Angin pagi bergerak di sela pepohonan, membawa bau tanah basah dan daun yang membusuk. Lima orang berbaju hitam itu berdiri melingkar, masing-masing berjarak tiga langkah dari yang lain. Wajah mereka tertutup kain hitam, hanya mata yang terlihat. Mata-mata itu menatap Hong Lian seperti serigala menatap rusa yang tersesat.
Hong Lian tidak bergerak. Gaun putihnya yang terbungkus jubah bulu rubah merah tampak mencolok di antara batang-batang pohon yang kelabu. Hiasan kepala emas dan merah yang tadi pagi dipasang Jin Xin bergoyang pelan setiap kali angin bertiup.
Orang yang berdiri tepat di depannya maju setengah langkah. Dari caranya memegang golok, Hong Lian tahu dialah pemimpinnya. Tenaga dalamnya paling pekat di antara mereka berlima, tingkat dua, tidak lebih.
“Permaisuri Ning,” ucap orang itu. Suaranya serak, seperti orang yang terlalu sering berteriak. “Kami sudah menunggu di hutan ini hampir dua bulan. Tidak kusangka kau sendiri yang datang menyerahkan leher.”
“Dua bulan?” Hong Lian memiringkan kepala. “Kalian sabar sekali. Majikan kalian pasti membayar mahal.”
“Cukup mahal untuk membeli nyawamu dua kali.”
“Hanya dua kali?” Hong Lian tersenyum tipis. “Kalau begitu dia pelit.”
Pemimpin itu mendengus. Ia tidak suka mangsanya bicara terlalu banyak. Mangsa yang benar seharusnya gemetar, menangis, atau memohon. Permaisuri yang terkenal tidak berguna ini justru berdiri tegak seperti sedang menunggu pelayan menuangkan teh.
“Bunuh dia,” perintahnya.
Dua orang di sisi kiri menerjang lebih dulu. Hong Lian menggeser kaki kanannya ke belakang dan membiarkan golok pertama lewat sejengkal dari bahunya. Pada saat yang sama, ibu jari kanannya menekan ujung jarum akupuntur yang terselip di lengan baju. Setetes darah muncul di ujung jarinya.
Ia hanya membutuhkan satu kedipan.
Dari gelang kristal giok di pergelangan kirinya, sebuah pedang bersarung hitam muncul di genggaman. Ibu jari yang berdarah menyentuh ukiran teratai merah pada sarungnya. Darah itu mengalir mengikuti pola ukiran, cahaya merah berpendar sesaat, lalu bilah bening seperti air terlepas dari sarungnya dengan bunyi mendesis.
Red Lotus.
Kelima orang itu tertegun. Mereka belum pernah melihat pedang yang tembus pandang dengan garis merah di tengahnya, seakan setetes darah membeku di dalam es.
Keterkejutan itu adalah kesalahan pertama mereka, dan juga kesalahan terakhir bagi dua orang di sisi kiri.
Hong Lian berputar. Red Lotus melintas sekali, rendah dan cepat. Dua tubuh roboh ke tanah hampir bersamaan, golok mereka terlepas dan menancap di akar pohon. Mereka tidak sempat berteriak.
“Formasi!” raung sang pemimpin.
Tiga orang yang tersisa mundur dan membentuk segitiga. Ini cara bertarung kelompok yang sudah lama bekerja bersama, satu menyerang, satu menutup jalan, satu menunggu celah. Dengan cara seperti inilah, batin Hong Lian, seratus penjaga kekaisaran dibantai. Penjaga istana dilatih menghadapi musuh yang datang dari depan, bukan kawanan yang menggigit dari tiga arah.
Sayang sekali bagi mereka, dulu ia sendiri pernah memimpin kawanan semacam itu.
Orang di sisi kanan melemparkan tiga pisau terbang. Hong Lian memiringkan Red Lotus. Dua pisau terpental dan berdenting di batang pohon, yang ketiga ia tangkap dengan dua jari lalu ia lemparkan kembali ke pemiliknya. Orang itu terhuyung, memegangi bahunya, dan berlutut.
Pemimpin kelompok memanfaatkan saat itu untuk menyerang dari belakang. Hong Lian merasakan desir udara di tengkuknya. Ia tidak menoleh. Tubuhnya melayang setengah tombak ke atas dengan Qigong, golok itu menebas udara kosong, dan ketika ia turun, kakinya mendarat tepat di belakang sang pemimpin.
Orang keempat, yang sejak tadi menunggu celah, akhirnya menemukannya. Ia menusuk ke arah pinggang Hong Lian. Red Lotus bergerak lebih cepat daripada matanya. Orang itu jatuh, dan tidak bangun lagi.
Hong Lian memutar pergelangan tangan. Ujung Red Lotus kini berhenti satu jari dari tenggorokan sang pemimpin.
Hutan mendadak sunyi. Burung-burung yang tadi beterbangan sudah pergi. Yang tersisa hanya napas sang pemimpin yang memburu.
Hong Lian melirik orang yang berlutut memegangi bahu. Orang itu sedang merogoh sesuatu di balik bajunya, tangannya gemetar, matanya liar. Sebelum Hong Lian sempat bergerak, ia sudah memasukkan sesuatu ke mulutnya. Tubuhnya kejang sebentar, lalu terkulai.
Racun. Mereka membawa racun untuk diri sendiri. Kelompok yang sangat takut tertangkap hidup-hidup, batin Hong Lian. Dan orang yang takut tertangkap biasanya menyimpan rahasia yang berharga.
Ia kembali menatap sang pemimpin. Mata di balik kain hitam itu bergerak ke arah kerah bajunya sendiri.
“Jangan,” ucap Hong Lian datar.
Tangan kirinya bergerak lebih dulu. Dua jari menotok titik di bawah tulang selangka orang itu, lalu titik di sisi lehernya. Tubuh sang pemimpin langsung kaku seperti patung kayu. Goloknya jatuh ke tanah. Ia masih bisa bernapas dan mengedipkan mata, tetapi lengan dan kakinya tidak lagi mau menuruti perintah.
Hong Lian menarik kain penutup wajahnya. Di baliknya ada wajah laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun dengan bekas luka memanjang dari pelipis ke telinga. Ia merogoh kerah baju orang itu dan menemukan sebutir pil hitam terbungkus kertas minyak. Pil itu ia jatuhkan ke tanah lalu ia injak sampai hancur.
“Kau sudah menunggu dua bulan untuk bertemu denganku,” ucap Hong Lian sambil mengusap bilah Red Lotus dengan ujung jubah salah satu mayat. “Akan sangat tidak sopan kalau kau pergi secepat itu.”
Laki-laki itu menatapnya. Di matanya ada sesuatu yang tidak ada lima belas tarikan napas yang lalu.
Takut.
Hong Lian menyarungkan Red Lotus, dan pedang itu lenyap kembali ke dalam gelang. Ia berdiri, merapikan jubah bulu rubahnya yang sedikit miring, lalu meniup tiga siulan pendek.
Tidak lama kemudian terdengar derap kuda. Jin Xin muncul dari balik pepohonan sambil menuntun dua kuda, putih dan hitam. Di punggung kuda hitam tergantung keranjang rotan tempat dua kucing Persia mereka tidur sejak berangkat dari desa Xu. Pedang latihan Jin Xin sudah terhunus di tangan kanannya.
Gadis itu berhenti mendadak. Matanya menyapu tubuh-tubuh yang tergeletak, lalu berhenti pada nona nya. Wajahnya pucat pasi.
“Xiaojie! Kamu terluka? Ada darah di jarimu!”
“Itu darahku sendiri. Aku yang menusuknya.”
“Kenapa kamu menusuk jarimu sendiri?!”
“Untuk membuka pedang.” Hong Lian menghela napas melihat mata adiknya yang mulai memerah. “Jangan menangis. Lihat, yang lima itu yang bermasalah, bukan aku.”
Jin Xin mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu menatap laki-laki yang berdiri kaku seperti orang-orangan sawah. “Yang ini ... masih hidup?”
“Sengaja aku sisakan satu.” Hong Lian menepuk bahu laki-laki itu seperti menepuk tiang. “Empat lainnya tidak bisa bicara lagi. Yang satu ini, aku jamin, akan bicara banyak.”
Jin Xin menelan ludah. Selama dua bulan ia berlatih bersama nona nya, ia tahu nona nya kuat. Tetapi ia tidak pernah membayangkan nona nya bisa menjatuhkan lima orang dalam waktu yang lebih singkat daripada merebus air untuk teh.
“Xiaojie, mereka ini ... apakah mereka yang ...”
“Kita akan tahu sebentar lagi.” Hong Lian menatap jalan setapak di belakang mereka, tempat roda kereta Permaisuri dulu berhenti untuk terakhir kalinya. Rerumputan sudah tumbuh menutupi bekasnya. “Tapi tidak di sini. Bau darah akan memanggil binatang, dan mungkin juga teman-teman mereka.”
Ia kembali menatap laki-laki itu dan tersenyum. Senyumnya lembut, tetapi laki-laki itu merasakan dingin merambat dari tengkuk sampai ke ujung kakinya.
“Kita cari tempat yang tenang untuk mengobrol.”