Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya media massa mengangkat berita pembobolan apartemen Amara. Entah siapa yang memulai duluan, akan tetapi isu hangat itu dengan cepat mendominasi portal berita daring. Secara tidak langsung masalah yang menimpa Amara berhasil mengubur sisa-sisa artikel yang mengungkit mengenai skandal perselingkuhan antara Reza dengan dirinya.
Terdapat seseorang yang diduga sebagai pelaku dari tindakan kriminal tersebut. Katanya, ia seorang lelaki berusia lima puluh tahun. Katanya, lelaki itu sudah lama terobsesi dengan Amara.
Reza membaca headline berita tersebut di ponselnya. Kondisi penthouse yang sepi membuatnya bisa berpikir dengan jernih.
Apabila betul lelaki berusia setengah abad itu terobesi pada Amara maka, kemungkinan pembobolan kemarin akan dianggap sebagai masalah stalking seorang fans yang terlalu mencintai idolanya.
Titik terang sudah berada di depan mata. Hanya saja, entah mengapa Reza merasa belum yakin. Masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
Bersamaan dengan itu pula, Reza mendapati Amara yang menghubunginya melalui sambungan suara. Sejak kasus pembobolan di apartemennya, Amara memang jadi lebih rutin menghubungi Reza.
Alasannya tentu karena Amara tidak memiliki tempat berkeluh kesah karena perempuan itu tak kunjung berbaikan dengan Wira.
“Za … kamu sudah lihat berita?” tanya Amara tanpa perlu berbasa-basi.
Reza menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur. Tindakan tersebut membuat otot-otot punggungnya melemas. Seharian ini Reza dibuat sibuk. Bukan hanya karena masalah pekerjaan, namun juga masalah Salini.
Demi menebus kesalahannya, Reza langsung meminta Dinni untuk mencarikan seseorang yang bersedia menjual gedungnya di kawasan Setiabudi. Dengan begitu, Reza berharap perang dingin antara dirinya dan Salini dapat segera mereda.
Beruntungnya, Reza telah menemukan calon penjual. Reza hanya perlu melakukan survei besok, melalui transaksi, dan semuanya selesai.
“Ah, ya sudah. Kamu mengatakan semuanya kepada polisi?”
“Sudah ….” Terdapat jeda sebentar sebelum akhirnya Amara melanjutkan ucapannya, “Kecuali, soal tape recorder itu. Aku sudah meminta pemilik gedung untuk menunjukan rekaman cctv mulai dari lobi, basement, sampai lorong. Dan, yah … orang itu ada di sana. Terlihat menunggu.”
Reza melirik laci mejanya. Di tempat itu Reza menyimpan tape recorder yang dimaksud oleh Amara. Tidak ada seorang pun yang tahu Reza menyimpannya di sana, tak terkecuali itu Amara sendiri.
“Untuk sementara waktu biar aku yang menyimpannya,” timpal Reza.
“Okay … aku percaya kamu kok, Za. Tapi, kamu enggak apa-apa? Mau bagaimana pun di dalam rekaman itu ‘kan ada suaraku dan Wira.”
“Bukan masalah buatku. Anyways, orang yang dijadikan sebagai terduga pelaku itu penggemar kamu?”
Suara Amara mengecil, mungkin merasa lesu atas peristiwa yang akhir-akhir ini menimpa dirinya. “Iya. He is very loyal to me. Banyak barang bermerek yang dia hadiahkan untuk aku. Di samping ini semua, he’s very supportive. I’m loved.”
“It’s okay, Amara,” ucap Reza berusaha menghibur Amara. “Everything will be okay now. You are safe.”
“Tapi, aku masih takut, Za. Orang yang paling baik saja bisa memiliki niatan untuk menghancurkan hidupku. Aku takut hidupku berakhir, karier yang susah payah aku bangun hancur, and in the end I lost everyone I loved. How miserable I’am, how pathetic my world.” Amara mengadu, seperti seorang pesakitan yang kehilangan tempat beristirahat.
“Jangan berpikir terlalu jauh, Amara. That wouldn’t happen.”
Amara mengembuskan napasnya berat. “I wish you were here, Re. Aku butuh teman bicara seperti kamu from heart to heart. Kamu tau, akhir-akhir Wira sulit sekali diajak bicara. It might be nice seandainya kita bisa bertemu. Mungkin kamu juga bisa datang bersama Salini. We were friends, still.”
Itu ide buruk mengingat Salini tampaknya terlalu membenci Amara. Kebencian Salini agaknya sudah sampai di tahap di mana perempuan itu bisa saja menceraikannya jika tetap memaksa untuk berteman dengan Amara.
Berbicara soal Salini, sejak pulang kerja Reza belum menemukan batang hidung Salini. Pun, tidak terdengar tanda-tanda kehidupan di kamar Salini.
“Akan aku pikirkan. Sekarang kamu masih bersama Roby?”
“Yeah … everything okay here. Aku masih bertengkar sih dengan Wira. Our relationship gets complicated. I wish you never experience this kind of relationship, Za.”
Oleh karena ditekan oleh rasa penasaran, Reza bangkit menuju kamar Salini dengan telinga yang masih fokus mendengarkan Amara.
Reza mendorong pintu kamar Salini. Ruangan seluas itu tampak kosong. Aroma debu dan pengap yang biasanya mengisi kamar tersebut hilang bergantikan jejak aroma Salini. Pun, seprai dan selimut juga sudah diganti dengan yang baru. Secara keseluruhan Salini sudah menyulap kamar berkasnya sebagai kamar pribadi yang lebih humanis.
“Hmm,” Reza bergumam ringan. “Aku akan bicara dengan Wira nanti. Tentang suksesi jabatan dan skandal.”
“Kamu yakin?”
Reza melangkah lebih dalam ke kamar Salini. Malam sudah semakin larut, namun istrinya itu belum juga pulang. Tak mungkin ‘kan Salini menginap di rumah Papa Jun?
“Lini?” Secara tak sadar, Reza memanggil nama istrinya. Langkah kaki kemudian membawanya ke depan pintu kamar mandi yang ditutup. “Lini, are you there?”
“Za? Kamu masih mendengarkan aku?” Amara bertanya dengan nada jengkel yang kentara. “Kamu sedang apa sih?”
Reza yang lupa jika teleponnya masih tersambung dengan Amara segera meminta maaf, “Ah, my bad, Amara. Aku akan menghubungi kamu lagi nanti ya? I have something to do right now.”
“Promise?”
Walaupun tak rela, namun Amara menurut.
“Hm … bye,” tutup Reza sembari memasukan ponselnya ke kantong celana.
Tepat setelah mematikan sambungan telepon, tanpa ba-bi-bu Reza mendorong pintu kamar mandi. Tempat itu kosong. Tidak ada sisa air yang menetes di shower dan lantai keramik juga terasa kering.
Artinya, Salini sudah lama meninggalkan kamarnya.
Dengan cepat Reza keluar dari kamar Salini sambil menyambar ponsel kembali. Reza harus memastikan kondisi dan posisi Salini sekarang ini. Mau bagaimana pun, terlepas dari pernikahan kontrak mereka, Salini tetaplah istrinya.
Di bahunya Reza mengemban tanggung jawab yang besar untuk menjaga Salini. Reza bahkan sudah berjanji di hadapan Tuhan.
Dering ponsel di seberang sana terdengar panjang, memanggil nomor Salini. Ketika Reza mulai ragu panggilannya akan digubris, pada saat itu juga teleponnya diterima.
“Kamu di mana—”
“Yo, Za.”
Sebelum sempat Reza menuntaskan pertanyaannya, seseorang di seberang telepon sana sudah terlebih dahulu memotong kalimatnya.
Reza sampai harus memastikan jika dirinya betul-betul melakukan panggilan suara kepada kontak bernama Salini Rengganis karena dibuat terkejut oleh suara di seberang telepon. Suaranya berat, khas seorang laki-laki dewasa. Dan, anehnya terdengar begitu familier.
“Who am I speaking to?” tanya Reza bingung.
“It’s me Wira,” timpal seseorang di seberang sana. Nada bicaranya terdengar diseret. “Salini sedang ke toilet. She might throw up.”
Tanpa disuruh, Reza langsung berlari mencari kunci mobilnya. Entah bagaimana Salini bisa sedang bersama dengan Wira. Di antara lebih dari sepuluh juta jiwa penduduk Jakarta, kenapa harus Wira yang Salini temui di malam yang semakin larut ini.
Setelah menemukan benda yang dicari, Reza langsung berlari keluar dari penthouse-nya. Sepasang kaki Reza berlari menyusuri lorong menuju lift.
“Where are you now?” tanya Reza dengan napas yang menderu. “What are you doing to my wife?”
Pintu lift yang tak kunjung terbuka membuat Reza mau tak mau kembali berlari menuju pintu darurat. Cepat sekali kakinya berjalan menuruni anak tangga yang jumlahnya puluhan itu.
Suara kaki Reza yang gaduh tampaknya membuat Wira menyadari jika lawan bicaranya sedang panik. Oleh karenanya, Wira berusaha menenangkan.
“Kita sedang di resto and wine, Jalan Pondok Kopi and I’m not doing anything to your wife.”
Balasan dari Wira membuat jantung Reza sedikit lebih tenang.
“Jangan pergi ke mana pun. Gue akan segera menjemput Salini ke sana.”
Wira bergumam. “Hm … you better hurry up karena pertama, restorannya sudah mau tutup. Kedua, gue tidak bisa pulang because my foot are super shaking right now. Sepertinya kaki gue berubah jadi jelly. Ketiga, restosusrannya sudah mau tutup … keempat, wait let me think. Yeah … pertama—”
Sebelum Wira menuntaskan kalimatnya, Reza sudah terlebih dahulu mengakhiri telepon. Sudah dapat dipastikan jika saat ini Wira sudah dikuasai oleh alkohol.
Di antara saudara laki-lakinya yang lain, Wira termasuk orang yang cukup tangguh mengonsumsi alkohol.
Akan tetapi, ketika ia sudah melewati batas toleransi tubuhnya akan bereaksi di mana kaki Wira akan gemetar dan bicaranya menjadi melantur. Persis seperti tadi.
***
“Suami tercinta lo tadi nelepon,” kata Wira begitu Salini telah kembali dari toilet.
Wajah Salini tampak bersemu merah sedangkan, kedua matanya berpendar sayu. Niatnya untuk tidak black out gagal sudah terlebih begitu Wira mengajaknya untuk bicara. Tanpa terasa keduanya terus menambah jumlah konsumsi alkohol sampai setiap kali bernapas, aroma alkohol ikut menguar dari mulut keduanya.
Salini perlu berpegangan ke tepian meja agar tidak jatuh sebelum akhirnya kembali duduk di samping Wira.
“Siapa? Memangnya gue sudah menikah?” tanya Salini linglung. Efek alkohol membuat ingatan jangka pendeknya hilang. Selain itu, Salini juga harus berusaha melawan rasa pusing serta kantuk yang bercampur di dalam kepalanya.
Wira mengusap wajahnya sendiri sebelum menjawab, “Lo sudah menikah, dasar stoopid.”
Salini berusaha mengingat. Namun, ingatannya pudar. Mau seberapa banyak pun Salini mengingat, ia tetap melupakannya. Karena frustasi tak kunjung mendapatkan memori yang dicari, Salini menggebrak meja kesal.
“Ah! Suami yang mana sihhhh? Lo suami gueee? Kapan gue nikah?”
Wira menopang keningnya dengan tangan. Entah kenapa dunia tampak berputar. “Amit-amit menikah sama lo.”
“Ya, terus? Ah, to the point dong!” Salini cemberut, protes karena otaknya diajak berpikir.
“Reza Soemarwoto. Kalian baru nikah. Dasar pikunan.”
Dahi Salini mengkerut. Cepat-cepat ia memeriksa jari-jemarinya, berusaha mencari cincin yang melambangkan pernikahan. Namun, daripada cincin, Salini justru menemukan jika jari-jemarinya bertambah dua kali lipat.
“Astaga ….” Suara Salini melunak. “Jari gue jadi ada dua puluh, Wir.”
“Hah? Bohong?”
Salini menggelengkan kepalanya sedih. “Jari gue jadi ada dua puluh, Wiraaa.”
Melihat Salini yang akan menangis membuat Wira dengan cepat memeriksa jari-jemari Salini. Penglihatan Wira yang buram sebagai akibat dari pengaruh alkohol berhasil mensugesti netranya.
“Lho, iya ada dua puluh,” timpal Wira. “It’s impossible.”
“Tuh ‘kan!”
Salini hendak menarik kembali tangannya, namun ditahan oleh Wira. “Sebentar-sebentar. Kita hitung, okay?”
Mendapatkan solusi, Salini mengangguk setuju.
Dengan hati-hati Wira menghitung jumlah jari Salini. Keduanya tampak bagai orang bodoh saat ini.
“Satu … dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas … dua belas. Eh, kok jadi banyak.”
Salini memberengut dan menarik tangannya dari jangkauan Wira.
“Biar gue aja yang hitung,” tawar Salini.
Akan tetapi, belum sempat Salini melakukannya, seseorang sudah terlebih dahulu mendaratkan tangannya di bahu Salini. Ketika menoleh, Salini melihat sosok Reza dengan sorot dingin yang menatapnya.
“Pulang,” perintah Reza detik itu juga.
Melihat wajah Reza membuat Salini teringat akan pernikahannya, kontrak pernikahan yang ia dan Reza buat, serta lembaran uang pecahan seratus ribu rupiah yang diberikan oleh Reza secara angkuh pagi tadi.
Salini mendengkus. “Kamu saja pulang duluan sana.”
“Ini sudah malam, Lini. Aku kemari untuk menjemput kamu.”
“Memangnya siapa yang menyuruh kamu untuk menjemput aku?” Salini bertanya sarkastik.
Aroma alkohol dengan cepat menyentuh indera penciuman Reza. Secara tak sengaja matanya melirik tangan Salini yang bergetar pelan. Entah karena efek alkohol yang terlalu banyak atau karena perempuan itu sedang marah mengingat percakapan terakhir mereka berakhir buruk.
“Ayo pulang,” kata Reza sekali lagi, berusaha untuk bersabar. “Tempat ini akan tutup.”
Sayangnya, Salini masih enggan untuk bergerak dari tempat duduknya. “Kamu saja yang pulang. I don’t wanna see your face when I wake up tomorrow.”
Wira yang merasakan aura permusuhan antara Reza dan Salini susah payah bangkit. Ia berusaha menengahi Reza dan Salini.
“Za, tenang,” ucap Wira sesaat kemudian.
Melihat Wira yang bisa mabuk-mabukan dengan Salini, sedangkan Amara di luar sana sedang ketakutan karena teror membuat Reza merasa muak sekaligus marah pada saudaranya itu.
“Bagaimana mungkin lo bisa minum-minum di sini, sementara Amara ketakutan?”
Sepasang alis tebal Wira menukik tajam mendengar nama kekasihnya disebut-sebut. “Amara kenapa? Ketakutan kenapa?”
Hanya saja, Reza tampak tidak ingin memberikan penjelasan kepada Wira. Secara tak acuh, Reza kembali memusatkan perhatian kepada Salini yang sudah meletakkan kepalanya di atas meja bar. Perempuan itu terlihat hampir tertidur.
Ketika Reza hendak menggendong tubuh Salini, Wira sudah terlebih dahulu mencengkram baju di bagian dadanya. Cengkraman Wira terasa kuat.
“Lo bilang apa, berengsek? Amara kenapa?” Wira mendesak jawaban. “Kenapa lo selalu lebih tahu soal dia daripada gue? Memangnya lo siapa? I always give her everything. I made a ton of money for her, sacrifice my life to her. Now what’s else? What’s make you special to her?”
Secara kasar, Reza menghempaskan tangan Wira dari bajunya. Tindakan tersebut membuat tubuh Wira sempat hilang kendali sebelum akhirnya Wira mampu menemukan keseimbangan.
“Lo selalu bertanya, kenapa. Tetapi, tidak pernah mendapatkan jawabannya, kan? Itu karena lo selalu bertanya ke orang salah. Ketika tidak mendapatkan jawabannya lo akan marah, menuding, dan membuat jarak. Sekarang, ask yourself, Wir. What does she really need?” tutup Reza mengakhiri percakapannya dengan Wira.
Hati-hati Reza menyelipkan satu tangannya di antara kedua lipatan kaki Salini, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menahan punggung Salini. Selanjutnya, tanpa pamit Reza menggendong Salini menuju mobilnya dan meninggalkan Wira yang termenung sendirian.
***
Salini merasakan punggungnya yang bersentuhan dengan kasur. Hal tersebut membuat ia terusik dari tidur. Begitu membuka mata, Salini melihat pemandangan langit-langit kamar yang buram dengan satu lampu bulat yang berpendar lembut.
Tidak lama dari itu, Salini dapat merasakan seseorang yang mengusap pakaiannya menggunakan lap lembap yang dingin. Salini menurunkan pandangan untuk kemudian melihat sosok laki-laki. Salini mengucek salah satu kelopak matanya, berusaha menyingkirkan buram. Tindakan itu berhasil sebab secara berangsur-angsur netra Salini dapat melihat secara jelas.
“Oh? Reza?” tanya Salini dengan suara parau.
Di depannya, Reza terlihat sedang berusaha membersihkan sisa muntahan Salini di pakaian yang gunakan. Entah kapan Salini muntah. Ia tidak ingat.
Salini mengedarkan pandangannya, tampak mencari sesuatu. Gelagat tersebut dengan cepat dibaca oleh Reza. “Ini kamarmu. Kita sudah di rumah.”
Perlahan Salini mengingat wajah Wira yang mabuk, sebotol wine yang dihabiskan oleh dirinya dan Wira, serta alasan kenapa Salini memilih restoran tadi sebagai tempat melarikan diri; melarikan diri dari jangkauan Reza.
Namun, sekarang Reza justru berdiri di sampingnya, menjemputnya, dan sedang berusaha merawat dirinya.
Salini terkekeh geli. “Kamu mengkhawatirkanku, Re?”
Reza tidak menjawab dan lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya membersihkan pakaian Salini. Hanya saja, dengan cepat Salini menahan tangan Reza.
“Kalau kamu memang mengkhawatirkanku, katakan saja,” ucap Salini.
Gerakan Reza terhenti. Pandangannya jatuh pada manik Salini yang menatapnya sayu. “Kamu istriku. Apabila sesuatu yang buruk terjadi pada kamu maka, aku juga aku akan mengambil risiko.”
“Kamu memang sangat mementingkan citra ya, Re?”
“Bukankah kamu juga begitu? Kamu harus membayar denda dengan cara menikahiku supaya citra kamu sebagai perancang gaun pengantin tidak rusak, bukan?” balas Reza dengan suara tenang.
Salini mengangguk sambil melepaskan tangan Reza dari jangkauannya. Perlahan Salini bangkit sekalipun dunia yang ia pijak terasa bergoyang pelan.
“Terima kasih karena sudah mengingatkanku.” Salini tersenyum masam sambil berjalan mendekati lemari pakaian. Ia sudah menyimpan beberapa helai baju di sana. “Terima kasih karena sudah membawaku pulang.”
Berdebat dengan Salini adalah pilihan buruk. Akan lebih buruk lagi jika Salini berada di dalam kondisi mabuk. Namun, Reza tidak memiliki pilihan.
“Can we deal with that?” Reza bersuara lagi. “Bisakah kita menjalani kehidupan pernikahan yang damai on our own way?”
Salini meraih satu gaun tidur yang digantung. Membawa pakaian itu dan meletakannya di atas kasur. Kemudian, dengan tangannya sendiri Salini menanggalkan seluruh pakaiannya.
“Abaikan aku saja, Re. Bajuku sudah terlalu kotor dan basah. Mau kamu lap sepuluh kali pun bau muntahannya akan tetap ada,” jelas Salini manakala melihat Reza yang berusaha menutupi ekspresi heran.
Reza yang mengetahui jika Salini masih berada di dalam pengaruh alkohol hendak meninggalkan kamar perempuan itu jika saja Salini tidak bicara lagi.
“Omong-omong soal hidup di jalan masing-masing … sure. Aku bisa mengabulkannya tapi, kamu harus belajar untuk meminta maaf dengan cara yang benar.”
Reza berbalik dan memandang Salini dengan tatapan tidak suka, susah payah laki-laki itu mengabaikan tubuh polos Salini.
“Kenapa kamu masih mengungkit masalah itu? Aku sudah minta maaf bahkan menawarkan kamu dengan ganti rugi. Are these enough?”
“Begging,” kata Salini.
“What did you say?”
“Begging for forgiveness,” ulang Salini melengkapi kalimatnya. “Money can buy everything, Re … but a heart. You can’t buy my heart, my pride.”
Reza Soemarwoto tentu memiliki harga diri yang ia pegang. Mengemis maaf dari Salini saat itu belum ada di dalam kamusnya. Jadi, dengan angkuhnya Reza menjawab, “How much to buy your heart then?”
Mendapati Reza yang enggan meminta maaf secara tulus membuat Salini tahu jika ucapannya tidak akan berpengaruh. Jadi, di luar perkiraan Reza, Salini menarik tangan Reza secara cepat membuat dadanya bersentuhan dengan d**a bidang Reza.
Salini memiringkan kepalanya menatap Reza. “Kamu terbiasa membeli sesuatu dengan uang ya? Kalau begitu, aku akan mengajarkan kamu untuk melakukan barter dengan cara lain.”
“Apa?” Reza berusaha mempertahankan ekspresi kaku di wajahnya.
Salini mendekat, membisikan sesuatu di telinga Reza. “Tidur denganku. Itu harga dari hati dan harga diriku … juga harga diri kamu. Be my whore.”
Rahang Reza mengeras, sadar jika dirinya sedang dipancing untuk memasuki permainan Salini.
[]