Musim panas datang ke Ibu Kota kekaisaran Ning dengan langit biru yang tinggi dan angin yang membawa wangi teratai dari kolam-kolam istana.
Di taman istana, di paviliun kecil di tepi kolam teratai yang dulu menjadi tempat paling ditakuti di seluruh harem, sebuah meja rendah disiapkan untuk minum teh sore. Kolam itu kini penuh bunga teratai merah muda yang mekar sempurna, daun-daunnya yang lebar mengapung di atas air yang tenang. Para dayang sudah berhenti menyebutnya kolam celaka. Sejak Permaisuri sendiri yang memilih paviliun itu untuk minum teh setiap sore, mereka menyebutnya kolam Permaisuri.
Janda Permaisuri duduk di kursi paling nyaman dengan Xue Qiu di pangkuannya. Kucing putih itu kini begitu gemuk sampai Mama harus menggendongnya setiap kali beliau berpindah tempat. Di bawah meja, Hong Dou mengejar capung yang terbang terlalu rendah, gagal, lalu pura-pura tidak pernah mencoba.
Jin Xin menuangkan teh krisan ke empat cangkir. Ia mengenakan gaun hijau lumut yang baru, dengan sulaman bunga plum di ujung lengannya, hadiah dari tuan muda Li yang bulan lalu dipanggil ke istana dan diangkat menjadi penjahit Departemen Rumah Tangga. Pemuda itu masih belum percaya nasibnya. Nyonya Li ikut pindah ke Ibu Kota dan kini membuka kedai kecil di dekat gerbang selatan, dan setiap kali Penjaga Zhou Ping mampir untuk minum teh di sana, ia selalu menceritakan hari ketika Permaisuri turun dari tandu phoenix di depan gerbangnya.
“Di mana Bìxià?” tanya Janda Permaisuri. “Dia bilang akan datang setelah pengadilan pagi.”
“Pengadilan pagi sudah selesai dua jam yang lalu, Muhou,” ucap Hong Lian. Ia duduk di sisi kanan Janda Permaisuri dengan gaun putih tipis berlengan pendek yang cocok untuk musim panas. Di pergelangan kirinya, gelang kristal giok berwarna merah berkilau di bawah sinar matahari, tidak lagi disembunyikan di balik lengan baju. Di sampingnya melingkar gelang batu giok zamrud. “Bìxià pasti sedang dikejar Gēgē soal anggaran pengawal Ibu Kota.”
Dan memang, tidak lama kemudian, terdengar dua suara laki-laki dari jalan setapak di balik pohon-pohon willow. Yang satu tenang dan dingin. Yang satu lagi keras dan penuh semangat.
“Bìxià, hamba hanya meminta dua ratus orang tambahan. Gerbang timur kekurangan penjaga sejak ...”
“Zhen sudah dengar tiga kali, Jenderal Muda Baili.”
“Hamba akan mengatakannya untuk keempat kalinya kalau Bìxià belum menjawab.”
Zhang Yuan muncul dari balik pohon willow dengan jubah musim panas berwarna biru muda, diikuti Baili Yuqi yang membawa segulung peta di bawah ketiaknya. Bahu kiri Kaisar sudah sembuh sepenuhnya. Ia menatap paviliun di tepi kolam, menatap istrinya yang sedang menahan tawa, lalu menghela napas.
“Lian’er, tolong suruh kakakmu berhenti mengikuti zhen.”
“Gēgē,” ucap Hong Lian manis, “Bìxià sudah menyetujui seratus lima puluh orang tambahan pagi ini. Hamba melihat rancangan dekritnya di meja Bìxià kemarin malam. Berhenti merengek.”
Yuqi menatap Kaisar. Kaisar membuang muka.
“Bìxià menyetujuinya? Kenapa tidak bilang?”
“Karena zhen ingin melihat berapa lama kau akan mengikuti zhen.”
Janda Permaisuri tertawa begitu keras sampai Xue Qiu terbangun dan mengeong protes. Jin Xin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Yuqi menatap adiknya, lalu Kaisar, lalu adiknya lagi, dan akhirnya ikut tertawa sambil menggaruk kepala.
Zhang Yuan duduk di sisi kiri Hong Lian. Jin Xin menyodorkan cangkir teh kepadanya, lalu satu lagi untuk Yuqi, yang duduk di bangku di ujung meja dan langsung merebut sepotong kue wijen dari piring.
Mereka minum teh.
Seekor capung hinggap di tepi cangkir Hong Lian. Ia meniupnya pelan, dan capung itu terbang ke arah kolam, melintasi bunga-bunga teratai merah muda.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat atap-atap istana yang berkilau di bawah matahari musim panas. Di salah satu sudut paling jauh, di balik tembok tinggi, berdiri Lěnggōng. Baili Yuyan masih di sana. Sebulan sekali, Jenderal Baili mengirim sepucuk surat untuknya. Hong Lian tidak tahu apakah surat-surat itu pernah dibalas. Ia juga tidak bertanya.
Mu Yueyue kini sering datang ke Paviliun Fengyi untuk belajar menyulam bersama Jin Xin. Ternyata selir keempat itu sangat buruk dalam menyulam dan sangat pandai bercerita, dan Paviliun Fengyi yang dulu sunyi kini sering dipenuhi tawa. Qiao An sudah dikeluarkan dari istana dan bekerja di sebuah kuil di selatan, jauh dari Ibu Kota, atas keringanan yang diberikan Kaisar karena kesaksiannya.
Kadang Hong Lian masih memikirkan dunia lamanya. Tebing berbunga di atas laut. Pohon persik. Laki-laki yang menembaknya. Tapi semakin lama, kenangan itu semakin terasa seperti cerita yang pernah ia baca di sebuah buku tua, bukan hidup yang pernah ia jalani.
Ia masih belum tahu siapa yang membuat ruang di dalam gelangnya, atau mengapa gelang itu mengikutinya menyeberangi dua ribu tahun. Ia sudah berhenti bertanya. Gelang itu ada di tangannya. Gelang itu miliknya.
Dan mungkin, batinnya, itu memang berkah Dewa, seperti kata Jin Xin di tebing selatan desa Xu.
Di bawah meja, sebuah tangan menemukan tangannya.
Hong Lian menoleh. Zhang Yuan sedang menatap kolam dengan wajah datar, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah Kaisar Ning tidak sedang menggenggam tangan istrinya diam-diam di depan ibunya, kakak iparnya, dan kepala dayang Paviliun Fengyi.
Ia membalas genggaman itu.
Janda Permaisuri, yang melihat semuanya, tersenyum dan kembali menyisir bulu Xue Qiu.
“Lian’er,” ucap beliau tanpa mengangkat kepala. “Ulang tahun aijia tahun depan, aijia tidak mau kucing lagi. Satu sudah cukup merepotkan.”
“Lalu Muhou mau hadiah apa?”
Janda Permaisuri mengangkat kepala dan menatap mereka berdua, menantunya dan putranya, yang duduk bersebelahan di tepi kolam teratai dengan tangan bertaut di bawah meja.
“Aijia mau cucu.”
Jin Xin tersedak tehnya. Yuqi menjatuhkan kue wijennya. Zhang Yuan menatap kolam dengan begitu serius sampai telinganya memerah.
Hong Lian tertawa. Tawanya lepas dan jernih, terbawa angin musim panas melintasi kolam teratai, melintasi atap-atap istana, sampai ke langit biru yang tinggi di atas kekaisaran Ning.
Dendam di atas cinta, cinta di atas dendam. Pada akhirnya, ia memilih.
Dan ia tidak menyesal.
TAMAT