Miyu tidak membahas bisikan Santa di kafe. Ia tidak membahasnya sampai hari Minggu pagi, ketika duduk di kursi depan Range Rover hitam dengan tas kecil di pangkuan, dan jalanan Jakarta yang lengang meluncur di balik kaca.
Kanata menyetir dengan dua tangan di kemudi, punggung lurus, mata ke depan. Sejak mereka berangkat dari rumah kontrakan Miyu pukul delapan, pria itu baru mengucapkan sebelas kata. Dua di antaranya “Selamat pagi”. Sisanya soal sabuk pengaman dan AC.
Diamlah. Kata itu masih menempel di telinga Miyu. Kau menyukainya, bukan? Dan dijawab dengan satu kata pendek tanpa bantahan.
“Anda tidak perlu mengantar saya,” ujar Miyu, memecah sunyi.
“Anda sudah mengatakannya tiga kali.”
“Tiga kali tidak cukup untuk membuat Anda berubah pikiran?”
“Tidak.” Kanata mengintip kaca spion. “Nona Nana sedang menyiapkan berkas. Nona Aya syuting di luar kota. Kendaraan umum bukan pilihan untuk wanita hamil yang baru keluar rumah sakit. Itu logika, bukan kebaikan.”
“Itu keduanya.”
Kanata terdiam sebentar. Sudut bibirnya bergerak sedikit sebelum ia kendalikan. “Kalau begitu keduanya.”
Miyu menunduk menatap tas di pangkuannya. Ia bisa saja menjawab sesuatu yang lebih ringan, tetapi dadanya sibuk dengan hal lain. Ini hari pertama setelah sekian lama ia pergi ke makam tanpa harus mencari-cari alasan agar tidak terlihat sendirian. Dan orang yang duduk di sampingnya adalah ayah dari anak di dalam rahimnya, yang masih mengira ia hanya seorang teman.
Di depan gerbang, seorang ibu menjajakan bunga di keranjang rotan. Kanata menghentikan mobil di bahu jalan, dan sebelum Miyu sempat membuka sabuk, tangannya sudah merogoh dompet.
“Saya yang bayar,” ujar Miyu cepat.
“Anda tidak perlu—”
“Ini untuk Papa, Mama, dan Kakek. Bukan untuk Anda.” Miyu menatapnya dengan tegas. “Kalau saya biarkan Anda membayarnya, rasanya salah.”
Kanata menutup dompet perlahan. “Baik.”
Miyu turun, membeli seikat sedap malam dengan uang dari saku celemeknya sendiri, lalu kembali dan mengamati ibu penjual bunga yang tersenyum geli ke arah mobil. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan perempuan itu, dan tidak mau tahu.
Gerbang TPU Tanah Abang muncul beberapa puluh meter di depan. Kanata memarkir mobil di bawah pohon rindang, mematikan mesin, dan tidak membuka sabuk pengamannya.
“Saya menunggu di sini,” ujarnya.
“Tuan Saionji—”
“Itu tempat keluarga Anda. Saya tidak berhak masuk tanpa diundang.”
Miyu menatapnya lama. Kemudian ia membuka pintu dan melangkah turun, membawa bunganya, dan menutup pintu pelan-pelan.
***
Rumput di antara nisan-nisan itu sudah panjang, dan Miyu berlutut di tiga makam yang berjajar dengan batu abu-abu yang sama. Ia mencabuti rumput liar sambil bicara pelan, seperti orang bercerita di meja makan.
“Pa. Ma. Kakek. Maaf, aku telat. Hari itu aku nggak datang, dan aku sempat takut kalian marah.” Jemarinya menyentuh nama di nisan tengah. “Aku dipecat lagi. Yang ketiga. Proyek sastra yang dulu kukerjakan di Haru Media, yang kubilang paling kuat, nggak sempat selesai. Kantornya yang sakit, bukan aku. Tapi tetap saja terasa seperti aku.”
Angin menggerakkan daun beringin di atasnya. Di kejauhan, seorang tukang kebun menyapu jalan setapak.
“Terus aku kerja di kafe, dan ada orang-orang yang baik di sana. Lalu aku sakit. Dan…” Suaranya patah. Miyu menunduk, meletakkan bunga di atas rumput. “Aku hamil, Kek. Dua bulan lebih. Maaf. Aku tahu Kakek bakal bilang aku terlalu ceroboh.”
Kanata berdiri di tepi jalan setapak, sepuluh langkah di belakangnya. Ia sudah menutup mobil dan menunggu selama dua puluh menit sebelum akhirnya mengambil keputusan yang menurutnya terdengar lancang tetapi tidak tertahankan. Ia berdiri di sini, diam, tangan di sisi tubuh, dan tidak berani mendekat.
Miyu menoleh. Ia tidak terkejut. Mungkin ia sudah mendengar langkah sepatu pria itu sejak tadi.
“Tuan Saionji. Anda boleh mendekat.”
“Saya tidak ingin mengganggu.”
“Anda tidak mengganggu.” Miyu menggeser sedikit, memberi ruang di samping bunga. “Saya ingin Anda mendengar ini, kalau Anda tidak keberatan.”
Kanata melangkah ke samping nisan, lalu membungkuk dalam, dengan punggung lurus dan tangan di depan tubuh, seperti orang yang diajari sopan santun sejak kecil. Ia tidak mengucapkan apa pun. Saat ia menegakkan tubuh, wajahnya tetap tenang, tetapi matanya terlihat lebih gelap.
“Ini Papa dan Mama,” ujar Miyu, menunjuk dua nisan di sisi kiri. “Mereka dokter. Dua-duanya. Meninggal waktu saya sepuluh tahun.”
“Saya turut berduka.”
“Sudah lama sekali. Tapi saya masih ingat bau rumah sakit di baju Mama. Disinfektan dan lavender.” Miyu tersenyum tipis. “Dan ini Kakek. Setelah Papa dan Mama pergi, Kakek yang tinggal bersama saya. Beliau yang mengajari saya menyeduh teh dengan benar. Air jangan mendidih, daun jangan diaduk, dan sabar sampai warnanya keluar. Lima tahun lalu Kakek juga pergi.”
“Anda tidak punya kerabat lain.”
“Tidak ada.” Miyu menatap rumput. “Aya dan Nana itu keluarga yang saya pilih. Mereka lebih dari cukup. Tapi kadang saya merasa kecil sekali, seperti satu-satunya orang yang tersisa dalam foto lama.”
Kanata tidak menanggapi. Ia mengambil ember plastik yang ditinggalkan tukang kebun di dekat kran, mengisinya dengan air, lalu kembali dan membasuh debu dari nisan sang kakek dengan sapu tangan. Gerakannya pelan dan teliti, seperti sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berharga.
Miyu memperhatikannya sebentar. “Anda tidak perlu—”
“Saya ingin.” Kanata memeras sapu tangan itu. “Beliau yang mengajari Anda menyeduh teh. Itu cukup alasan.”
Miyu tertawa kecil, serak, dan menyeka sudut mata dengan punggung tangan. “Kakek pasti suka Anda. Beliau selalu suka orang yang menyapu dulu sebelum bicara.”
“Saya akan menganggapnya pujian.”
“Itu memang pujian. Hanya saja, saya takut…”
Ia berhenti. Kanata menunggu, tidak mendesak, tidak mengisi kekosongan.
“Saya takut,” bisik Miyu. “Saya takut anak ini tumbuh seperti saya. Sendirian. Tidak ada kakek, tidak ada nenek, tidak ada paman atau bibi yang datang di hari ulang tahun. Cuma saya, dan satu makam yang saya kunjungi setahun dua kali.”
Tangan Miyu gemetar di atas pahanya. Ia tidak sadar sampai Kanata mengubah posisi dan berjongkok di sampingnya, cukup dekat untuk membuat Miyu mencium aroma mint yang samar, cukup jauh untuk tidak menyentuhnya.
“Nona Agatha.”
“Ya?”
“Dia tidak akan sendirian,” ujar Kanata pelan. “Dia punya ibu yang datang membawa bunga ke makam orang tuanya. Saya belum pernah melihat sesuatu yang lebih tepat untuk mengajari seseorang apa artinya memiliki keluarga.”
Miyu menoleh. Mata hijaunya berkaca-kaca, dan ia buru-buru menunduk lagi.
Selama satu menit mereka hanya diam. Tukang kebun di kejauhan menyapu, dedaunan jatuh, dan suara kendaraan di jalan raya menjadi dengung tipis yang jauh.
“Tuan Saionji.” Miyu mengangkat wajah. Suaranya lebih stabil sekarang. “Ada sesuatu yang harus saya ceritakan kepada Anda. Bukan sekarang. Saya belum siap, dan saya ingin melakukannya dengan benar. Hari Sabtu depan, pukul empat sore. Di Taman Suropati. Maukah Anda menunggu sampai hari itu?”
Kanata menatap nisan di depannya, lalu menatap Miyu. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, bukan ketegangan, tetapi sesuatu yang lebih seperti orang yang memutuskan berdiri di tempatnya meski angin kencang.
“Sabtu, pukul empat,” ulangnya. “Saya sudah ada di sana sebelum Anda tiba.”