Matahari sudah condong ke barat ketika Hong Lian akhirnya tiba di Paviliun Fengyi, kediaman Permaisuri di sisi timur istana dalam.
Dari ingatan pemilik tubuh, Paviliun Fengyi adalah tempat yang indah tetapi dingin. Halamannya luas, ditanami pohon plum dan kolam ikan kecil, tetapi sejak pernikahan tiga tahun lalu, pintu gerbangnya tidak pernah dilewati Kaisar. Para pelayan di sini lebih sering bergosip daripada bekerja, dan Permaisuri yang tinggal di dalamnya lebih sering menangis daripada tersenyum.
Kini halaman itu penuh prajurit.
Hong Lian berhenti di depan gerbang dan menghitung. Dua di gerbang, seperti biasa di setiap paviliun. Empat di sepanjang tembok depan. Dua di depan pintu aula utama. Dua lagi di pintu samping, dan dari bayangan yang bergerak di balik tembok, setidaknya empat di halaman belakang.
Empat belas prajurit bersenjata lengkap untuk menjaga seorang perempuan.
Jin Xin berlari keluar dari aula utama begitu melihatnya. Wajahnya cemas.
“Niang-niang, mereka datang tidak lama setelah aku sampai. Kata kepala regu, ini perintah Bìxià. Mereka bahkan ingin memeriksa peti, tapi aku duduk di atasnya dan bilang hanya Niang-niang yang boleh membukanya.”
Hong Lian menahan tawa membayangkan adik kecilnya duduk di atas peti dengan wajah galak di hadapan para prajurit. “Di mana petinya sekarang?”
“Di kamar dalam. Kucing-kucing juga di sana. Aku mengunci pintunya.”
“Bagus.”
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Hong Lian tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Para prajurit di halaman serentak berlutut.
Zhang Yuan berhenti di sampingnya. Rupanya Kaisar tidak kembali ke ruang belajar setelah dari Paviliun Xuan.
“Kau sudah melihatnya,” ucap Zhang Yuan, melirik barisan prajurit. “Mulai hari ini Paviliun Fengyi dijaga siang dan malam. Tidak ada orang yang keluar masuk tanpa sepengetahuan kepala regu. Kau tidak boleh meninggalkan paviliun tanpa pengawalan.”
“Bìxià menyebut ini penjagaan,” ucap Hong Lian tenang. “Di desa, ada kata lain untuk rumah yang dikelilingi empat belas orang bersenjata dan penghuninya tidak boleh keluar tanpa izin.”
“Apa?”
“Penjara.”
Rahang Zhang Yuan mengeras. “Kau baru saja selamat dari penyergapan yang membunuh seratus orang. Siapa pun yang mengirim pembunuh itu sekarang tahu kau hidup. Zhen tidak mau Muhou kehilanganmu dua kali.”
“Hamba mengerti kekhawatiran Bìxià. Tapi coba Bìxià pikirkan.” Hong Lian berbalik menghadapnya. “Hamba disergap di luar istana, di hutan, dalam perjalanan ke kuil. Siapa yang tahu hari dan jalan yang akan hamba lewati? Bukan orang desa. Orang di dalam istana. Kalau Bìxià menaruh empat belas prajurit di sekeliling hamba, hamba tidak tahu yang mana di antara mereka yang digaji orang itu.”
Kepala regu yang berlutut paling dekat terlihat tersinggung, tetapi tidak berani mengangkat kepala.
“Semua prajurit ini pilihan Yu Zhao.”
“Seratus penjaga yang mati di hutan itu pilihan Muhou, Bìxià. Mereka setia. Tapi kesetiaan mereka tidak menyelamatkan siapa pun dari orang yang tahu jadwal rombongan.” Hong Lian menatapnya. “Lagi pula, orang yang mengurung Permaisuri di paviliunnya sendiri sedang mengatakan kepada seluruh harem bahwa Permaisuri sedang dihukum. Bìxià tahu apa yang terjadi pada Permaisuri yang dianggap sedang dihukum. Para pelayan berhenti membawa air panas. Para selir berhenti memberi salam. Hamba sudah mengalaminya tiga tahun tanpa satu prajurit pun. Hamba tidak mau mengalaminya lagi dengan empat belas.”
Zhang Yuan terdiam. Di matanya ada kilatan aneh, seperti seseorang yang baru saja ditampar oleh kebenaran yang tidak ingin ia dengar.
“Kau pikir kau bisa menjaga dirimu sendiri?”
“Hamba pulang sendiri dari hutan selatan sampai ke gerbang istana, Bìxià. Dengan satu pelayan.”
“Itu keberuntungan.”
“Kalau begitu, biarkan hamba terus beruntung.”
Mereka saling menatap. Para prajurit yang berlutut mulai berkeringat. Jin Xin meremas ujung lengan bajunya sendiri sampai kusut.
Akhirnya Zhang Yuan berbalik kepada kepala regu.
“Tarik semua orangmu dari halaman, tembok, dan pintu-pintu. Sisakan dua penjaga gerbang seperti di paviliun lain.” Ia menatap Hong Lian lagi. “Tapi kalau terjadi sesuatu padamu, zhen tidak akan bertanya dua kali.”
“Hamba mengerti. Terima kasih, Bìxià.”
Kepala regu memberi aba-aba. Dalam waktu kurang dari seperempat jam, halaman Paviliun Fengyi kembali sepi, hanya tersisa dua penjaga tua di gerbang yang memang sudah bertugas di sana sejak Hong Lian menikah.
Zhang Yuan berdiri sebentar di halaman itu, menatap pohon-pohon plum dan kolam ikan seolah baru pertama kali melihatnya. Dan memang, pikir Hong Lian, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sini.
“Besok,” ucap Kaisar tanpa menoleh, “zhen masih menunggu penjelasanmu.”
“Besok hamba harus menata ulang paviliun ini, Bìxià. Lusa, atau kapan pun Bìxià punya waktu. Hamba tidak akan lari.”
Zhang Yuan mendengus, lalu pergi. Yu Zhao menyusul di belakangnya.
***
Malam itu, ketika para pelayan sudah tidur dan bulan bersembunyi di balik awan, Hong Lian dan Jin Xin mengangkat peti dari kamar dalam dan membawanya lewat lorong belakang ke gudang kayu bakar di sudut terjauh halaman.
Gudang itu bau jerami dan abu. Hong Lian menyingkirkan tumpukan kayu di sudut dan menekan papan lantai ketiga dari dinding. Papan itu bergeser, memperlihatkan tangga kayu sempit ke bawah.
Jin Xin melongo. “Xiaojie, sejak kapan ada ruang di bawah sini?”
“Sejak sebelum kita lahir, mungkin.” Hong Lian menyalakan lentera kecil. “Aku menemukannya dua tahun lalu. Dulu aku sering bersembunyi di sini untuk menangis, supaya tidak ada pelayan yang mendengar dan menertawakanku.”
Jin Xin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, dan kali ini Hong Lian tidak menegurnya.
Ruang di bawah lantai itu tidak besar, kira-kira sebesar kamar pelayan, dengan dinding batu dan lubang udara kecil yang tersambung ke saluran di bawah tembok. Ada bangku tua dan selimut berdebu yang ditinggalkan pemilik tubuh asli. Hong Lian mengeluarkan dua selimut bersih dan sekendi air dari ruang cahaya, lalu membuka peti.
Lu Ba berkedip silau. Wajahnya pucat dan kaku setelah setengah hari terlipat di dalam peti.
“Selamat datang di istana,” ucap Hong Lian. “Kamarmu tidak terlalu mewah, tapi lebih aman daripada penjara mana pun di Ibu Kota. Tidak ada yang tahu kau di sini kecuali kami berdua.”
Ia membantu Lu Ba keluar dan mendudukkannya di bangku. Laki-laki itu memandang dinding batu di sekelilingnya, lalu menatap Hong Lian.
“Kenapa tidak kau serahkan saja aku ke Kaisar?”
“Karena orang yang membayarmu juga ada di istana ini.” Hong Lian mengikat tali kekang cadangan di pergelangan kakinya ke cincin besi tua di dinding. “Dan aku belum tahu seberapa panjang tangannya.”