Pukul tujuh malam. Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta.
Lampu kristal raksasa menggantung setinggi sepuluh meter, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengkilap bagaikan cermin. Udara dipenuhi aroma bunga lili mewah, parfum kelas atas, dan dentingan gelas champagne yang beradu. Seluruh lapisan elit Jakarta hadir di sana—pengusaha, politisi, selebriti, hingga wartawan terkemuka. Semua mata tertuju pada pintu utama besar berukir kayu jati, menanti kedatangan tuan rumah: Rehan Al-Farisi, CEO termuda sekaligus terkaya di Indonesia.
Di luar, Winda berdiri di samping mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam. Napasnya terasa pendek dan tak beraturan. Gaun sutra hitam yang ia kenakan terasa dingin menyentuh kulitnya, namun kalung berlian hitam di lehernya terasa berat—bukan karena bahannya, melainkan karena makna dan janji yang tersemat di dalamnya. Kalung yang bukan sekadar perhiasan, tapi sumpah. Sumpah bahwa dia milik Rehan, dan Rehan milik dia.
Rehan turun lebih dahulu. Ia mengenakan tuxedo hitam klasik yang dipotong sempurna, membuatnya tampak bak pangeran gelap dari film lama. Tapi kali ini, Winda melihat sesuatu yang berbeda di matanya: bukan kesombongan, tapi kebanggaan. Kebanggaan seorang pria yang finalmente menemukan wanita yang layak berdiri di sisinya.
Ia berjalan mengelilingi mobil, lalu membuka pintu dengan gerakan anggun. Gerakan yang bukan untuk pamer, tapi untuk menghormati. Menghormati Winda, dan menghormati momen ini.
“Tangan Anda,” bisiknya sambil mengulurkan telapak tangannya yang besar dan hangat. Sentuhan yang bukan mengklaim, tapi menyambut. Menyambut Winda ke dalam dunianya, ke dalam hidupnya, ke dalam hatinya.
Winda meletakkan tangannya di atas telapak tangan Rehan. Dengan lembut namun tegas, Rehan menariknya turun. Begitu tumit Winda menyentuh karpet merah yang terbentang luas, suasana di dalam ballroom seketika menjadi hening. Semua kepala menoleh serentak, dan kilatan kamera wartawan berkedip-kedip bagaikan sambaran petir.
Winda melangkah maju dengan tenang. Setiap gerakannya membuat belahan tinggi di pahanya terbuka dan tertutup secara elegan, memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang namun tetap sopan. Renda tembus pandang di bagian dadanya menimbulkan kesan misterius, namun yang paling menarik perhatian semua orang adalah kalung berlian hitam di lehernya—simbol kepemilikan yang tak terbantahkan. Tapi kali ini, simbol itu bukan tanda Submission. Tapi tanda kekuatan. Kekuatan untuk mencintai dan dicintai tanpa rasa malu.
Rehan tidak melepaskan genggamannya. Ia menggenggam jemari Winda erat, saling menyelipkan jari, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita cantik di sisinya bukan sekadar pelengkap atau aksesori, melainkan pasangan resminya. Pasangan yang setara. Pasangan yang saling melengkapi. Pasangan yang saling melindungi.
“Winda Lestari?” gumam seorang wartawan di barisan depan, matanya membelalak tak percaya. “Asisten pribadi Rehan Al-Farisi? Sejak kapan…”
Rehan berhenti tepat di tengah karpet merah. Ia menoleh ke arah para wartawan, wajahnya datar namun matanya memancarkan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Bangga bukan karena Winda cantik, tapi karena Winda berani. Berani menerima cintanya, berani menghadapi dunia, berani menjadi dirinya sendiri.
“Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya,” panggilnya dengan suara lantang yang jelas terdengar hingga ke sudut ruangan. Suara yang bukan perintah, tapi pengumuman. Pengumuman cinta. Pengakuan publik.
“Ambil foto sebaik mungkin. Ini adalah pertama kalinya Nyonya Winda Lestari hadir secara resmi sebagai pendamping saya.”
Kata “Nyonya” dan “pendamping resmi” menggema di seluruh ruangan. Desas-desus langsung menyebar bagai api kering. Apakah mereka sudah menikah? Apakah Winda adalah istri rahasia yang selama ini disembunyikan?
Winda menatap Rehan dengan tatapan penuh tanya. Bukan keraguan, tapi konfirmasi. Konfirmasi bahwa ini nyata. Bahwa dia tidak bermimpi.
Rehan hanya tersenyum tipis, lalu membisikkan pelan agar hanya ia yang mendengar: “Ikuti saja alurnya, Sayang. Biarkan mereka menebak-nebak. Yang penting, kau dan aku tahu kebenarannya.”
Kalimat itu bukan instruksi. Tapi reassurance. Reassurance bahwa di tengah hiruk-pikuk spekulasi publik, kebenaran mereka tetap utuh. Tetap murni. Tetap milik mereka berdua.
Mereka melanjutkan langkah menuju meja VIP di bagian paling depan. Di sana, di antara para tokoh penting, duduk Sarah Wijaya. Ia mengenakan gaun emas yang mencolok, namun wajahnya terlihat pucat pasi begitu melihat Winda. Matanya terpaku pada kalung di leher Winda, dipenuhi kebencian yang tak terelakkan. Ia tahu persis makna perhiasan itu—kalung yang dulu pernah diinginkannya, namun ditolak karena dianggapnya tak pantas. Dan sekarang, kalung itu dipakai oleh wanita yang ia anggap rendah. Wanita yang ia coba hancurkan.
Begitu mereka duduk, Sarah langsung berdiri sambil membawa gelas champagne. Ia berjalan mendekat dengan senyum palsu yang lebar. Senyum yang bukan sambutan, tapi serangan. Serangan terakhir sebelum dia kalah telak.
“Selamat datang, Rehan,” sapanya, suaranya sedikit meninggi agar didengar orang-orang di sekitar. “Dan selamat datang juga untukmu, Winda. Gaunmu sangat… berani. Apakah Rehan yang memilihkannya? Atau justru kamu yang memaksanya agar terlihat mencolok?”
Nada ejekannya jelas terdengar. Sarah berusaha menggambarkan Winda sebagai w************n yang memanfaatkan tubuhnya demi posisi. Tapi kali ini, Winda tidak merasa tersinggung. Dia merasa kasihan. Kasihan pada wanita yang masih terjebak dalam permainan lama, sementara dia sudah bergerak maju. Bersama Rehan. Menuju masa depan yang lebih terang.
Winda merasakan darahnya mendidih naik ke kepala. Tangannya mencengkeram kain gaunnya erat, namun sebelum ia sempat menjawab, Rehan sudah berdiri tegak.
Ia tidak terlihat marah, justru tampak santai dan sedikit bosan. Bosan pada drama lama. Bosan pada wanita yang tidak bisa move on. Bosan pada masa lalu yang mencoba merusak masa depannya.
“Sarah,” ucapnya dingin dan tajam. “Gaun ini dirancang oleh penjahit terbaik di Milan. Dan kalung di lehernya adalah warisan keluarga Al-Farisi, yang hanya boleh dipakai oleh wanita yang dianggap layak menyandang gelar istri dalam tradisi kami. Jadi jika menurutmu gaun ini terlalu berani, mungkin masalahnya ada pada pikiran kotormu sendiri.”
Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Semua tamu menahan napas. Kata-kata Rehan bukan sekadar pembelaan. Tapi penghinaan halus. Penghinaan yang mengatakan: Kamu tidak layak. Dia layak. Dan aku memilih dia.
Sarah tertawa canggung. “Warisan keluarga? Jangan bercanda, Rehan. Winda hanyalah asisten rendahan. Kamu tidak mungkin sungguh-sungguh mengangkatnya menjadi istri. Apa kata ibumu? Apa kata dewan direksi?”
Pertanyaan yang bukan kekhawatiran, tapi provokasi. Provokasi untuk membuat Rehan ragu. Untuk membuat Winda insecure. Tapi Rehan tidak tergoyahkan. Dan Winda juga tidak.
Rehan menatapnya dengan tatapan yang menusuk hingga ke tulang. Tatapan yang mengatakan: Kamu tidak punya hak untuk mempertanyakan pilihanku.
Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil mikrofon kecil yang terpasang di meja DJ dekat panggung utama. Suara dengungan singkat terdengar, lalu seluruh ruangan hening seketika. Semua mata tertuju padanya. Mata yang penuh antisipasi. Antisipasi untuk mendengar pengakuan cinta terbesar tahun ini.
“Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya,” suaranya tenang namun penuh wibawa, bergema di seluruh penjuru ballroom. “Saya tahu banyak dari Anda yang penasaran dengan wanita di sisi saya. Ini dia Winda Lestari.”
Rehan menoleh sebentar ke arah Winda, matanya melembut seketika, kontras dengan ketegasan suaranya. Kelembutan yang bukan kelemahan, tapi kekuatan. Kekuatan untuk mencintai di depan umum. Kekuatan untuk tidak malu pada perasaannya sendiri.
“Winda bukan sekadar asisten. Dialah otak di balik keberhasilan proyek energi terbaru Artha Global di Timur Tengah. Dialah wanita yang memiliki integritas jauh lebih tinggi daripada kebanyakan CEO yang hadir malam ini. Dan ya…”
Ia berhenti sejenak, menciptakan ketegangan yang memuncak. Ketegangan yang bukan untuk dramatisasi, tapi untuk penekanan. Penekanan bahwa kata-kata berikutnya adalah sumpah. Sumpah yang tidak bisa ditarik kembali.
“…Dialah satu-satunya wanita yang saya izinkan memakai cincin dan kalung keluarga Al-Farisi. Karena bagi saya, Winda Lestari adalah calon istri saya. Dan siapa pun yang meragukan posisinya, sama saja dengan meragukan keputusan saya sebagai pemimpin Artha Global.”
Hening mencekam menyelimuti ruangan selama beberapa detik. Lalu, tepuk tangan mulai terdengar perlahan—pertama dari para tamu senior yang sudah lama mengenal Rehan, lalu menyebar luas ke seluruh penjuru. Bukan karena mereka kagum pada kisah cinta, melainkan karena takut pada kekuasaan Rehan. Menyerang Winda sama saja dengan menyerang Artha Global. Dan menyerang Artha Global sama saja dengan bunuh diri bisnis.
Sarah Wijaya berdiri terpaku. Wajahnya seputih kertas. Matanya berkaca-kaca karena malu dan amarah yang meluap-luap. Rehan baru saja menghancurkan reputasinya di depan umum, baik secara sosial maupun bisnis. Tak ada perusahaan yang berani bekerja sama dengan Grup Wijaya jika mereka dianggap bermusuhan dengan Rehan Al-Farisi. Dan sekarang, dia tidak hanya kehilangan Rehan. Dia kehilangan segalanya.
Rehan meletakkan mikrofon, lalu kembali duduk. Ia meraih tangan Winda yang gemetar dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Ciuman yang bukan untuk pamer, tapi untuk menenangkan. Menenangkan Winda bahwa dia aman. Bahwa dia dicintai. Bahwa dia diterima.
“Jangan gemetar,” bisiknya pelan. “Anda aman. Selamanya.”
Winda menatapnya, matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka Rehan akan melakukan hal seberani itu—mengorbankan citranya sebagai bujangan terkaya demi melindungi dan mengakui dirinya. Mengorbankan privasinya demi kebahagiaannya. Mengorbankan egonya demi cintanya.
“Kenapa, Rehan?” tanyanya lirih. “Kenapa kamu melakukan ini?”
Rehan menatap matanya dalam-dalam. Di tengah riuh rendah pesta dan sorotan ratusan kamera, ia berbicara dengan jujur dari hatinya. Jujur yang bukan naivety, tapi keberanian. Keberanian untuk mencintai tanpa syarat. Tanpa topeng. Tanpa perhitungan.
“Karena saya lelah menyembunyikan Anda. Saya lelah melihat pria lain memandang Anda dengan tatapan penuh nafsu. Saya lelah melihat wanita seperti Sarah merendahkan Anda. Saya ingin seluruh dunia tahu bahwa hati Rehan Al-Farisi sudah terisi penuh. Dan isinya adalah Anda.”
Winda tersenyum tipis, air mata bahagia menetes perlahan membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dicintai—bukan sebagai benda atau alat, melainkan sebagai manusia yang utuh dan dihargai. Dihargai karena kompetensinya. Dihargai karena integritasnya. Dihargai karena dirinya sendiri.
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekati meja mereka dengan wajah pucat pasi. Wajah yang bukan karena kelelahan, tapi karena ketakutan. Ketakutan akan pesan yang dibawanya. Pesan yang bisa menghancurkan momen bahagia ini.
“Tuan Rehan,” bisiknya sambil menyerahkan amplop tebal berwarna putih. “Ini baru saja dikirim. Dititipkan seseorang di pintu belakang. Namanya… Adrian.”
Rehan menerima amplop itu. Wajahnya seketika berubah menjadi serius. Bukan karena takut, tapi karena waspada. Waspada bahwa kebahagiaan mereka selalu disertai harga. Harga yang harus dibayar dengan kewaspadaan. Dengan perlindungan. Dengan cinta yang lebih kuat.
Ia membukanya perlahan. Di dalamnya hanya ada satu lembar foto dan satu kalimat tulisan tangan. Foto yang bukan ancaman, tapi pengingat. Pengingat bahwa dunia ini tidak selalu ramah pada cinta mereka. Bahwa ada orang-orang yang tidak ingin melihat mereka bahagia.
Foto itu memperlihatkan Winda dua hari lalu, sedang keluar dari apartemennya sendirian. Di sudut gambar terlihat bayangan seseorang yang sedang mengintip dari balik mobil hitam. Bayangan yang bukan hantu, tapi musuh. Musuh yang mengintai. Musuh yang menunggu saat lengah.
Di bawah foto tertulis:
“Saya tahu rahasiamu, Rehan. Saya tahu Winda tidak aman bersamamu. Serahkan dia padaku, atau foto-foto selanjutnya akan jauh lebih buruk. - A”
Rehan meremas amplop itu hingga kusut. Matanya menyala oleh amarah yang terpendam. Amarah yang bukan pada Winda, tapi pada orang yang berani mengancam wanita yang dicintainya. Amarah yang bukan destruktif, tapi protektif. Protektif yang mengatakan: Aku akan melindungimu, meski harus melawan seluruh dunia.
Winda memperhatikan perubahan ekspresinya. “Ada apa, Rehan?”
Rehan menatap Winda, lalu menoleh sekilas ke arah kerumunan tamu. Ancaman ini nyata. Adrian tidak main-main. Dan gala malam yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan mereka ternyata baru saja menjadi awal dari perang yang jauh lebih berbahaya. Perang yang bukan untuk kekuasaan, tapi untuk cinta. Cinta yang layak diperjuangkan. Cinta yang layak dilindungi. Cinta yang layak dimenangkan.
Rehan berdiri tiba-tiba sambil menarik Winda ikut berdiri. Gerakan yang bukan panik, tapi decisiveness. Decisiveness untuk memilih cinta di atas kenyamanan. Memilih Winda di atas keselamatan publik. Memilih kebahagiaan mereka di atas ekspektasi dunia.
“Kita pergi,” ucapnya singkat dan tegas. Tegas yang bukan kekejaman, tapi komitmen. Komitmen untuk tidak membiarkan siapa pun—termasuk Adrian—merusak momen mereka. Merusak cinta mereka. Merusak masa depan mereka.
“Tapi pestanya baru saja dimulai…” protes Winda bingung. Bingung bukan karena takut, tapi karena sayang. Sayang pada momen indah yang baru saja mereka ciptakan bersama. Momen yang ingin ia nikmati lebih lama.
“Pesta sudah selesai bagi kita,” jawab Rehan dingin sambil menggandeng tangan Winda dan berjalan cepat meninggalkan ballroom, meninggalkan para tamu yang masih kebingungan serta Sarah yang masih terpaku diliputi rasa malu. Dingin yang bukan ketidakpedulian, tapi fokus. Fokus pada satu hal: Winda. Hanya Winda. Selalu Winda.
Malam itu, Winda menyadari satu hal: mencintai Rehan Al-Farisi berarti mencintai bahaya. Namun di saat yang sama, ia merasa siap menghadapi segala risiko itu. Bersama Rehan. Karena bahaya itu bukan alasan untuk menyerah. Tapi alasan untuk berjuang lebih keras. Berjuang untuk cinta. Berjuang untuk kebahagiaan. Berjuang untuk masa depan yang mereka bangun bersama.
Dan Winda tahu: dia tidak sendirian. Dia memiliki Rehan. Pria yang posesif, dominan, dan berbahaya. Namun juga pria yang mencintainya dengan cara yang paling tulus, paling dalam, dan paling abadi.
Cinta yang worth every risk. Worth every fight. Worth every moment.