Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Lusiadeliaputripertiwi 01
Aku benci hujan. Soalnya tiap hujan, WiFi kos pasti mati. Dan kalau WiFi mati, artinya aku gak bisa nugas. Dan kalau gak nugas, artinya IPK-ku ikut hanyut sama selokan depan.Jadi waktu hujan deras sore itu, aku lari ke caffe shop paling deket: “manola”. Namanya norak, tapi tempatnya hangat.“Pesen apa, Kak?” Baristanya cewek, rambut dikuncir berantakan, name tag-nya kebalik. Tulisan ‘Raisa’ jadi ‘Asiar’. Aku ketawa.“butterschoot, yang gak bikin gagal ginjal.” Dia noleh, alisnya naik. “Takut banget gagal, Kak? Santai. Hidup bukan skripsi.”Seketika aku diem. Galak juga.Sejak itu, tiap hujan aku ke sana. Bukan karena WiFi. Kos udah pasang router baru. Tapi karena Raisa selalu nyodorin kopi duluan sebelum aku pesen, plus kertas kecil isinya 1 kalimat random._“Hari ini boleh ngeluh 5 menit, habis itu senyum lagi ya.”_ _“Kamu udah hebat karena masih bangun pagi.”_ _“IPK gak akan nanya kabarmu, tapi aku iya. Gimana hari ini?”_Lama-lama aku kumpulin kertasnya. Udah 37 lembar.Hari ke-38, hujan paling deras. Kedai sepi. Tinggal aku. Raisa lagi lap meja, mukanya pucat. “Kok gak nulis hari ini?” tanyaku. Dia naruh kopi tanpa kertas. “Gak ada kata-kata. Capek.”Aku bingung. Ternyata selama ini dia yang butuh disemangatin. Besoknya aku dateng gak pesen kopi. Cuma naro kertas kecil di mejanya sebelum pulang:_“Giliran aku yang bilang: Kamu udah hebat karena masih racik kopi sambil nahan nangis.”_Besoknya lagi, di cangkirku ada 2 kertas. Satu dari dia: _“Makasih udah dateng walau gak hujan.”_ Satu lagi kosong. Pulpennya dia selipin di samping.Aku ngerti maksudnya. Kutulis: _“Besok aku ajarin kamu cara ketawa yang gak ditahan, mau?”_Setahun kemudian, name tag-nya udah gak kebalik. Tapi tetep ‘Raisa’. Bedanya, sekarang dia naro 2 cangkir tiap sore. Satu buat pelanggan, satu buat suaminya. AkuDan di dinding caffeshop "manola”, ada 200 lebih kertas kecil dibingkai. Judulnya: _“Alasan Kita Bertahan”_. Yang nomor 1: _“Hidup bukan skripsi.”_ Yang nomor 200: _“Tapi kalau sama kamu, aku mau revisian seumur hidup.”_Hujan masih bikin aku kesel. Tapi sekarang, tiap rintiknya jatuh, aku malah senyum. Soalnya aku tau, ada yang nunggu di “Temu” dengan kopi pahit dan janji yang selalu manis.ic_default
Karena kamu suka Komedi · Dokter & Kampus, mungkin kamu suka ini juga:
Fantasi · Komedi