Perwakilan pengembang datang ke Pendar pada hari Selasa. Namanya Ibu Ratih, dan ia membawa penawaran yang sudah diperbarui setelah laporan Bu Ratri. Ia menjelaskan bahwa perusahaan tertarik pada lokasi tersebut untuk proyek deretan toko, tetapi bersedia menunggu sampai akhir bulan sebelum membutuhkan jawaban.
Tara mengundang notaris untuk hadir. Ia juga meminta Bima duduk bersama, sebab keputusan itu akan berdampak pada pekerjaannya. Ibu Ratih menerima kehadiran mereka tanpa keberatan.
Mereka membahas harga bersih, biaya pemindahan, dan jadwal pembayaran. Tara bertanya apakah perusahaan bersedia memberi waktu lebih lama untuk mengosongkan ruang belakang yang menyimpan dokumen lama dan barang milik bibinya. Ibu Ratih mengatakan mereka bisa mempertimbangkan tambahan dua minggu, asalkan tanggalnya masuk dalam perjanjian.
“Apakah ada biaya jika kami memutuskan tidak menjual?” tanya Tara.
“Tidak. Penawaran ini tidak mengikat sebelum kontrak ditandatangani.”
Tara meminta hal itu dicantumkan dalam surat tindak lanjut. Ibu Ratih menyetujuinya. Mereka tidak membicarakan kenangan atau meminta Tara merasa bersalah. Mereka hanya membahas syarat bisnis, dan justru itu membuat percakapan terasa lebih mudah.
Setelah pertemuan, Bima bertanya bagaimana perasaannya.
“Lebih tenang daripada yang kukira.”
“Karena kau mau menjual?”
“Karena aku tahu apa yang ditawarkan. Itu belum sama dengan tahu apa yang akan kupilih.”
Mereka duduk di meja dekat jendela. Di luar, Galih sedang mengantar papan rak yang sudah diamplas. Ia masuk untuk menaruhnya di ruang belakang dan menyapa Bima. Tidak ada yang buru-buru bertanya tentang hubungan Tara dan Galih. Mereka memberi ruang agar hal itu tumbuh atau berhenti tanpa dijadikan bahan keputusan usaha.
Sore itu Tara mengundang semua orang yang terlibat dalam tiga bulan percobaan: Bima, Sari, Pak Darto, Galih, dan Riko. Ia membagikan ringkasan keuangan, biaya perbaikan, serta opsi gudang. Ia tidak meminta mereka memilih untuknya. Ia ingin mendengar hal-hal yang mungkin luput dari perhitungannya.
Bima berkata ia bersedia lanjut jika jam dan tanggung jawabnya disepakati serta ada pekerja paruh waktu. Sari bisa tetap menitipkan tanaman di mana pun, tetapi tidak sanggup mengelola kegiatan mingguan. Pak Darto menilai bangunan Pendar masih layak diperbaiki, meski ia tidak menjanjikan biayanya ringan. Galih berpendapat gudang dapat berfungsi, tetapi perlu penyesuaian dan tidak cocok untuk semua program.
Riko tidak banyak bicara. Ketika ditanya, ia berkata ia bisa bekerja di salah satu lokasi selama jadwalnya cukup pasti.
Tara berterima kasih kepada mereka. Setelah rapat, ia tinggal sendiri untuk menutup kas. Angka bulan itu menunjukkan perbaikan kecil, tetapi tidak cukup untuk menutup semua biaya pemeliharaan jika ia tidak menambah modal.
Ia menghubungi keluarganya dan meminta satu hari untuk membahas hak kepemilikan serta pembagian hasil. Tidak ada yang menolak. Ia menulis tanggal pertemuan di kalender, lalu mengirim pesan kepada Ibu Ratih bahwa jawaban akan diberikan sebelum tenggat.
Saat pintu kaca dikunci, Tara memandang tiga kolom di dinding. Kertasnya sudah penuh catatan, coretan, dan beberapa angka yang diperbarui. Tidak ada kolom yang bersih dari masalah.
Ia mematikan lampu ruang depan. Tanaman Sari tampak seperti bayangan kecil di dekat jendela. Besok mereka akan membuka kafe lagi, dan ia akan melayani pelanggan seperti biasa. Keputusan besar masih menunggu, tetapi kali ini ia tidak merasa harus membuatnya sendirian atau berpura-pura bahwa ia tahu hasil akhirnya.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk membuka kembali Pendar sambil menghitung biaya dan tidak menganggap bantuan sebagai utang budi. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Pertemuan di Pintu Kaca", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.