Bu Linda datang ke ruko di hari Selasa, membawa map dan senyum hangat yang khas. Sebagai perwakilan investor sosial dan board observer, ia datang sebulan sekali—bukan untuk menyetir, tapi untuk mendengar dan sesekali bertanya hal-hal yang tidak nyaman. Kali ini, pertanyaannya tidak nyaman.
"Pertumbuhan kalian luar biasa," katanya, menata kacamatanya, setelah Arman dan Nadia mempresentasikan angka. "Ribuan pengguna baru. Reputasi makin kuat. Saya bangga. Tapi—" ia menjeda, menatap mereka bergantian, "—saya juga harus jujur sebagai orang yang menjaga dana ini. Pengguna naik, tapi pendapatan kalian datar. Server makin mahal, tim makin besar, biaya naik. Kalau pola ini terus, dalam berapa bulan kalian kehabisan dana?"
Arman dan Nadia bertukar pandang. Itu pertanyaan yang selama ini mereka hindari, karena jawabannya tidak menyenangkan.
"Sekitar delapan bulan," kata Arman jujur. "Mungkin sepuluh kalau kami irit."
Bu Linda mengangguk pelan. "Saya bukan Pak Wira. Saya nggak akan maksa kalian naikin harga sampai pedagang menjerit. Itu melanggar kenapa saya investasi di kalian sejak awal." Ia mencondongkan badan. "Tapi saya juga nggak bisa biarin kalian jadi amal yang mati pelan-pelan. Perusahaan yang bangkrut nggak bisa nolong siapa-siapa. Idealisme yang nggak berkelanjutan itu bukan idealisme—itu bunuh diri yang ditunda."
Kalimat itu menohok. Arman menelan ludah. Selama ini ia memegang janji "murah, sekali bayar ringan, milik pedagang selamanya" seperti sumpah suci. Tapi Bu Linda benar—janji yang membuat perusahaan mati tidak akan pernah ditepati, karena perusahaannya keburu tidak ada.
"Kami nggak mau ngkhianatin pedagang," kata Nadia, suaranya tegas tapi ada gusar di dalamnya. "Begitu kami mulai mikirin untung di atas mereka, kami jadi StokJaya versi pelan."
"Saya nggak minta kalian khianatin mereka," kata Bu Linda sabar. "Saya minta kalian dewasa. Ada perbedaan besar antara memeras pedagang kecil dan menemukan cara sehat untuk hidup. Tugas kalian bukan memilih antara prinsip dan uang. Tugas kalian menemukan model di mana keduanya nggak bertabrakan. Kalau itu gampang, semua orang udah melakukannya."
Setelah Bu Linda pergi, Arman dan Nadia duduk lama di tangga belakang ruko, tempat mereka biasa berpikir.
"Dia bener, kan?" kata Arman akhirnya.
Nadia memeluk lututnya. "Aku benci kalau dia bener. Tapi iya." Ia menghela napas. "Aku takut, Man. Tiap kali kita mulai mikirin uang, aku takut kita pelan-pelan jadi yang dulu kita lawan. Pak Wira juga mungkin dulu mulai dari niat baik."
Arman menatap gang di depannya. "Aku nggak tahu Pak Wira dulu kayak gimana. Tapi aku tahu satu hal: dia kehilangan arah waktu dia mulai ngeliat pedagang sebagai angka, bukan wajah." Ia berbalik ke Nadia. "Selama kita masih liat wajah—Pak Haji, Bu Wati, ibu-ibu di pasar subuh—kita nggak akan jadi dia. Cari uang nggak otomatis jahat, Nad. Yang jahat itu cari uang dengan ngorbanin orang yang percaya sama kita."
Nadia menatapnya, dan pelan-pelan ketegangan di wajahnya mengendur. "Jadi kita cari cara dapet uang tanpa ngorbanin mereka."
"Iya," kata Arman, dan untuk pertama kalinya soal uang, ada keyakinan di suaranya, bukan rasa bersalah. "Kita buktiin ke Bu Linda—dan ke diri kita sendiri—kalau jujur dan sehat itu bisa jalan bareng. Kalau nggak bisa, berarti seluruh cerita yang kita bangun ini cuma dongeng."
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidak membicarakan fitur atau pengguna. Mereka membicarakan sesuatu yang dulu mereka anggap kotor: model bisnis. Dan anehnya, kali ini, itu tidak terasa seperti pengkhianatan. Terasa seperti tumbuh dewasa.