Seminggu setelah putusan, Bayu mengirim pesan lagi. Bukan meminta apa-apa, hanya mengabari. "man, aku dipecat. nggak kaget sih. aku lagi cari kerja. makasih udah ngasih aku kesempatan buat jujur. itu udah lebih dari yang aku pantes dapet."
Arman membaca pesan itu di pagi hari, di meja kantor, dengan kopi yang masih panas. Ia tidak langsung membalas. Sepanjang hari, pesan itu mengganjal di kepalanya seperti kerikil di sepatu—tidak melumpuhkan, tapi terasa di setiap langkah.
Sorenya, ia menceritakannya pada Nadia. Mereka sedang duduk di tangga belakang ruko, tempat mereka biasa kabur sebentar dari kebisingan kantor. Nadia mendengarkan sambil mengupas jeruk.
"Kamu mau maafin dia?" tanya Nadia langsung.
Arman menatap gang sempit di depannya, kabel listrik yang melintang semrawut di atas kepala. "Aku nggak tahu, Nad. Bagian dari aku pengin. Dia jujur di pengadilan, dia hancurin dirinya sendiri buat kita. Tapi bagian lain dari aku—" ia berhenti, "—bagian lain masih inget malam itu. Waktu aku duduk di lantai kos, mau ambruk, gara-gara orang yang aku anggap saudara. Maaf itu kayak ngehapus rasa sakit itu, dan aku belum siap ngehapusnya."
Nadia mengangguk pelan, tidak terburu-buru. Ia menyodorkan sepotong jeruk. "Boleh aku jujur?"
"Sejak kapan kamu nanya dulu sebelum jujur," kata Arman, tersenyum tipis.
Nadia tertawa kecil, lalu serius lagi. "Maaf itu bukan buat Bayu, Man. Maaf itu buat kamu." Ia menatap Arman. "Selama kamu nyimpen marah ke dia, dia masih punya tempat di kepala kamu. Tiap kamu inget pengkhianatan itu, kamu balik lagi ke lantai kos itu, jadi orang yang hancur lagi. Maafin dia bukan berarti bilang yang dia lakuin itu benar. Itu nggak akan pernah benar. Maafin dia berarti kamu berhenti bawa-bawa beban itu ke mana-mana. Biar kamu bebas, bukan biar dia bebas."
Arman terdiam lama. Di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain, dan bau masakan dari rumah-rumah di gang mulai naik bersama sore.
"Aku dulu mikir," katanya pelan, "kalau aku maafin dia, berarti aku bilang pengkhianatannya nggak apa-apa. Berarti aku lemah."
"Justru kebalikannya," kata Nadia. "Orang yang nyimpen dendam itu yang lemah—dia masih disetir sama luka lamanya. Orang yang bisa maafin tanpa lupa, tanpa pura-pura nggak sakit—itu yang kuat." Ia menggigit jeruknya. "Tapi itu keputusan kamu. Aku nggak akan maksa. Yang dia lakuin ke kamu lebih dalam daripada ke aku."
Arman menatap ponselnya. Pesan Bayu masih terbuka. man, aku dipecat. Ia memikirkan istri Bayu, anak bayi yang kini sudah bisa memanggil ayah. Ia memikirkan dirinya sendiri, yang dua tahun ini membawa kemarahan itu seperti batu di dalam tas—tidak pernah berat sampai ia berhenti dan menyadari betapa lelah punggungnya.
Ia tidak membalas pesan Bayu hari itu. Belum. Maaf, ia mulai mengerti, bukan sesuatu yang bisa diketik dalam satu kalimat tergesa. Itu sesuatu yang harus tumbuh dulu di dalam, perlahan, seperti versi ringan Stok Pintar yang dulu butuh berminggu-minggu untuk akhirnya berdiri.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak gugatan, ia tidur tanpa mimpi tentang lantai kos. Dan saat bangun, batu di dalam tasnya terasa sedikit lebih ringan—belum hilang, tapi cukup ringan untuk membuatnya tahu ke mana ia ingin melangkah.