Hong Lian mengerjapkan matanya. Matanya menyipit mencoba menyesuaikan dengan penerangan di ruangan itu. Setelah di rasa cukup, dia bangkit lalu mengedarkan pandangan menatap sekitar dengan bingung. Ruangan itu berwarna putih tanpa pintu dan jendela.
Terdapat dua rak buku dengan tulisan Péiyǎng nèizài lìliàng hé wǔshù di sisi kanan dan Yīxué shūjí hé dúyào di sisi kiri.
Lalu Hong Lian memutar tubuhnya. Di depannya ada satu pedang terbungkus sarung pedang berwarna hitam dengan ukiran teratai berwarna merah menyala, lalu ada dua pasang belati kembar dan empat buah belati tunggal, lalu ada cambuk berwarna merah darah dan yang terakhir ada empat busur panah. Semua itu menempel di tembok dan berjajar dengan rapi.Di sudut tembok terdapat ratusan lusin anak panah juga tersusun rapi.
Lalu dia memutar lagi tubuhnya dan mendapati sebuah rak besar, lebih besar dari rak buku yang tadi dia lihat. Di rak itu terdapat banyak sekali tanaman obat. Hong Lian mendekat, dia terkejut melihat tidak hanya banyak tanaman obat tetapi sebagian dari itu adalah tanaman langka dengan umur yang sudah ratusan bahkan ada yang berusia ribuan tahun. Sebagai pembunuh bayaran dia harus serba bisa termasuk seni pengobatan. Bahkan pengobatan tiongkok dan pengobatan barat dia harus bisa. Itu berguna jika terluka saat menjalankan misi. Karna dia tau seni medis tiongkok, dia juga tau banyak tanaman herbal dan kualitasnya. Dia juga bisa membuat racun. Racun itu untuk mempermudah misinya membunuh orang.
Hong Lian menjauh dari rak buku itu. Dia memutar kembali tubuhnya hingga dia melihat meja kerja lengkap dengan kursinya. Ada dua buku di atas meja. Di samping meja kerja ada meja kecil dengan dua kotak yang berukuran sedang di atasnya juga beberapa laci. Hong Lian mendekat, melihat kotak pertama yang ternyata berisi puluhan lusin jarum akupurntur. Mungkin aku bisa menggunakan jarum ini untuk pengobatan tiongkok, batinnya. Lalu dia membuka kotak kedua yang juga berisi jarum. Bedanya jarum ini adalah senjata pembunuh.
Setelah itu Hong Lian membuka laci yang ternyata berisi botol porselen dengan berbagai ukuran. Untuk apa semua botol porselen itu,dia tidak tau. Tapi saat matanya menangkap mortar yang juga terbuat dari porselen di antara botol itu, dia tau botol itu untuk menyimpan obat. Lalu dia melangkah dan duduk di kursi kerja. Dia mengambil satu buku lalu membacanya.
Di buku itu tercatat bagaimana cara masuk dan keluar dari ruangan itu, cara mengeluarkan dan memasukan barang yang ada di ruangan itu dan apa saja barang yang bisa masuk ruangan itu, dan dia tau bahwa yang di sebut ruangan, ini ada dalam gelang kristal giok yang dia pakai, dan itu berarti jiwanya sekarang ada di dalam gelang itu. Hong Lian melanjutkan membaca buku itu, tapi saat itulah dia baru menyadari bahwa semua tulisan itu menggunakan huruf Alfabet termasuk yang ada di rak buku. Meja kerja dan lemari yang ada di ruangan ini juga adalah disaign dari dunia modern. Siapa sebenarnya pemilik gelang ini,batinnya.
Hong Lian ingat, saat dia memgambil gelang ini dari Museum benda sejarah kota X. Di sana di jelaskan bahwa gelang ini adalah milik Permaisuri Xi dari Dinasti Qin Besar. Itu adalah apa yang di berikan oleh Kaisar Ye untuk pertama kali setelah mereka menikah. Dia percaya itu, tetapi dia penasaran siapa yang menjadikan gelang ini sebagai ruang penyimpanan dan bagaimana caranya?.
Kesal dengan pikirannya Hong Lian menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan itu dari kepalanya.
Bukankah gelang itu ada di tangannya?berarti itu miliknya.Apa yang penting tentang siapa yang memiliki gelang ini di masa lalu?.
Setelah mengatakan kata kata itu pada dirinya sendiri, Hong Lian mendongakkan kepalanya lalu menghela nafas. Dia telah selesai membaca buku itu sedangkan buku yang satu berisi cara menggunakan jarum akupuntur, letak titik acupoint pada manusia dan daftar racun yang dapat bertahan lama jika di oleskan di beberapa benda.
Setelah membaca buku itu Hong Lian mengerti cara memasuki dan keluar dari ruang itu. Itu hanya perlu memusatkan pikiran. Hong Lian berdiri berniat keluar dari ruangan ini. Ia khawatir Jin Xin akan panik dengan keadaan nya karna gadis itu mudah panik jika menyangkut tentangnya.
Hong Lian memusatkan pikiran, lalu tubuhnya melayang. Saat dia membuka mata, dia sudah ada di tebing dan bersandar di pohon mehua. Tapi ... dimana gadis itu?.
Hong Lian yang panik karna tidak menemukan gadis itu mencoba berdiri. Tapi sebelum dia melangkah untuk mencari Jin Xin, gadis itu terlihat berlari dari arah timur membawa beberapa tanaman. Jin Xin yang melihat nona nya sudah sadar sangat senang. Gadis itu berlari dan tanpa aba aba melompat, memeluk Hong Lian dengan erat. Hong Lian yang tidak siap dengan pelukan Jin Xin terhuyung hampir jatuh. Beruntung dia dapat mengendalikan tubuhnya agar tidak jatuh. Dia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi mengurungkan niatnya saat merasakan gadis di pelukan nya bergetar. Dia membuat gadis ini khawatir sampai menangis lagi.
“Mengapa menangis? Siapa yang menggertakmu? Katakan padaku, aku akan membalasnya untukmu.” Sebenarnya dia tau, dia menangis karna dia. Hong Lian bertanya agar dia berhenti menangis.
“ Nona ... nona ... itu kamu ... wuwuwu ... itu kamu yang menggertakku.”
“Bagaimana bisa jadi aku yang menggertakmu?”
“ Nona kamu ... kamu ... bagaimana bisa kamu tidak mengatakan bahwa kamu sakit di suatu tempat padaku?”
“Siapa yang mengatakan aku sakit?”
“ jika kamu tidak sakit ... lalu mengapa kamu pingsan? Kamu jelas jelas berbohong padaku!”
“Berhenti menangis. Baik. Aku tidak sakit. Benar-benar tidak sakit.” Hong Lian mencoba menenangkan Jin Xin yang masih terisak. Dia merasa bersalah, gadis ini menangis karna dia.
“Kamu berbohong padaku. Jika tidak sakit, mengapa kamu pingsan?”
“Shǎ yātou, zuò xià, wǒ gàosù nǐ.” Lalu Hong Lian menceritan semua yang terjadi padanya.
Bukan tanpa alasan Hong Lian menceritakan itu semua. Dia hanya tidak ingin saat dirinya mengeluarkan sesuatu dari gelangnya dan gadis ini melihatnya, dia akan ketakutan dan menyangka dia adalah penyihir atau apapun itu. Sebenarnya dia tidak perlu menjelaskan sesuatu kepada orang lain terlebih gadis ini seorang pelayan. Tapi dia sudah menganggap gadis ini adiknya, jadi dia merasa perlu menjelaskannya.
Jin Xin yang mendengar cerita nona nya tersenyum sangat lebar. Setelah Hong Lian selesai menceritakan semua, gadis itu melompat dengan gembira.
“Niánqīng de nǚshì, nà hěn hǎo. Nǐ dédào lèisì de dōngxī ... Nà zhēn de shì shàngdì de zhùfú (nona muda maka itu bagus. Kamu mendapatkan sesuatu seperti itu ... itu benar-benar berkah Dewa).”
“Shàngdì de zhùfú (berkah Dewa?)”
Hong Lian memikirkan kembali.
Apa kehidupannya adalah berkah dewa?.
Mungkin benar, kehidupannya di dunia ini juga berkah Dewa, batinnya.
“ Shì de, xiǎojiě, nǐ hěn xìngyùn (betul. Nona muda kamu sangat beruntung).”Jin Xin sangat senang. Walaupun dia tidak tau seperti apa ruangan itu, dia sudah puas hanya mendengar cerita nona nya.
“oh ya nona. Kamu mengatakan jika di ruangan itu ada banyak buku. Di masa depan bolehkah aku meminjamnya?”
“Tentu saja boleh. Setelah kamu membaca, aku akan mengajari kamu seni bela diri. Sepertinya waktu dua bulan di sini mungkin tidak akan membosankan lagi.”
“Nona kamu bisa seni beladiri? Mengapa Jin Xin tidak tau?”
“Ya. Kamu tidak perlu tau. Yang harus kamu lakukan adalah tutup mulut. Jangan katakan pada siapapun tentang semua yang kita bicarakan disini termasuk rahasia gelang ini. Mengerti?!” Tentu saja dia bisa seni bela diri. Di kehidupan sebelumnya dia adalah pembunuh bayaran.
“ Jin Xin Tīnghuà de (patuh).”
“aiyo Jin Xin, xiànzài jǐ diǎnle? (sudah jam berapa ini?)”
“ Ini sekitar jam Jiǔ. Xiǎojiě nǐ yūnle sān gè xiǎoshí (sembilan. Nona kamu pingsan selama tiga jam).”
“Duìbùqǐ, hǎo ba, wǒmen huí jiā. (maafkan aku. Baik.ayo kita pulang).”
“hǎo (baik).”
Hong Lian berjalan kearah dimana mereka mengikat kuda di ikuti oleh Jin Xin. Lalu mereka menaiki kuda mereka. Tidak lama dua kuda melesat kearah utara menuju desa Xu