Sola menarik napas. Sebenarnya ia bisa memaksa Lazuardi untuk tinggal. Tapi melihat keteguhan di wajah itu, ia teringat dirinya sendiri dulu tidak mudah percaya, harus melihat dengan mata kepala sendiri.
“Kamu yakin?” tanya Sola sekali lagi.
“Yakin, Kak. Saya janji nggak akan jadi beban. Biar saya ikut, biar besok kerja saya jadi lebih semangat karena sudah tahu dari awal.”
Sola menghela napas panjang. Ia menoleh ke Pak Herman yang hanya mengangkat bahu terserah Sola. Akhirnya Sola mengangguk.
“Baik. Tapi kamu ikut Joko. Jangan macam-macam. Nanti kalau sampai pelabuhan, kamu diam dan lihat saja. Jangan ganggu yang sedang kerja. Paham?”
Lazuardi tersenyum lega. “Paham, Kak. Makasih.”
Ia segera melangkah menuju truk tempat Joko sudah duduk di kursi kemudi. Sebelum naik, ia sempat menoleh ke belakang. Sola masih berdiri di tempatnya, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan antara waspada dan iba.
Lazuardi mengabaikannya. Ia naik ke kursi penumpang, ransel biru diletakkan di pangkuan. Mesin truk menderu. Joko tertawa melihat antusiasme pemuda baru itu.
“Besok baru mulai, udah semangat amat, Zu. Mau ikut angkut barang?”
“Mau lihat aja, Bang. Biar tahu.”
Joko menggeleng-geleng sambil tertawa. “Anak baru selalu gitu. Nanti juga bosan.”
Truk melaju perlahan meninggalkan halaman gudang. Lazuardi menatap ke luar jendela, sementara dalam hati ia masih bergumul dengan kecurigaan yang belum sepenuhnya hilang.
Perjalanan ke pelabuhan memakan waktu sekitar empat puluh menit karena lalu lintas yang cukup padat. Sepanjang jalan, Joko sibuk bercerita tentang pengalamannya sebagai sopir, tentang rute-rute yang biasa dilalui, tentang pekerjaan-pekerjaan aneh yang pernah ia temui. Lazuardi mendengarkan dengan setengah hati, matanya terus mengamati jalanan yang semakin mendekati kawasan pelabuhan.
Begitu memasuki area pelabuhan, suasana berubah drastis. Truk-truk besar berjejer di mana-mana, suara klakson dan mesin berat bercampur aduk. Petugas dengan rompi oranye berlalu-lalang membawa papan klip. Udara terasa panas dan berbau solar serta garam dari laut yang tak jauh dari sana.
Joko memarkir truk di area yang ditunjuk. Ia turun dengan gesit, diikuti Anto dan Budi dari belakang. Lazuardi mengikuti langkah mereka, berusaha tidak terlihat terlalu mencolok.
“Zu, kamu di sini aja. Nggak usah kemana-mana,” perintah Joko sambil mengeluarkan dokumen dari saku jaketnya.
Lazuardi mengangguk. Ia berdiri di samping truk, matanya mengamati keramaian di sekelilingnya. Petugas bongkar muat sedang menyusun palet-palet kayu yang dibungkus plastik tebal. Di beberapa palet, ia bisa melihat tulisan asing bahasa Korea, pikirnya dan gambar-gambar produk dengan kemasan warna-warni.
Alat kecantikan, desisnya dalam hati. Sepertinya benar.
Lazuardi hampir menghela napas lega. Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Di antara kerumunan petugas dan pekerja bongkar muat, ada seorang wanita yang berdiri di dekat kontainer besar. Rambutnya panjang, tergerai di bahu, mengenakan blazer hitam yang tampak mahal meski dari jarak jauh. Ia sedang berbicara dengan seorang pria berbadan tinggi, rambut rapi, mengenakan jas gelap. Dari postur dan cara mereka berdiri, Lazuardi bisa menebak pria itu adalah orang asing. Mungkin Korea, pikirnya, sesuai dengan tulisan di palet.
Wanita itu membelakangi Lazuardi, jadi ia tidak bisa melihat wajahnya. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian pemuda itu cara wanita itu berbicara sangat percaya diri, tangannya sesekali menunjuk ke dokumen yang dipegang pria Korea itu, lalu mereka berjabat tangan dengan erat.
Lazuardi menajamkan pandangan, berusaha melihat lebih jelas. Tapi wanita itu tidak berbalik. Setelah selesai berbicara, ia melangkah cepat menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Ia masuk ke dalam, dan mobil itu segera melaju meninggalkan pelabuhan.
Lazuardi hanya bisa menatap kepergiannya dengan rasa penasaran.
Siapa dia? pikirnya. Pejabat? Pemilik barang?
Tapi rasa penasaran itu cepat berlalu ketika Joko memanggilnya dari dekat truk.
“Zu! Bantu sikit! Paletnya mau dimuat!”
Lazuardi bergegas mendekat. Ia membantu Anto dan Budi mendorong palet-palet berisi kardus-kardus produk kecantikan ke dalam truk. Semua berjalan lancar, tertib, dan profesional. Tidak ada yang aneh. Tidak ada barang gelap, tidak ada transaksi mencurigakan. Semua terlihat resmi dengan dokumen dan stiker-stiker bea cukai yang menempel di setiap palet.
Setelah semua barang terangkat, Joko mengelap keringat di dahinya. “Nah, selesai. Balik ke gudang sekarang.”
Lazuardi melompat naik ke kursi penumpang, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia memandangi kardus-kardus di belakang truk dengan senyum tipis. Kardus-kardus itu bertuliskan nama produk yang tidak ia mengerti, tapi setidaknya ia sudah melihat sendiri.
Ternyata tidak bohong, gumamnya dalam hati. Benar-benar alat kecantikan. Bukan barang ilegal.
Ia menepuk pelan ransel biru di pangkuannya, merasakan uang sisa yang masih tersimpan di saku celana. Perasaannya campur aduk lega karena kecurigaannya tidak terbukti, sedikit malu karena sempat menuduh tanpa bukti, dan yang paling kuat adalah semangat yang membara di d**a.