Amara memandangi pantulan dirinya pada cermin rias. Terlihat wajah Amara yang babak belur dengan lebam membiru di sekitar mata kanan.
“Sialan,” desis Amara mengetahui luka yang ditinggalkan oleh Wira semakin banyak.
Embusan napas kasar keluar dari bibirnya yang sobek. Sejak kembali dari rumah sakit dan membuat laporan tentang tindak penyerangan yang ia lakukan, Wira jadi semakin membabi buta. Laki-laki itu secara paksa membawa Amara untuk tinggal di rumahnya dan mengurung Amara di sana.
“Aku harus membunuhnya nanti,” sambung Amara dengan suara kecil, mirip bisikan halus yang tak dapat didengar oleh siapapun.
Mansion yang kini menjadi hunian Amara terasa bagai neraka yang menyiksa. Setiap kali Amara berusaha untuk melarikan diri, Wira selalu tahu caranya untuk menahan Amara.
Setiap ka