Gerbang selatan Ibu Kota kekaisaran Ning tidak pernah sepi. Sejak pintu dibuka saat fajar, gerobak sayur, pedagang kain, rombongan biksu, dan pengemis berdesakan di depan pos penjaga. Para penjaga sudah terbiasa dengan keramaian itu. Mereka memeriksa surat jalan dengan mata setengah mengantuk dan menarik bea masuk dengan tangan yang cekatan.
Menjelang tengah hari, keramaian itu mendadak terbelah.
Sebuah tandu merah tua dipikul empat laki-laki tegap bergerak di tengah jalan. Di belakangnya, seorang gadis bergaun hijau lumut menuntun kuda hitam yang menarik gerobak kecil berisi peti besar. Seekor kuda putih diikat di belakang gerobak. Rombongan itu kecil dan tidak dikawal satu prajurit pun, tetapi orang-orang menyingkir begitu melihat burung phoenix kecil di keempat sudut atap tandu.
Bisik-bisik menjalar seperti api di jerami kering.
“Phoenix ... itu tandu phoenix?”
“Siapa yang berani memakai tandu Permaisuri? Permaisuri kan sudah ...”
“Ssst! Jangan bicara sembarangan!”
Penjaga gerbang yang paling senior, laki-laki berjanggut tipis bernama Zhou, melangkah maju dengan tombak di tangan. Wajahnya keras. Siapa pun yang memakai lambang Permaisuri tanpa hak bisa dihukum penggal, dan ia tidak mau ikut terseret.
“Berhenti! Siapa yang berada di dalam tandu? Turun dan tunjukkan surat jalan!”
Para pemikul berhenti dan menurunkan tandu dengan hati-hati. Untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Lalu sebuah tangan putih menyibak tirai sutra kuning gading.
Hong Lian turun dari tandu.
Ia mengenakan jubah merah delima dengan phoenix emas di dada, rok kuning pucat, dan ikat pinggang bertatahkan giok putih. Rambutnya disanggul tinggi oleh Jin Xin sejak sebelum subuh, dihiasi tusuk konde emas berbentuk phoenix yang ujungnya menjuntai mutiara kecil. Gelang kristal giok merah di pergelangan kirinya tersembunyi di balik lengan baju yang lebar. Wajahnya tidak dipoles terlalu tebal, hanya sedikit merah di bibir, tetapi kecantikannya membuat jalan yang riuh mendadak sunyi.
Penjaga Zhou membeku. Tombaknya turun dengan sendirinya.
Ia pernah melihat wajah itu satu kali, tiga tahun lalu, ketika rombongan pernikahan kekaisaran melewati gerbang ini. Saat itu pengantinnya menunduk sepanjang jalan, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Perempuan di depannya sekarang memiliki wajah yang sama, tetapi matanya menatap lurus seperti mata elang.
“Aku Baili Hong Lian,” ucap Hong Lian. Suaranya tidak keras, tetapi jelas sampai ke deretan pedagang paling belakang. “Permaisuri kekaisaran Ning. Aku pulang.”
Untuk beberapa tarikan napas, tidak ada yang bersuara.
Lalu Zhou menjatuhkan tombaknya dan berlutut, menempelkan dahi ke tanah. Para penjaga lain ikut berlutut, kemudian para pedagang, para biksu, bahkan pengemis di pinggir jalan.
“Hamba ... hamba memberi hormat kepada Niang-niang! Semoga Niang-niang hidup seribu tahun!”
“Bangunlah.” Hong Lian mengibaskan lengan bajunya. “Siapa namamu?”
“Hamba Zhou Ping, kepala penjaga gerbang selatan.”
“Penjaga Zhou, aku butuh seseorang untuk berlari ke istana dan memberi tahu Bìxià bahwa aku sudah di gerbang kota. Pilih yang larinya paling cepat.”
Zhou Ping langsung menoleh dan menunjuk seorang penjaga muda kurus. Pemuda itu melompat ke punggung kuda yang tertambat di depan pos dan memacunya ke utara seperti dikejar setan. Debu mengepul di belakangnya.
Hong Lian kembali menatap Zhou Ping. “Peti di gerobak itu barang bawaan pelayanku. Isinya pakaian dan obat-obatan dari desa. Tidak perlu diperiksa.”
Zhou Ping tidak berani membantah. Ia bahkan tidak berani melirik peti itu. Jin Xin berdiri di samping gerobak dengan wajah datar, satu tangan memegang tali kekang kuda hitam, tangan lainnya bertumpu ringan di atas tutup peti. Di dalam peti, Lu Ba yang terikat dan tertotok hanya bisa mendengar suara orang-orang berlutut dan menarik napas lewat lubang-lubang kecil di dinding kayu.
Hong Lian naik kembali ke tandu. Kali ini ia membiarkan tirainya terbuka setengah.
“Jalan.”
***
Istana kekaisaran Ning
Imperial study
Zhang Yuan sudah membaca laporan pajak dari wilayah selatan tiga kali, dan tiga kali pula ia lupa angka di halaman pertama. Pikirannya terus melayang ke Paviliun Xuan. Pagi ini Muhou nya kembali menolak obat. Gu taiyi mengatakan bila keadaan ini berlangsung seminggu lagi, tubuh beliau tidak akan sanggup.
Gadis terkutuk itu, batinnya. Hidup atau mati, dia tetap membuat Muhou menderita.
Yu Zhao berdiri di sisi kiri meja dengan wajah lelah. Sudah hampir dua bulan ia dan para pengawal bayangan menyisir desa-desa di selatan, tetapi setiap jejak yang mereka temukan selalu putus. Yu Hao berdiri di sisi kanan, sama lelahnya. Penyelidikannya tentang pembeli pembunuh bayaran baru saja menemukan satu benang tipis, dan benang itu belum berani ia laporkan.
Pintu ruang belajar diketuk keras. Seorang kasim masuk tergopoh-gopoh, hampir tersandung ambang pintu.
“Bìxià! Ampun Bìxià! Utusan dari gerbang selatan!”
Zhang Yuan mengangkat kepala dengan kesal. “Ada apa sampai berlari di dalam istana?”
Penjaga muda kurus itu masuk di belakang sang kasim, napasnya masih tersengal, wajahnya penuh debu. Ia berlutut dan membenturkan dahi ke lantai.
“Bìxià, Niang-niang ... Niang-niang Permaisuri ada di gerbang selatan! Beliau datang dengan tandu phoenix dan meminta hamba memberi tahu Bìxià bahwa beliau sudah pulang!”
Kuas di tangan Zhang Yuan jatuh. Tinta hitam menyebar di atas laporan pajak, menutupi angka-angka yang tidak pernah ia hafal.
Ruangan itu sunyi.
“Ulangi,” ucap Zhang Yuan pelan.
“Niang-niang Permaisuri hidup, Bìxià. Hamba melihat dengan mata hamba sendiri. Beliau sehat, berdiri tegak, dan ... dan sangat cantik.”
Zhang Yuan berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang dan membentur rak buku.
Ada dua perasaan yang bertabrakan di dadanya, dan ia tidak tahu mana yang lebih besar. Yang pertama adalah lega, lega yang begitu besar sampai lututnya terasa lemas, karena Muhou nya akhirnya akan mau minum obat. Yang kedua adalah amarah. Dua bulan. Dua bulan ia tidak tidur, Muhou nya sekarat, seratus penjaga mati, dan gadis itu muncul begitu saja di gerbang kota dengan tandu phoenix seolah baru pulang dari pasar.
“Yu Zhao, Yu Hao. Ikut zhen.”
“Bìxià, kereta ...”
“Tidak perlu kereta. Kuda.”
Ia melangkah keluar dari ruang belajar tanpa menunggu jawaban. Para kasim dan pelayan di koridor buru-buru menyingkir ke dinding. Yu Zhao dan Yu Hao saling pandang sekilas, lalu bergegas mengikuti.
Sambil berjalan cepat, Zhang Yuan mengepalkan tangan.
Hong Lian, kali ini zhen benar-benar akan mengikatmu.