Cincin di jari manis Miyu masih membuatnya berhenti di tengah kalimat setiap kali cahaya jatuh mengenainya, lima hari setelah “ya” di meja enam.
“Lo ngelamun lagi,” kata Aya.
“Gue nggak ngelamun.”
“Lo natap tangan lo dua menit. Gue hitung.” Aya menunjuk selembar kertas di tengah meja ruang tamu rumah kontrakan, tempat ia dan Nana dan Miyu mengelilingi daftar yang baru terisi separuh. “Kita lagi bikin daftar tamu. Daftar. Tamu. Fokus.”
Pagi Minggu itu sinar matahari masuk dari jendela depan dan memantul di sepiring pisang goreng. Nana, dengan pulpen terselip di telinga dan laptop terbuka, bertindak sebagai sekretaris. Aya sebagai penyeleksi. Miyu, yang seharusnya menjadi pusat acara, justru duduk di pojok sofa dengan bantal di pangkuan dan wajah orang yang sedang memandangi mimpi baik.
“Tanggalnya sudah pasti Sabtu itu, kan?” tanya Nana. “Sabtu kelima dari hari ini.”
“Sudah. Dokter Raina bilang pekan ketiga puluh satu masih nyaman buat berdiri lama. Lebih dari itu, gue nggak yakin bisa pakai gaun apa pun tanpa kelihatan kayak balon.”
“Balon yang cantik.”
“Balon tetap balon, Na.” Miyu mengambil pulpen. “Oke. Daftar. Aya, Nana, tentu saja. Ira, Reno, Pak Rudi, Pak Edo.”
“Anggara dan Devan,” tambah Aya. “Kalau Ira ngajak Anggara dan Devan nggak diundang, Devan bakal ngambek selama setahun dengan muka datar.”
“Devan diundang.” Miyu menulis. “Emily dan Rei dari Haru Media. Pak Ghani. Bu Ita.”
“Lo yakin sama Pak Ghani?” tanya Nana, alis naik. “Beliau yang mem-PHK lo.”
“Beliau mem-PHK tujuh orang karena kantornya hampir bangkrut, Na. Dia nggak jahat. Dia cuma kehabisan pilihan.” Miyu mengetuk pulpen ke dagu. “Dan tanpa Haru Media, gue nggak ketemu Ira sama Reno di Anomali, nggak ke club, nggak...”
Ia berhenti. Ruang tamu mendadak sunyi. Nana dan Aya bertukar pandang.
“Nggak ketemu dia,” sambung Miyu pelan, dan tersenyum. “Jadi, Pak Ghani diundang.”
Nana menghela napas lega dan mengetik nama itu. “Dari pihak Kanata?”
“Mikan, Mizuki, Santa, Revindo, Pak Dali, Pak Indra.” Miyu menggulir daftar dengan jari. “Sekitar enam puluh orang. Cukup kecil. Cukup untuk kita semua duduk sambil memandang satu sama lain.”
Di baris paling bawah, di luar kolom yang ditulis Nana, Miyu menambahkan satu nama dengan pensil, bukan pulpen. Tulisannya tipis dan nyaris tak terbaca, dan ia menutupnya dengan telapak tangan sebelum Aya sempat mencondongkan badan.
“Apa itu?”
“Nanti. Belum yakin.” Miyu menggeser kertas ke arah Nana. “Jangan dihitung dulu.”
Aya dan Nana bertukar pandang lagi, kali ini lebih lama, tapi tak bertanya lebih jauh.
“Satu lagi,” kata Nana, menepuk meja dengan pulpen. “Soal siapa yang mengantar lo. Gue di sisi kanan.”
“Kenapa lo di kanan?”
“Karena tangan kanan gue lebih kuat.”
“Gue lebih tinggi dari lo, Na. Jadi gue yang harus di kanan supaya Miyu nggak miring.”
“Gue pengacara. Gue bisa nego.”
“Gue penulis. Gue bisa bikin lo jadi tokoh antagonis di naskah berikutnya.”
“Kalian,” kata Miyu, mulai tertawa, “gue bisa jalan sendiri, lho.”
“Nggak,” jawab Aya dan Nana bersamaan, dan suara mereka begitu sama sampai ketiganya terdiam, lalu terbahak.
***
Pukul sepuluh lewat lima puluh, di apartemen Kanata, Miyu menemukan lelaki itu duduk di sofa dengan sebuah kartu catatan di tangan dan wajah orang yang sedang menghafal naskah eksekusi.
“Apa itu?”
“Kalimat pembuka.” Kanata menyodorkan kartu itu. Tertulis rapi dengan tinta hitam: Dengan hormat, saya ingin menyampaikan kabar yang telah kami pertimbangkan secara matang.
“Kanata, ini Hosho, bukan dewan direksi.”
“Dia lebih menakutkan dari dewan direksi.”
“Coba bilang: “Aku mau menikah”.”
“Aku tidak bisa mengatakannya begitu kepada Hosho.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku bilang begitu,” Kanata menelan ludah, “aku akan terdengar seperti anak kecil.”
Miyu merebut kartu itu, merobeknya dua kali, dan memasukkannya ke saku blusnya. “Katakan apa adanya. Dia menghargai itu.”
Pukul sebelas, di apartemen Kanata di lantai dua puluh dua, layar besar di dinding ruang tamu menyala menampilkan wajah tua yang tegap di balik meja kerja kayu gelap. Latar di belakangnya adalah rak buku yang lebih tinggi dari langit-langit rumah mana pun yang pernah Miyu masuki.
“Tuan Hosho,” kata Miyu dan Kanata nyaris bersamaan.
“Kalian berdua.” Hosho menatap layar dengan alis sedikit terangkat. Di pangkuannya tergeletak tongkat kayu tipis yang tampak tidak pernah jauh dari jangkauan. “Aku diberi tahu sesuatu yang penting. Bicaralah.”
Kanata duduk tegak di sisi Miyu, jarak antara bahu mereka tidak lebih dari selebar telapak tangan. Ia membuka dengan kalimat yang kaku dan sudah dilatih: “Saya ingin menyampaikan bahwa Miyu menerima lamaran saya. Pernikahan akan dilangsungkan Sabtu kelima dari hari ini, dalam acara kecil, dengan sekitar enam puluh tamu.”
Hosho tidak langsung berbicara. Sorot matanya berpindah dari Kanata ke Miyu, lalu ke cincin di jari Miyu yang tertangkap kamera. Ia mengamati cincin itu cukup lama. Terlalu lama untuk sebuah kebetulan.
“Cincin itu sederhana,” katanya.
“Itu cincin yang saya pilih sendiri, Tuan Hosho,” sahut Miyu, dan suaranya mantap. “Cincin yang saya tolak dulu karena alasan yang bukan salah cincinnya. Sekarang saya memilihnya.”
Hosho mengangguk lambat, satu kali. “Itu lebih baik daripada permata berukuran buah. Aku menyetujui.”
Kanata mengembuskan napas panjang yang tidak sadar ia tahan. Miyu merasakan ketegangan di sampingnya mengendur, dan ia hampir tertawa.
“Mengenai dokumen,” lanjut Hosho, tanpa menunggu. “Ada pengacara yang telah lama mengurus berkas keluarga kita di Jakarta. Namanya Mori. Dia akan datang kepada kalian dan menyiapkan semua yang diperlukan: pengakuan anak, pengaturan harta, hal-hal lain. Hormati dia. Dia orang yang teliti dan tidak suka dibantah.”
“Mikan sudah menyebutnya,” kata Kanata. “Saya sudah memberi tahu dia untuk menunggu kabar dari Anda.”
“Mikan menyebut hal-hal lebih cepat dari yang diperintahkan,” sahut Hosho datar. Lalu ia menoleh ke Miyu. “Kehamilanmu. Sehat?”
“Sehat, Tuan Hosho. Dokter bilang pekan kedua puluh enam, bayinya aktif.”
“Makan dagingnya matang?”
“Matang, Tuan.”
“Bagus.” Itu semua yang ia katakan tentang kesehatan, dan Miyu mengerti bahwa itu adalah bentuk perhatian paling panjang yang pernah ia terima dari lelaki itu.
“Dan wali?” tanya Hosho, kembali berpaling kepada Miyu. “Siapa yang akan mengantarmu? Seharusnya ayah atau kakekmu. Mereka sudah tiada. Jika kamu berkenan, aku bersedia...”
“Terima kasih, Tuan Hosho.” Miyu memotong dengan lembut, tapi tegas. “Saya menghargai tawaran Anda. Tapi Aya dan Nana yang akan mengantar saya.”
“Dua sahabatmu.”
“Keluarga saya.”
Hosho memandangnya lama sekali. Tidak ada tekanan dalam tatapan itu, hanya penilaian orang tua yang sedang menimbang kata “keluarga” dan menemukannya benar.
“Itu pantas,” katanya akhirnya. “Aku akan berdiri sebagai keluarga Kanata, dan mereka sebagai keluargamu. Itu adil.”
Miyu tersenyum. Matanya panas. “Terima kasih.”
“Soal para tetua.” Nada Hosho mengeras sedikit, tapi bukan kepada mereka. “Beberapa dari mereka akan bersuara. Itu urusanku, bukan urusan kalian. Kalian cukup menikah. Biar aku yang memastikan tidak ada yang berani datang ke pintu kalian dengan pertanyaan.”
“Hosho,” kata Kanata, “saya bisa...”
“Kau bisa mengurus istrimu dan anakmu. Selebihnya tugas orang tua.” Hosho mengakhiri dengan nada final. Layar sempat membeku sejenak ketika ia menekan tombol. “Mori datang Jumat. Terima dia.”
Layar padam. Di ruang tamu apartemen itu, Kanata dan Miyu duduk lama tanpa suara. Lalu Miyu menggenggam tangannya.
“Dia bilang tugas orang tua,” bisik Miyu.
“Aku dengar.”
“Dia bertanya apakah dagingku matang.”
“Aku dengar.” Kanata menatap layar hitam di depan mereka seperti baru saja melihat gunung berpindah tempat. “Aku butuh duduk lebih lama.”
“Kamu sudah duduk.”
“Aku butuh duduk lebih lama lagi.”