengenai pembagian tanggung jawab. Ia menulis ketiganya di secarik kertas lalu menaruhnya di meja dekat jendela.
Bima datang membawa dua bungkus nasi. “Kalau kau menulis ‘makan siang’ di sana, aku tidak akan menganggapnya lelucon.”
Tara menambahkan satu baris. Mereka makan sebelum membuka laptop. Setelah itu, mereka memeriksa laporan selama tiga bulan terakhir: penjualan harian, biaya bahan, upah, sewa yang masih harus dibayar, dan pemasukan acara.
Kafe belum menghasilkan laba yang cukup untuk membiayai perbaikan besar. Namun, setelah jam buka disesuaikan dan satu menu yang jarang laku dihentikan, kerugian bulanan mengecil. Hari biasa memberi pemasukan lebih rendah, tetapi biaya dan tenaga juga turun. Acara warga menguntungkan jika pesertanya cukup dan bahan tidak dibeli berlebihan.
“Jadi kita tidak bisa mengandalkan lokakarya,” kata Tara.
“Tidak perlu. Itu tambahan, bukan tulang punggung.”
Mereka membuat perkiraan untuk tiga bulan berikutnya dengan angka konservatif. Jika penjualan bertahan pada tingkat sekarang, kafe bisa membayar biaya rutin dan upah Bima serta Riko, tetapi hampir tidak menyisakan dana untuk memperbaiki atap. Mereka perlu pemasukan baru atau perjanjian bangunan yang memberi waktu.
Tara menghubungi Ibu Ratih dari perusahaan pengembang dan menanyakan apakah tenggat penawaran dapat diperpanjang sampai keluarga menerima laporan akhir masa percobaan. Ratih menjawab bahwa ia akan membicarakannya dengan tim. Tara tidak berasumsi jawabannya pasti ya.
Siang itu, ia dan Bima menyusun deskripsi pekerjaan Bima. Ia akan mengurus operasi harian, jadwal staf, dan stok, tetapi tidak bertanggung jawab atas keputusan pemilik bangunan atau utang keluarga. Jam kerjanya dibatasi, dengan satu hari libur penuh setiap minggu. Upahnya naik jika kafe mencapai target yang disepakati, bukan menggantikan upah pokok.
Bima membaca dokumen itu dengan teliti. Ia meminta tambahan bahwa pembelian di atas jumlah tertentu harus mendapat persetujuan Tara atau para ahli waris. Tara memasukkannya.
“Ini terasa resmi,” katanya.
“Memang seharusnya resmi. Kita teman kerja, bukan keluarga yang bisa saling menebak.”
Tara tersenyum. Ia menyadari kebiasaan bibinya mengandalkan kepercayaan kadang membuat orang dekat menanggung hal-hal yang tidak dibicarakan. Mereka ingin menjaga kehangatan tempat itu tanpa mengulang cara kerja yang kabur.
Menjelang sore, Tara menulis surel kepada atasannya. Ia meminta izin bekerja jarak jauh selama dua hari per minggu untuk satu bulan, sementara ia menyelesaikan urusan warisan. Ia tidak meminta perubahan permanen dan tidak menyembunyikan bahwa keputusan itu sementara.
Balasan tidak datang hari itu. Tara menyimpan laporan, lalu merapikan meja. Kertas kecil yang memuat tiga tugas kini berisi tanda centang pada dua baris. Yang terakhir, jawaban kepada kantor, masih menunggu.
Saat hendak pulang, Bima bertanya apakah ia takut kembali ke rutinitas lamanya.
“Aku takut kehilangan pekerjaan yang sudah kubangun. Aku juga takut bertahan di sini hanya karena belum berani pergi.”
“Dua ketakutan itu bisa sama-sama benar.”
Tara mematikan lampu. “Mungkin besok aku bisa menghitung bagian yang bukan rasa takut.”
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk menguji kerja sama warga dan memisahkan kebutuhan usaha dari keinginan untuk menyenangkan semua orang. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Hari untuk Menghitung", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.