Telur dadar Kanata Sabtu pagi itu kelihatan seperti peta pulau yang tenggelam, sesuai pasal empat: ia memasak sarapan di hari libur. Miyu duduk di meja makan dengan satu tangan di punggung dan tidak berniat berkomentar.
Sudah lima hari sejak Dokter Raina menyuruhnya bicara, dan ia masih belum bicara. Setiap malam ia menyusun kalimat di bawah selimut, dan setiap pagi kalimat itu hilang bersama bunyi Kanata yang menyeduh teh pahit di dapur. Ia sedang menimbang apakah malam ini adalah malam yang tepat ketika bel gerbang berbunyi dua kali dengan irama yang ia kenal.
“Itu Santa,” kata Kanata, tanpa menoleh dari wajan.
“Dia tahu sekarang hari libur?”
“Dia tahu sekarang jam martabak. Itu lebih penting baginya.”
Santa masuk membawa sekotak martabak manis yang diacungkan seperti bendera. “Perasaanku bilang ada yang lupa disampaikan padaku, atau aku yang lupa menyampaikan sesuatu. Aku tidak tahu yang mana, jadi ini martabak untuk menebus.” Ia meletakkan kotak itu di meja, mencium pipi udara ke arah perut Miyu, dan duduk. “Jadi, Miyu, aku salut. Kamu cepat sekali melepas dia. Mikan bilang tiket yang dipesan sebelumnya sudah dibatalkan Senin lalu, dan kupikir kalian pasti sudah bicara baik-baik...”
Sendok teh di tangan Kanata jatuh ke lantai.
Miyu menoleh perlahan. “Tiket apa?”
Santa membeku dengan sepotong martabak setengah masuk mulut. Matanya bergerak dari Miyu ke Kanata, ke Miyu, ke pintu. “Aku... mau lihat halaman,” katanya, dan keluar lewat pintu belakang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk orang membawa martabak.
Dapur sepi. Telur dadar mengeluarkan bau hangus kecil di wajan.
“Matikan kompornya,” kata Miyu.
Kanata mematikannya.
“Duduk.”
Ia duduk. Miyu meletakkan kedua tangan di atas meja, dan nadanya sama persis dengan nada yang dulu ia pakai kepada pelanggan yang menumpahkan kopi di kasir. “Kamu membatalkan Tokyo.”
“Ya.”
“Hari Senin. Hari kontrol. Saat aku bilang kita memutuskan berdua.”
“Ya.” Kanata menatap meja. “Aku berdiri di pintu ruang periksa dan mendengar ceritamu kepada Dokter Raina. Lorong, pintu tertutup, suara yang bilang aku tidak datang.”
Miyu terdiam. Jantungnya turun ke perut yang sudah terlalu penuh. “Kamu mendengar.”
“Seluruhnya. Maaf.”
“Kamu bisa saja langsung bilang malam itu.”
“Kamu juga.” Kanata mengatakannya pelan, tanpa menuduh. “Pasal lima berlaku dua arah. Kamu yang menulisnya.”
Miyu membuka mulut untuk membantah dan tidak menemukan bantahan. “Kita berdua melanggar,” akhirnya ia mengakui. “Aku tidak mau menambah bebanmu. Kamu tidak mau menambah bebanku. Kita bodoh dengan cara yang sama.”
“Dan kamu pikir kamu bisa menyelesaikannya dengan tidak berangkat.”
“Aku pikir...” Ia mengusap wajah. “Aku pikir kalau aku di sini, mimpi itu tidak akan menjadi benar.”
Rasa marah yang sejak tadi ia siapkan runtuh, tergantikan sesuatu yang lebih kusut. Miyu menarik napas panjang dan menahannya sampai dadanya sakit.
“Kanata. Aku tidak mau jadi alasan kamu berhenti menjadi dirimu.”
“Kamu bukan sedang menjadi...”
“Dengarkan dulu.” Ia mengangkat satu tangan. “Dua tetua itu, buku silsilah itu, rumah induk itu. Semua itu bagian dari kamu sebelum aku datang. Kalau aku membuatmu memotong sebagian dirimu supaya aku merasa aman, nanti saat bayi ini sudah besar dan menanyakan kenapa ayahnya tidak pernah pulang ke tempat asalnya, aku harus menjawab apa? Karena Ibu penakut?”
“Kamu bukan penakut.”
“Aku penakut. Aku bilang begitu sendiri ke Dokter Raina.” Ia tersenyum miring, getir. “Tapi aku tidak mau jadi penakut yang mengikat orang di rumah.”
“Kamu alasan aku tinggal, Miyu.”
“Aku tahu. Dan aku mau kamu pergi karena kamu bisa pulang. Itu beda.” Suaranya bergetar. “Kalau kamu tinggal karena takut, aku akan terus menghitung berapa lama sampai kamu menyesal. Kalau kamu pergi dan pulang, aku punya bukti bahwa orang bisa pergi dan kembali. Aku butuh bukti itu.”
Kanata memandangnya lama. Di luar jendela, Santa pura-pura memeriksa pohon kecapi dengan serius.
“Alasan perjalanannya sudah kuceritakan,” katanya akhirnya. “Buku silsilah. Namamu, ditulis tanganku, di hadapan mereka.”
“Aku ingat. Berarti kalau kamu tidak datang?”
“Mereka tidak akan memusuhi kita. Tetapi nama kalian tidak akan tertulis di halaman itu. Tidak akan ada yang melarang apa pun. Hanya...” Ia mencari kata. “Anak kita akan tumbuh dengan satu halaman kosong di rumah induk.”
“Dan kamu pikir aku mau anak kita punya halaman kosong karena mimpiku?”
“Aku pikir tidak ada halaman yang lebih penting dari kamu.”
Miyu menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, matanya basah tetapi suaranya mantap. “Itu manis. Jangan ulangi. Berangkat.”
“Miyu.”
“Berangkat, Kanata. Tiga hari. Aya dan Nana menginap di sini. Dokter Raina bilang belum bisa memutuskan, jadi kita tunggu kontrol berikutnya, tetapi tanggalnya kita tetapkan sekarang, supaya aku berhenti takut pada sesuatu yang tidak punya tanggal.”
Pintu belakang terbuka sedikit. Wajah Santa muncul, berbisik, “Boleh masuk?”
“Tidak,” kata mereka serempak.
Pintu menutup.
***
Siang itu Kanata menelepon Mikan dari halaman belakang, dengan Miyu duduk di bangku sebelahnya sebagai pengawas.
“Aku berangkat,” katanya, dalam bahasa Jepang.
“Syukurlah.” Suara Mikan terdengar seperti orang menaruh gelas yang sudah lama ia pegang. “Pak Tua sudah menyuruh pilot jetnya bersiap sejak Selasa. Aku bilang kau pasti bodoh dulu sebelum waras. Ia bilang itu kebiasaan keluarga.”
“Mikan.”
“Ya, Sepupu Kecil?”
“Terima kasih sudah tidak memberi tahu Hosho bahwa aku membatalkan.”
“Aku memang berniat. Tetapi nasibmu terlalu lucu untuk dibocorkan.”
Miyu tertawa di sampingnya, dan tertawa itu menjadi tanda pertama dalam sepekan bahwa dadanya sedikit lebih ringan.
***
Aya dan Nana datang pukul lima sore dengan sebungkus bakso dan satu map. Di teras belakang, di bawah pohon kecapi, Nana meletakkan map itu di meja seperti hakim meletakkan palu.
“Gue baca chat Miyu tadi siang,” katanya. “Kanata, lo membatalkan, lo menyembunyikan, lo ketahuan, lo sekarang mau berangkat. Itu empat pelanggaran dalam satu pekan. Gue nggak mau menghukum, tapi gue mau protokol.”
“Protokol,” ulang Kanata.
“Enam butir. Satu, lo berangkat Senin pagi dan pulang Rabu malam, tiga hari, nggak lebih. Dua, ponsel lo menyala setiap saat, termasuk di dalam pesawat selama bisa dan langsung begitu mendarat transit. Tiga, kalau gue telepon, lo angkat dalam tiga dering.”
“Dua dering,” kata Kanata.
Nana menatapnya sebentar. “Boleh. Empat, kalau Miyu bilang pulang, lo pulang, nggak peduli tetua atau Hosho.”
“Setuju.”
“Lima, Santa ikut.”
“Saya ikut,” sahut Santa dari kursi di pojok, yang sejak tadi diam supaya dilupakan. “Dan saya bersumpah tidak bocor mulut.”
“Lo udah bocor mulut tadi pagi, Santa,” kata Nana.
“Itu kecelakaan.”
“Enam,” lanjut Nana, mengabaikannya, “Aya dan gue menginap di sini bergantian mulai Minggu malam sampai Kanata pulang. Dokter Raina dan Dokter Devan dikabari hari ini, supaya kalau ada yang terjadi, rumah sakitnya sudah kenal.”
Aya, yang selama ini hanya mencatat, mengangkat tangan. “Gue nambahin satu. Miyu boleh nelepon kapan pun, termasuk jam tiga pagi. Cuma buat dengar suara Kanata bilang aku di sini.”
Mata Miyu panas. Ia memegang tangan Aya dan menggenggamnya erat.
“Satu lagi,” tambahnya pelan. “Kanata bilang aku di sini dalam bahasa Jepang.”
Kanata menunduk hormat, begitu dalam sampai Santa terkesiap. “Setuju. Semua enam. Dan yang ketujuh.”
Miyu mengambil kalender meja dari rak, melingkari satu kotak dengan pena merah, lalu menunjukkannya kepada semua orang. Senin, enam belas hari lagi.
“Berangkat,” katanya. “Pulang Rabu. Titik.”