Pelukan itu erat, seolah ingin menyerap segala kecemasan yang mulai merayap di hati Winda seperti asap beracun. Di dalam keheningan penthouse yang mewah ini, kemenangan atas Adrian tadi malam terasa rapuh. Seperti gencatan senjata sesaat sebelum badai yang sesungguhnya datang.
"Tapi kita harus berhati-hati," bisik Rehan tepat di telinganya. Suaranya serak, bukan karena lelah, tapi karena waspada. Napas hangatnya menerpa kulit leher Winda, mengirimkan getaran yang entah itu kenyamanan atau peringatan. "Ayahku tidak akan berhenti di sini. Ia tidak seperti Adrian yang bisa dikalahkan dengan jebakan fisik. Ayahku... ia bermain di level yang berbeda."
Winda menoleh, menatap manik mata Rehan yang gelap namun penuh ketegasan. Di sana, ia tidak melihat CEO Artha Global yang tak terkalahkan. Ia melihat seorang anak laki-laki yang masih membawa luka lama dari figura ayahnya.
"Ia akan mencari celah lain," lanjut Rehan, jari-jarinya memainkan helai rambut Winda dengan gelisah—gestur jarang yang hanya muncul saat ia merasa terancam. "Bisa melalui media, tekanan sosial, atau bahkan mencoba memanipulasimu secara langsung. Membuatmu merasa tidak layak. Membuatmu merasa kecil."
"Memanipulasi saya?" tanya Winda, suaranya tenang meski jantungnya berpacu. Ia tahu Rehan sedang memproyeksikan ketakutannya sendiri. Ketakutan bahwa Winda akan patah seperti wanita-wanita sebelumnya.
"Ya," jawab Rehan tegas, matanya mengunci tatapan Winda. "Jadi mulai sekarang, jangan pernah menjawab panggilan dari nomor tak dikenal. Jangan terima paket tanpa pemeriksaan. Dan jangan bertemu siapa pun yang mengaku sebagai perwakilan keluarga Al-Farisi tanpa sepengetahuan dan pengawasanku. Paham?"
Perintah itu terdengar posesif, tapi Winda mendengar nada desperasi di baliknya. Ini bukan tentang kontrol. Ini tentang teror psikologis yang sudah lama menghantui Rehan.
Winda mengangguk perlahan. Jantungnya berdebar kencang—konflik melawan Adrian tadi berupa ancaman yang terlihat jelas, pisau yang bisa ditangkis. Sedangkan melawan Haji Al-Farisi jauh lebih halus, berbahaya, dan tersembunyi. Seperti racun tanpa rasa.
"Kita hadapi bersama, Rehan," ucapnya mantap, tangannya naik memegang wajah Rehan, memaksanya untuk fokus pada masa kini, bukan hantu masa lalu. "Seperti janji kita. Aku tidak selemah yang kau khawatirkan."
Rehan menatap tangan kecil yang memegang wajahnya. Seolah mencari validasi. Lalu, ia tersenyum tipis—senyum yang lelah tapi tulus—lalu mengecup kening Winda lembut. Ciuman yang bukan klaim, tapi permohonan maaf karena telah membuat wanita yang dicintainya harus hidup dalam paranoia.
"Seperti janji kita," gumamnya.
Belum sempat kehangatan itu mengendap, ponsel Rehan di meja kopi berdering keras. Bukan dering biasa. Itu adalah nada notifikasi email prioritas tinggi—nada yang biasanya hanya untuk krisis bisnis atau kematian.
Rehan membeku. Instingnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia meraih ponsel itu dengan gerakan tajam.
"Apa itu?" tanya Winda, nadanya cemas. Ia bisa merasakan suhu ruangan turun drastis dalam hitungan detik.
Rehan tidak menjawab. Ia membuka layarnya, dan seketika raut wajahnya berubah menjadi topeng es. Rahangnya mengeras, otot-otot lehernya menegang, dan matanya—mata yang tadi hangat memandang Winda—kini menyala dengan amarah yang murni dan primitif.
Ia memutar layar ponselnya menghadap Winda. Gerakannya kaku, seolah menyentuh benda itu membuatnya jijik.
Di sana, terpampang jelas sebuah undangan digital dengan desain emas dan hitam yang megah. Undangan yang bukan permintaan, tapi perintah.
"UNDANGAN RESMI: ACARA AKAD NIKAH REHAN AL-FARISI DENGAN PUTRI SULTAN BRUNEI, AISYAH AL-HASSAN.
DISELENGGARAKAN ATAS PERINTAH HAJI AL-FARISI.
AKAN DILAKSANAKAN MINGGU DEPAN DI KEDIAMAN UTAMA KELUARGA AL-FARISI."
Winda membelalakkan mata, napasnya tercekat. Kata-kata itu menampar wajahnya lebih keras daripada tamparan fisik. Akad nikah. Putri Sultan. Atas perintah.
"Akad nikah... paksa?" bisiknya, suaranya hampir hilang.
Rehan menggenggam ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Perangkat mahal itu berderit pelan di bawah cengkeraman tangannya yang gemetar—bukan karena takut, tapi karena menahan diri untuk tidak melemparkannya ke dinding.
"Ayahku benar-benar tidak main-main," gumamnya dengan suara rendah dan berat, seperti auman hewan yang terluka. "Ia mencoba menikahkan saya dengan putri keluarga kerajaan untuk memperkuat aliansi politik bisnisnya di Asia Tenggara. Dan ia melakukannya tanpa persetujuanku. Tanpa bahkan memberi tahu saya."
Ia menatap Winda, dan di matanya ada sesuatu yang pecah.
"Ini adalah deklarasi perang terbuka, Winda. Perang antara ayah dan anak. Ia menggunakan pernikahan sebagai transaksi dagang. Dan ia menganggap saya masih boneka yang bisa diatur pertunangannya."
Winda menatap wajah Rehan, dan untuk sesaat ia melihat kilatan ketakutan yang jarang terlihat—bukan takut kehilangan kekuasaan atau uang, melainkan takut terjebak kembali dalam sangkar emas tradisi yang memisahkannya dari cinta. Takut bahwa semua perjuangan mereka sia-sia di hadapan otoritas patriarki yang absolut.
"Kau akan pergi?" tanya Winda pelan. Pertanyaan yang berat. Karena dia tahu jawabannya bukanlah pilihan sederhana.
Rehan menatap Winda dalam-dalam. Tatapan yang seolah ingin merekam wajah Winda sebagai satu-satunya kebenaran di dunia yang penuh kepalsuan ini. Ia mengangkat tangan Winda dan mencium liontin berlian hitam berbentuk hati yang tergantung di lehernya—simbol janji yang tak terucapkan, simbol bahwa hatinya sudah terkunci.
Sentuhan bibirnya pada logam dingin itu terasa seperti sumpah.
"Tentu saja aku akan datang," jawabnya tegas dan mantap, suaranya kembali menemukan wibawanya. Tapi kali ini, wibawa itu bukan untuk intimidasi, tapi untuk perlindungan. "Tapi bukan untuk menikah. Aku akan datang untuk menghancurkan acara itu seketika. Di depan semua tamu, di depan media, di depan Ayah..."
Ia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.
"...Dan aku akan membawamu bersamaku. Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai satu-satunya wanita yang berhak berdiri di sisi Rehan Al-Farisi. Agar seluruh orang yang hadir tahu: Winda Lestari bukan pilihan kedua. Dia adalah satu-satunya pilihan."
Winda merasakan getaran keyakinan yang menular ke dalam dirinya. Keyakinan yang lebih kuat dari bất kỳ undangan resmi sekalipun. Ia menggenggam balik tangan Rehan erat-erat, seolah ingin mentransfer kekuatannya kepada pria yang sedang bersiap menghadapi raksasa.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya, suaranya stabil. Dia tidak lagi korban. Dia adalah sekutu.
Rehan menariknya kembali ke dalam pelukan yang hangat dan melindungi. Pelukan yang menjadi benteng terakhir mereka sebelum badai eksternal menerpa.
"Sekarang? Kita bersiap," bisiknya di rambut Winda. "Kita pastikan semua bukti kompetensi kamu siap. Kita siapkan pernyataan hukum. Dan minggu depan..."
Ia berhenti, lalu mencium puncak kepala Winda sekali lagi.
"...Minggu depan, kita tunjukkan pada dunia bahwa kekuasaan dan tradisi tidak bisa memaksakan hati seseorang. Bahwa Rehan Al-Farisi bukan milik keluarga. Dia milik dirinya sendiri. Dan hatinya... milikmu."
Di luar jendela kaca raksasa, langit Jakarta mulai mendung. Bayangan sang patriarch sudah menanti untuk menyerang, siap menghancurkan apa yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun di dalam sana, di tengah keheningan penthouse, Rehan dan Winda berdiri bersatu. Siap menghadapi badai yang akan datang. Karena cinta mereka telah menjadi perisai yang lebih kuat dari warisan, lebih tajam dari aturan, dan lebih abadi dari** aliansi politik.
Perang baru saja dimulai. Dan kali ini, taruhannya adalah jiwa mereka.