Pertemuan itu kembali di lantai dua puluh, di ruangan dengan jendela kaca yang memandangi kota seperti maket. Tapi kali ini Arman dan Nadia tidak lagi merasa seperti anak kampung yang tersesat. Mereka datang dengan kaki yang lelah keliling pasar, baju yang sederhana, tapi punggung yang tegak. Mereka sudah kehilangan begitu banyak hingga tidak ada lagi yang bisa membuat mereka gentar.
Pak Wira menyambut dengan senyum yang sama, kopi porselen yang sama. Tapi ada yang berbeda di matanya kali ini—bukan lagi memandang rendah, melainkan menilai dengan serius. StokJaya, ternyata, sedang kesulitan. Membakar uang untuk gratisan tidak membuat pedagang setia; begitu masa gratis habis dan harga naik, banyak yang kabur. Sementara Stok Pintar, dengan caranya yang sunyi dan jujur, justru tumbuh akar yang kuat di tanah yang StokJaya abaikan.
"Saya akui," kata Pak Wira, untuk pertama kalinya tanpa basa-basi madu, "saya salah menilai kalian. Saya kira menghancurkan kalian itu mudah. Ternyata kalian liat." Ia mencondongkan badan. "Maka saya tidak akan menghancurkan kalian. Saya akan membeli kalian."
Ia menyebut angka, dan kali ini bukan satu miliar. Ia menawarkan untuk membeli Stok Pintar—seluruhnya. Mengakuisisi perusahaan, menggabungkannya dengan StokJaya, dan memberi Arman serta Nadia angka yang membuat ruangan terasa berputar. Cukup untuk membuat keduanya tidak perlu bekerja lagi seumur hidup. Cukup untuk membeli rumah, membayar semua utang, membalas semua pengorbanan.
"Kalian masuk sebagai pemimpin teknologi di perusahaan gabungan," lanjut Pak Wira. "Gaji besar. Saham. Nama harum. Tidak ada lagi keliling pasar dengan kaki pegal. Tidak ada lagi mie instan. Kalian menang, Nak. Inilah kemenangan. Ambil."
Arman menatap angka di kertas itu. Untuk sesaat, seluruh hidupnya yang penuh kekurangan berkelebat—kos sempit, kopi sachet dingin, motor yang ia jual, wajah lelah Nadia, makam ibunya yang jarang ia kunjungi karena tak punya ongkos. Angka itu bisa menghapus semua penderitaan. Dan ia lelah. Tuhan, ia begitu lelah.
Tapi lalu ia bertanya, suaranya tenang, "Setelah Bapak beli, harga buat pedagang gimana?"
Pak Wira tersenyum, menganggapnya pertanyaan polos. "Tentu kita sesuaikan. Bisnis harus untung, Nak. Kita naikkan pelan-pelan. Pedagang yang sudah terlanjur pakai, mau tidak mau bayar. Itu strategi yang sehat. Begitu cara dunia bekerja."
Di situlah seluruh tawaran itu, dengan segala keindahannya, runtuh di mata Arman. Ia menoleh ke Nadia. Nadia tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya berbicara: ini keputusanmu juga, dan apa pun pilihanmu, aku tahu siapa kamu sebenarnya.
Arman teringat buku catatannya. Mulai dari nol. Bantu warung kecil jangan rugi. Ia teringat Pak Haji yang merasa bersalah hanya karena memilih yang gratis. Ia teringat ibunya, yang seandainya ada Stok Pintar dulu, mungkin warungnya tidak akan tutup. Menjual perusahaan kepada Pak Wira berarti menjual semua wajah itu. Berarti menyerahkan pedagang-pedagang yang percaya pada mereka untuk diperas pelan-pelan. Berarti uang besar dibayar dengan satu-satunya hal yang membuat hidupnya berarti.
"Pak Wira," kata Arman, dan suaranya sama sekali tidak gemetar, "terima kasih. Tawaran Bapak besar sekali. Lebih besar dari yang pernah saya bayangkan." Ia berhenti sejenak, lalu menatap mata pria itu langsung. "Tapi tidak. Kami tidak jual."
Ruangan itu hening. Pak Wira mengernyit, seolah tak yakin telinganya benar. "Kalian menolak... uang sebesar ini? Demi apa? Demi idealisme bocah?"
"Demi orang-orang yang percaya sama kami," jawab Nadia, ikut bicara, suaranya tegas. "Bapak lihat angka. Kami lihat wajah. Kalau kami jual ke Bapak, dalam setahun harga naik, pedagang menjerit, dan semua yang kami bangun jadi mesin pemeras. Kami nggak bikin Stok Pintar buat itu."
Pak Wira bersandar di kursinya, dan senyumnya menghilang sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, topengnya jatuh, dan yang tampak adalah dingin yang sebenarnya. "Kalian pikir kalian pahlawan," katanya pelan, berbahaya. "Tapi pasar tidak peduli pada pahlawan. Kalian menolak saya dua kali. Tidak akan ada ketiga kalinya. Saya akan pastikan kalian belajar bahwa idealisme tidak bisa dimakan."
Arman berdiri, dan Nadia ikut berdiri di sampingnya. "Mungkin nggak bisa dimakan, Pak," kata Arman. "Tapi tanpa itu, makan sebanyak apa pun nggak akan pernah cukup."
Mereka berjalan keluar dari ruangan kaca itu, meninggalkan satu miliar dan jauh lebih banyak lagi di belakang mereka. Di dalam lift yang turun, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, dan kali ini tidak ada yang menariknya. Mereka saling pandang—dua orang yang baru saja menolak menjadi kaya raya, namun merasa lebih kaya daripada sebelumnya.
"Kita gila ya, Man?" bisik Nadia, antara tertawa dan menangis.
"Gila banget," jawab Arman. Lalu ia menggenggam tangan Nadia, kali ini dengan sengaja. "Tapi setidaknya kita gila bareng."
Mereka belum tahu apa yang akan dilakukan Pak Wira selanjutnya. Tapi untuk pertama kalinya, mereka tidak takut.