“Jadi,” kata Miyu sambil mengikat tali sepatunya di bangku belakang Anomali, “gue naik mobil Range Rover ke tempat yang mahal, dan gue harus pura-pura nggak norak.”
“Lo nggak norak, lo cuma jujur,” sahut Ira, yang bersandar di kusen pintu dengan bibir bergerak-gerak menahan senyum. “Dan jangan pura-pura apa-apa. Lo kelihatan bagus.”
“Gue pakai celemek tadi pagi.”
“Sekarang nggak.” Ira menyodorkan sebuah blus putih bersih dari lemari staf. Itu blus cadangan yang selalu ia taruh untuk keadaan darurat, dan keadaan darurat hari itu adalah Miyu. “Pakai. Rambut lo ikat rendah. Jangan gigit bibir.”
“Gue nggak gigit bibir.”
“Lo gigit tiap Kanata datang.”
Miyu membuka mulut untuk membantah, lalu menyadari bahwa Ira tidak salah, dan memutuskan memakai blus itu saja.
Mobil hitam itu sudah menunggu di depan kafe pukul tiga lewat lima belas. Kanata keluar dari kursi pengemudi sebelum Miyu sempat mendekati pintu, dan membukakannya tanpa berkata apa-apa. Ia mengenakan setelan abu-abu muda, rambutnya sedikit berantakan, dan di wajahnya ada gurat senang yang berusaha ia sembunyikan dengan sangat tidak berhasil.
“Selamat sore.”
“Selamat sore,” balas Miyu. “Kamu tersenyum.”
“Tidak.”
“Kamu tersenyum sekarang.”
“Itu karena kamu bilang.” Kanata menutup pintunya dengan pelan, memutar ke sisi lain, dan ketika mobil bergerak, ia melirik kaca spion. “Hosho tidak ada di belakang kita. Saya sudah memeriksa tiga kali.”
“Sedan hitam kemarin juga nggak ada?”
“Saya minta Santa menanyakannya kepada staf Hosho. Katanya pengawasan hari ini dicabut.” Kanata mengganti gigi. “Itu bisa berarti baik. Bisa juga berarti Hosho sudah melihat cukup dan tidak perlu lagi.”
“Kamu selalu menafsirkan semua dari dua sisi?”
“Santa bilang itu kebiasaan buruk. Ia bilang saya harus memakai bahasa manusia, bukan bahasa rapat.” Kanata berdeham. “Baik. Bahasa manusia. Saya gugup. Saya belum pernah membawa orang melihat tempat ini sebelum dibuka, dan saya tidak tahu apa yang akan kamu pikirkan.”
“Saya akan memikirkan apa yang saya lihat.”
“Itu yang saya takutkan,” sahut Kanata. “Dan yang saya harapkan.”
***
Ruang itu terletak di lantai dasar sebuah gedung ritel di Jalan Sudirman, dan dari luar hanya terlihat dinding kaca yang ditutupi kertas cokelat. Kanata membuka pintu samping dengan kartu, dan bau cat baru dan kayu menyambut mereka. Di dalam, sebuah ruangan putih luas berlantai beton halus. Rak-rak kayu terang sudah berdiri separuh. Ada papan gambar di sudut, tiang-tiang lampu di tengah ruang, dan di dinding belakang terpasang satu kata dari huruf emas, Seiko Sai, dengan huruf yang sebagian belum selesai ditempel.
“Ini,” kata Kanata.
Miyu berdiri di ambang, dan untuk beberapa detik tidak bisa berkata-kata. Dalam kepalanya, perusahaan Kanata adalah gedung kaca tinggi, nama di kartu nama, dan sedikit angka yang tidak ia mengerti. Ia tidak pernah membayangkan bahwa semua itu bisa berwujud sebuah ruang kosong yang berbau lem dan serbuk kayu, dan dikerjakan orang-orang yang sibuk dengan penggaris.
“Besar sekali.”
“Kecil,” ralat Kanata. “Ini toko pop-up. Hanya delapan pekan. Tetapi saya yang memilih lokasinya, dan saya ingin melihat bagaimana rasanya masuk ke sini sebagai tamu pertama.”
“Dan hasilnya?”
“Saya ingin kamu bilang.”
Miyu melangkah masuk. Ia menyentuh rak kayu dengan ujung jari, lalu menatap langit-langit, lalu menatap papan gambar yang penuh sketsa. “Wanginya kayu,” ujarnya. “Bukan wangi toko. Orang akan merasa dirinya masuk rumah, bukan etalase.”
Kanata terdiam. “Itu yang saya minta kepada perancangnya,” katanya akhirnya, nyaris tak terdengar. “Dan belum ada yang menyebutnya.”
Pintu di sisi lain terbuka dan tiga lelaki masuk dengan langkah tergesa. Yang paling depan berusia tiga puluhan, bersetelan biru, wajahnya serius tetapi matanya ramah. “Tuan Saionji, maaf, saya baru—” Ia berhenti, melihat Miyu. “Oh.”
“Revindo,” ucap Kanata, menunjuk dengan dagu. “Ini Pak Dali dari bagian pengembangan, dan Pak Indra dari administrasi dan keuangan. Bapak-bapak, ini Nona Agatha Miyu Kouzuki. Teman saya.”
Ada sebuah jeda sangat tipis. Miyu mendengar kata “teman” dan merasakannya seperti batu kecil di sepatu, bukan karena salah, tetapi karena sudah terlalu sering ia dengar. Tetapi sebelum Kanata menoleh, ia mengangkat dagu dan tersenyum kepada tiga lelaki itu.
“Selamat sore, Bapak-bapak. Saya hanya mampir melihat-lihat. Terima kasih sudah mengizinkan.”
“Mari, Nona, jangan sungkan.” Pak Dali, yang berumur lima puluhan dan berkumis abu-abu, mengulurkan tangan. “Kalau mau, saya tunjukkan konsep lantainya.”
“Saya ingin sekali.”
Pak Dali membawanya berkeliling: area etalase, meja kasir yang masih terbungkus plastik, ruang coba di belakang tirai linen. Miyu bertanya sedikit dan mendengarkan banyak. Ketika mereka tiba di dekat pintu masuk, ia berhenti.
“Tidak ada tempat duduk di sini?”
“Untuk apa, Nona? Orang datang untuk melihat produk.”
“Orang juga datang menemani. Pasangan yang menunggu, ibu yang membawa anak, orang yang kakinya capek.” Miyu menepuk perutnya tanpa sadar, lalu cepat menurunkan tangan. “Kalau mereka merasa boleh duduk, mereka akan tinggal lebih lama. Kalau tidak, mereka berdiri dan ingin pulang.”
Pak Dali menatapnya sebentar, lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dan menulis. “Satu bangku panjang dekat pintu. Terima kasih, Nona.”
Dari kejauhan Kanata memperhatikan mereka, dan Miyu, tanpa menoleh, tahu persis dari mana tatapan itu datang.
Kanata mengikuti dari belakang, dua langkah di belakang Miyu, dan dari wajahnya sebagian tampak bangga dan sebagian lagi seperti orang yang baru sadar bahwa sesuatu yang ia sembunyikan di balik laci kini dipajang di tengah ruangan.
***
Dua puluh menit kemudian, Miyu berdiri sendirian di dekat tiang di sisi belakang, memegangi sebotol air mineral yang disodorkan Pak Indra. Kanata sedang di sudut lain, mendengarkan Revindo dan Pak Dali berbicara tentang jadwal pemasangan lampu. Di dekat Miyu, di balik rak setengah jadi, dua pekerja perempuan dalam seragam kerja berbisik sambil menyusun kotak kardus.
“Itu temannya, katanya.”
“Teman, ya. Dia kelihatan hamil.”
“Hush. Nanti kedengaran.” Terdengar bunyi kardus digeser. “Lagian Pak Hosho udah lama maunya Nona Christine. Semua orang di kantor Tokyo tahu. Kalau Nona Christine datang pekan ini, ya selesai sudah.”
“Selesai gimana?”
“Ya, pokoknya selesai. Calon pilihan Pak Hosho nggak pernah kalah.”
Miyu menegakkan punggung. Tangannya yang memegang botol air tetap tenang, seolah botol itu bukan miliknya. Ia tidak bergerak dan tidak menoleh. Sesuatu yang dingin turun pelan dari tengkuk ke punggungnya, seperti tetes air es, lalu ia mengingat bahwa ia pernah mendengar nama itu dari Mikan lewat layar, dan dari Aya, dan dari Santa.
“Miyu.”
Ia menoleh. Kanata sudah berdiri di sampingnya, menatap wajahnya dengan alis sedikit tertaut. “Kamu baik-baik saja?”
“Hanya ruangannya.” Miyu tersenyum. “Besar dan banyak orang.”
“Kita bisa pulang.”
“Sebentar lagi.”
Ponsel Kanata bergetar di saku jasnya. Ia mengeluarkannya, membaca layar sambil masih memandang Miyu, dan Miyu melihat bagaimana wajah itu berubah. Tidak secara dramatis. Hanya senyum yang tadi hidup di sudut bibirnya perlahan menghilang, seperti lampu yang diredupkan oleh tangan yang sangat hati-hati.
Santa: Pesawat Christine mendarat pukul 18.20. Hosho sudah menyiapkan mobil. Aku tidak tahu apa yang ia rencanakan.
Kanata mengunci layar. “Santa,” katanya, seolah itu menjelaskan sesuatu.
“Siapa yang mendarat?” tanya Miyu pelan, walau ia sudah punya dugaan.
“Saya sudah dengar namanya,” lanjut Miyu, sebelum Kanata sempat menjawab. “Dari dua pekerja itu. Dari Mikan. Dari Santa. Hanya saya yang belum mendengarnya dari kamu.”
“Christine,” ujar Kanata. Satu kata itu keluar seperti sesuatu yang sudah ia pegang terlalu lama. “Ia mendarat malam ini. Hosho menjemputnya sendiri.”