Balasan dari Stok Pintar untuk Garda singkat dan jelas: mereka terbuka untuk kemitraan distribusi, tapi data transaksi pengguna tidak akan disinkronkan atau dilisensikan ke Garda. Data milik pedagang, dikelola Stok Pintar, titik. Arman menulis surel itu sendiri, membacanya ulang lima kali bersama Nadia, memastikan nadanya tegas tapi hormat, lalu menekan kirim sebelum nyalinya menciut.
Pak Damar tidak membalas lewat surel. Ia menelepon, dan mengundang mereka makan siang—bukan di kantor, tapi di sebuah restoran yang langit-langitnya tinggi dan pelayannya berdasi. Arman dan Nadia datang dengan baju paling rapi, dan tetap merasa seperti tamu yang salah alamat.
"Saya hargai kejujuran kalian," kata Pak Damar, setelah basa-basi soal cuaca dan macet. Ia menyuap sesendok sup yang harganya mungkin seharga server bulanan mereka. "Banyak startup di posisi kalian akan langsung iya, ambil uangnya, tanda tangan apa pun. Kalian malah pasang batas. Itu langka."
"Kami sudah pernah hampir kena jebakan, Pak," kata Arman terus terang. "Jadi kami baca kontrak baris demi baris sekarang."
"Saya tahu." Pak Damar tersenyum, dan untuk pertama kalinya Arman menangkap sesuatu di balik senyum itu—bukan kemarahan, tapi ketertarikan dingin, seperti pemain catur yang lawannya melakukan langkah tak terduga. "Tapi izinkan saya jujur balik. Tanpa data, kemitraan ini... kurang menarik buat kami. Garda nggak butuh menghasilkan uang dari biaya langganan warung kecil kalian—itu receh buat kami. Yang berharga buat kami justru pemahaman tentang pasar yang selama ini buta buat kami. Itu datanya. Kalau kalian tutup pintu itu, kami cuma jadi kurir buat kalian. Dan kami bukan perusahaan kurir."
Di situ, semuanya jelas. Tepat seperti yang dicurigai Nadia di lift dulu. Garda tidak pernah benar-benar ingin membantu menyebarkan Stok Pintar; mereka ingin pipa data dari pasar yang tak bisa mereka jangkau. Distribusi hanya bungkus manis di luar.
Nadia meletakkan garpunya pelan. "Jadi seandainya kami kasih datanya, baru kemitraan ini 'menarik' buat Garda. Pertanyaannya, Pak: pedagang kami dapat apa dari datanya diambil? Mereka tetap bayar langganan, tapi sekarang peta jualan mereka jadi milik perusahaan paling gede di Asia Tenggara. Itu adil buat mereka?"
Pak Damar memandangnya lama, dan senyumnya melembut menjadi sesuatu yang hampir seperti rasa hormat. "Kamu mengajukan pertanyaan yang seharusnya nggak diajukan orang yang lagi butuh uang."
"Kami emang butuh uang," sahut Arman. "Tapi nggak butuh-butuh amat sampai jual orang yang percaya sama kami."
Sesaat tak ada yang bicara. Dentingan sendok dan garpu dari meja lain mengisi keheningan. Lalu Pak Damar menyandar di kursinya, melipat tangan, dan menghela napas panjang—bukan napas marah, tapi napas seseorang yang menutup satu pintu negosiasi dan tahu ada konsekuensinya.
"Baik," katanya akhirnya. "Saya hormati keputusan kalian. Saya nggak akan memaksa. Memaksa itu cara orang yang nggak sabar, dan saya bukan orang yang nggak sabar." Ia tersenyum lagi, dan inilah kalimat yang akan terus berdengung di kepala Arman berhari-hari setelahnya. "Tapi izinkan saya bilang satu hal. Pintu kami selalu terbuka. Kapan saja kalian berubah pikiran—dan dunia ini punya cara membuat orang berubah pikiran—kami ada di sini. Kalian akan tumbuh, kalian akan ketemu tembok yang nggak bisa kalian panjat sendiri, dan saat itu, ingat percakapan ini."
Kalimat itu sopan, bahkan hangat. Tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Arman berdiri. Bukan ancaman seperti "semoga kalian tidak menyesal"-nya Pak Wira. Ini lebih halus, lebih sabar, dan justru karena itu lebih menakutkan. Pintu kami selalu terbuka berarti kami akan menunggu. Dan kami akan mengawasi sampai kalian terdesak.
Mereka pamit baik-baik, berjabat tangan, dan keluar dari restoran ke teriknya siang. Di trotoar, menunggu ojek daring, Nadia bicara pelan.
"Dia nggak marah," katanya. "Itu yang bikin aku merinding. Pak Wira marah waktu kita nolak, dia langsung serang. Pak Damar malah senyum. Kayak dia tahu sesuatu yang kita nggak tahu."
"Dia tahu kita bakal terdesak," kata Arman, menatap menara kaca Garda yang menjulang di kejauhan, memantulkan matahari. "Dia tahu startup kayak kita selalu ada momen kepepet. Dan dia nungguin momen itu, biar kita yang dateng minta tolong, dengan syarat dia yang nentuin."
"Berarti kita harus nggak pernah kepepet sampai segitunya," kata Nadia.
Arman tertawa kecil, getir. "Gampang banget kayaknya kalau kamu yang ngomong."
Tapi di balik gurauan itu, ada kebenaran yang menggigit. Mereka baru saja menolak kontrak kedua dalam hidup mereka—setelah Pak Wira, sekarang Garda. Dan keduanya menolak dengan alasan yang sama: menjaga janji pada pedagang kecil. Kontrak yang tak ditandatangani itu, bagi sebagian orang, adalah kebodohan. Bagi Arman dan Nadia, itu satu-satunya cara mereka masih bisa menatap mata Pak Haji.
Ojek datang. Mereka berpisah arah—Nadia ke pasar untuk mengecek pedagang, Arman kembali ke ruko. Di sepanjang jalan, kalimat Pak Damar terus berputar: pintu kami selalu terbuka. Arman tahu, suatu hari nanti, pintu itu akan menjadi godaan—atau jebakan. Dan ia berdoa, saat hari itu tiba, mereka cukup kuat untuk tidak masuk.