Selama tiga hari berikutnya, Arman menelepon setiap pengacara yang namanya bisa ia temukan. Hasilnya selalu sama. Begitu ia menyebut bahwa lawannya adalah perusahaan yang didukung modal ventura Pak Wira, nada bicara di seberang berubah hati-hati. Begitu mereka menyebut angka biaya jasa, Arman harus menahan diri untuk tidak menutup telepon karena malu.
"Kasus hak cipta perangkat lunak itu rumit, Mas," kata salah satu dari mereka. "Butuh saksi ahli, butuh forensik digital, butuh waktu lama. Honor saya untuk kasus seperti ini, ditambah biaya ahli, bisa menghabiskan ratusan juta. Itu pun belum tentu menang. Pertimbangkan baik-baik."
Malam itu Arman membuka catatan keuangan perusahaan bersama Nadia di ruko yang sudah sepi. Reza dan Sinta sudah pulang. Mereka menatap angka di layar: dana dari investor sosial masih ada, tapi jika dipakai untuk perang hukum berbulan-bulan, runway mereka akan habis dalam waktu yang menakutkan cepatnya. Membayar pengacara mahal berarti memotong gaji tim, mematikan rencana ekspansi, mungkin menutup ruko ini dan kembali bekerja dari kos.
"Kita kayak balik ke titik nol lagi," kata Nadia lirih. "Bedanya, dulu kita nggak punya apa-apa buat hilang. Sekarang kita punya Reza, Sinta, ribuan pedagang. Lebih banyak yang dipertaruhkan."
Arman tidak menjawab. Ia teringat malam saat Bayu pergi, ketika ia berkata pada Nadia: hukum mungkin di pihak kita, tapi hukum butuh uang. Dulu kalimat itu adalah alasan untuk menyerah. Ia tidak mau lagi menjadikannya alasan.
"Bu Linda," kata Arman tiba-tiba.
"Hah?"
"Bu Linda. Perwakilan investor kita. Dia ada di posisi dewan sebagai pengamat. Dia ngerti dunia ini lebih dari kita." Arman sudah meraih ponselnya. "Mungkin dia kenal seseorang. Atau setidaknya dia bisa kasih saran."
Nadia ragu sejenak. Selama ini mereka berusaha tidak terlalu banyak meminta tolong kepada investor; ada rasa gengsi, rasa takut terlihat lemah, takut dianggap tidak sanggup mengurus perusahaan sendiri. Tapi keadaan sudah terlalu mendesak untuk gengsi.
Bu Linda menjawab telepon meski sudah malam. Suaranya tenang, ramah, tapi tegas seperti biasa. Arman menjelaskan gugatan itu, dan di seberang sana terdengar jeda panjang.
"Saya sudah menduga Pak Wira tidak akan diam," kata Bu Linda akhirnya. "Orang seperti dia tidak suka kalah. Dia kalah di pasar, jadi dia pindah ke meja hijau. Itu taktik klasik—menyerang yang kecil bukan karena dia benar, tapi karena dia tahu yang kecil tidak punya uang untuk bertahan lama."
"Itu yang saya takutin, Bu," kata Arman. "Kami bisa menang, tapi kami bisa bangkrut duluan."
"Dengarkan saya, Arman." Suara Bu Linda menajam. "Kalian tidak butuh pengacara paling mahal. Kalian butuh pengacara yang benar—yang percaya pada kasus kalian, bukan cuma pada honornya. Saya kenal seseorang. Namanya Pak Gunawan. Dia masih muda, baru beberapa tahun praktik, tapi dia idealis. Dia sering ambil kasus orang kecil melawan yang besar, kadang tanpa bayaran penuh, karena dia percaya hukum itu harusnya melindungi yang lemah, bukan jadi senjata yang kuat."
Arman menahan napas. "Dia mau bantu kami?"
"Saya tidak janji. Tapi kalau ada satu orang yang akan tertarik pada kisah kalian—dua anak muda yang menolak satu miliar lalu digugat oleh orang yang nyuri kode mereka—itu Pak Gunawan. Saya kirim kontaknya. Temui dia. Ceritakan semuanya, jujur, termasuk bagian yang memalukan, termasuk Bayu. Pengacara tidak bisa bantu kalau kalian sembunyikan sesuatu."
Setelah telepon ditutup, Arman menatap Nadia. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ada secercah harapan di matanya.
Mereka menemui Pak Gunawan keesokan harinya di sebuah kafe sederhana—bukan kantor mewah, hanya meja kayu di sudut tempat ngopi biasa. Pak Gunawan ternyata pria muda berkacamata, kemejanya rapi tapi tidak mahal, dan ia mendengarkan tanpa memotong sambil sesekali mencatat. Arman bercerita dari awal: tentang ibunya, tentang kode pertama, tentang Pak Wira, tentang Bayu yang mencuri kode inti, tentang StokJaya yang lahir dari pencurian itu, dan kini gugatan yang memutarbalik semuanya.
Ketika Arman selesai, Pak Gunawan diam lama, lalu melepas kacamatanya dan mengusapnya dengan ujung baju.
"Kalian tahu," katanya pelan, "saya masuk fakultas hukum karena kakek saya petani yang kalah di pengadilan melawan tuan tanah, bukan karena dia salah, tapi karena dia miskin. Sejak itu saya benci melihat hukum jadi mainan orang berduit." Ia memasang kacamatanya lagi. "Kasus kalian berat. Lawan kalian punya uang dan waktu. Tapi kalau yang kalian ceritakan ini benar—dan saya percaya kalian—maka kebenaran ada di pihak kalian. Masalahnya cuma satu: kita harus buktikan bahwa kode itu lahir dari tangan kamu, Arman, lebih dulu daripada StokJaya. Kalian masih punya jejaknya?"
Arman menelan ludah. "Sebagian. Tapi tersebar. Dan sebagian mungkin sudah hilang."
Pak Gunawan tersenyum tipis. "Kalau begitu, pekerjaan pertama kita bukan di pengadilan. Tapi menggali masa lalu kalian, sampai ke akar. Karena dalam kasus seperti ini, yang menang bukan yang paling kaya. Yang menang adalah yang bisa membuktikan siapa yang pertama."