Sidang dibuka di aula pengadilan pagi seminggu setelah pesta ulang tahun.
Aula itu penuh sampai ke pintu. Para menteri berdiri di barisan mereka dengan jubah resmi, tetapi barisan sebelah kiri kini berlubang di beberapa tempat. Tiga menteri yang selama ini paling dekat dengan Wei Cheng sudah ditahan untuk diperiksa. Para bangsawan, perwira tinggi, dan kepala departemen berdiri di belakang mereka. Di serambi luar, para kasim dan dayang berdesakan mencoba melihat lewat celah pintu.
Zhang Yuan duduk di singgasana naga. Bahu kirinya masih terbalut di bawah jubah kuning, tetapi ia duduk tegak. Di sisi kanannya, di kursi yang selama tiga tahun tidak pernah ditempati dalam sidang mana pun, duduklah Permaisuri.
Hong Lian mengenakan jubah merah delima buatan tuan muda Li. Lengan kanannya sudah dicuci bersih dari darah Kaisar. Wajahnya tenang.
Para menteri meliriknya sesekali. Seminggu yang lalu, separuh dari mereka berbisik tentang ilmu sesat. Hari ini, tidak ada yang berani menatapnya lebih dari satu tarikan napas.
Yu Hao membacakan dakwaan.
Pengurus Fang, laki-laki pincang berkerongsang bangau perak, sudah ditangkap sehari setelah pesta di sebuah kuil kecil di luar gerbang timur, tempat ia bersembunyi menunggu majikannya. Ia mengakui semuanya dalam waktu kurang dari satu jam. Surat-surat dari kotak kayu berukir bunga persik dibacakan satu per satu. Juru tulis yang menyalin kesaksian Lu Ba di ruang belajar membacakan catatannya yang terputus di tengah. Qiao An berlutut di tengah aula dan menceritakan bagaimana ia mengantar surat-surat majikannya ke gerbang servis setiap pagi selama dua tahun. Gu taiyi bersaksi tentang akar ular hitam. Mu Yueyue, dengan suara bergetar tetapi jelas, menceritakan apa yang terjadi di kolam teratai dua tahun yang lalu.
Wei Cheng dibawa masuk dengan tangan dan kaki terikat. Ia tidak lagi mengenakan jubah biru tua dan topi pejabat, hanya pakaian tahanan berwarna abu-abu. Punggungnya tegak, wajahnya keras. Ketika dakwaan selesai dibacakan, ia tidak membela diri. Ia hanya menatap Kaisar dan berkata dengan suara datar bahwa seandainya teh itu diminum, hari ini ia yang akan duduk di sisi singgasana.
Tidak ada yang menjawab kalimat itu.
Lalu Baili Yuyan dibawa masuk.
Ia mengenakan pakaian tahanan yang sama. Rambutnya terurai tanpa hiasan. Wajahnya pucat dan tanpa bedak, tampak jauh lebih muda dan jauh lebih kecil daripada Selir Pertama yang anggun di Aula Changning. Dua penjaga perempuan memegangi lengannya, tetapi ia tidak melawan.
Ketika ia melewati barisan menteri, matanya mencari satu wajah.
Jenderal Baili berdiri di barisan paling depan. Ia mengenakan zirah upacara lengkap, seperti yang ia kenakan di hari-hari besar kekaisaran. Ia tidak menoleh ketika putri pertamanya lewat.
Yuyan berhenti di tengah aula dan berlutut.
Zhang Yuan menatapnya dari singgasana. “Baili Yuyan, kau sudah mendengar semua dakwaan. Apakah ada yang ingin kau katakan?”
Yuyan membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Sebelum ia sempat bicara, Jenderal Baili melangkah maju dari barisannya. Langkahnya berat, zirahnya berdenting. Ia berhenti tiga langkah di samping putri pertamanya, lalu berlutut menghadap singgasana.
“Bìxià.”
Seluruh aula menahan napas.
“Yang rendah ini Baili Yu, Jenderal Besar kekaisaran Ning. Yang berlutut di samping hamba adalah putri pertama hamba.” Suaranya serak, tetapi tidak goyah. “Hamba tidak mendidiknya dengan baik. Hamba terlalu sibuk di barak dan di medan perang, dan hamba membiarkan iri tumbuh di hatinya tanpa pernah hamba sadari. Itu kesalahan hamba sebagai ayah.”
Ia menundukkan kepala sampai dahinya menyentuh lantai.
“Tetapi kesalahan seorang ayah tidak menghapus kesalahan putrinya. Seratus penjaga mati. Para dayang mati. Putri bungsu hamba hampir mati. Janda Permaisuri hampir mati. Hamba, Baili Yu, menyerahkan Baili Yuyan sepenuhnya kepada hukum kekaisaran. Hamba tidak akan memohon keringanan untuknya. Hamba hanya memohon agar Bìxià mengizinkan hamba tetap berdiri di aula ini sampai putusan dibacakan.”
Yuyan menoleh menatap ayahnya. Dan untuk pertama kalinya, di wajahnya yang pucat itu, tidak ada kepura-puraan apa pun. Hanya ada seorang anak perempuan yang baru saja dilepaskan oleh ayahnya.
Ia mulai menangis.
Bukan tangis lembut seorang selir yang anggun. Ia menangis dengan keras, bahunya berguncang, dan air matanya jatuh ke lantai batu aula. Ia merangkak maju di atas lututnya, melewati ayahnya, sampai ke anak tangga singgasana. Bukan ke arah Kaisar. Ke arah Permaisuri.
Ia membenturkan dahinya ke anak tangga terbawah.
“Meimei ...” isaknya. “Meimei, ampuni aku. Ampuni Jiějiě. Jiějiě ... Jiějiě iri. Sejak kecil Ayah selalu menyayangimu lebih dari aku. Ibumu istri pertama, ibuku hanya istri kedua. Kau menikah dengan Kaisar, dan aku hanya selir yang kau mohonkan dengan belas kasihan. Semua orang melihatku, tapi semua orang tahu kau yang Permaisuri. Jiějiě hanya ... Jiějiě hanya ingin sekali saja menjadi yang pertama.” Ia membenturkan dahinya lagi, dan lagi. “Ampuni aku. Ampuni aku. Jangan biarkan mereka membunuhku.”
Aula sunyi kecuali isak tangisnya.
Hong Lian menatap kakak tirinya yang bersujud di anak tangga.
Hong Lian, batinnya kepada perempuan yang tubuhnya ia tempati. Kau lihat? Aku sudah berjanji di bawah pohon magnolia. Orang yang membunuhmu bersujud meminta ampun.
Ia menunggu rasa puas datang. Rasa puas itu datang, tetapi lebih kecil dari yang ia bayangkan. Yang datang bersamanya adalah rasa lelah, dan sedikit rasa kasihan yang tidak ia inginkan.
“Permaisuri.”
Hong Lian menoleh. Zhang Yuan menatapnya dari singgasana.
“Kau yang dibunuh di hutan itu. Kau yang membawa saksi pulang. Kau yang menahan cawan itu. Zhen ingin mendengar putusanmu sebelum zhen mengumumkannya.”
Seluruh aula menoleh kepadanya. Para menteri, para bangsawan, Jenderal Baili yang masih berlutut, Baili Yuqi yang berdiri di belakang barisan perwira dengan tangan terkepal.
Hong Lian berdiri.
“Wei Cheng,” ucapnya dengan suara jelas, “bersekongkol membunuh Permaisuri, membiayai pembunuhan seratus penjaga kekaisaran, mengirim pemanah ke ruang belajar Bìxià, merencanakan peracunan Janda Permaisuri, dan mengangkat senjata di dalam istana. Hamba tidak punya keringanan untuknya. Biarkan hukum kekaisaran berjalan sebagaimana mestinya. Hukuman mati.”
Wei Cheng tidak bereaksi.
Hong Lian menatap Yuyan yang masih bersujud.
“Baili Yuyan.”
Isak tangis itu berhenti.
“Gelar Selir Pertamamu dicabut. Dua tahun yang lalu, kau menghasut adikmu sampai adikmu dijatuhi hukuman sepuluh tahun di Lěnggōng. Hukuman itu dijalani kakak kandungnya di perbatasan, dan hari ini sudah dicabut. Maka hukuman itu kukembalikan kepada orang yang sejak awal pantas menerimanya.” Hong Lian menatapnya tanpa marah, tanpa kasihan. “Sepuluh tahun di Lěnggōng. Kau akan hidup. Kau akan punya sepuluh tahun untuk memikirkan seratus orang yang tidak lagi punya kesempatan itu.”
Yuyan menatapnya. Bibirnya bergetar. Lalu ia menundukkan kepala sekali lagi ke anak tangga, perlahan, dan kali ini ia tidak berkata apa-apa.
Zhang Yuan berdiri dari singgasana.
“Putusan Permaisuri adalah putusan zhen.”