Dia tersenyum tipis, matanya tetap lurus ke depan. "Aku dari Padang. Merantau ke sini sendirian, nggak kenal siapa-siapa. Modal nekat sama uang tabungan pas-pasan. Awalnya tidur di losmen kumuh, makan nasi kecap setiap hari. Sampai akhirnya dapat kerja di perusahaan ini."
Aku terkesima. Wanita di sampingku ini yang sekarang punya mobil, pakaian rapi, pekerjaan tetap ternyata pernah berada di posisi yang sama denganku. Bahkan mungkin lebih sulit.
"Terus Kakak bisa sukses kayak gini?"
Dia tertawa. "Sukses? Aku belum sukses, Zu. Masih jauh. Tapi setidaknya aku sudah punya tempat berdiri."
Aku mengangguk. Kata-katanya meresap dalam dadaku.
"Kak Sola kerja di perusahaan itu sudah lama?"
"Lima tahun. Aku mulai dari bawah juga. Admin biasa. Naik perlahan sampai sekarang dipercaya pegang keuangan."
Aku mengaguminya. Perempuan ini tegar. Tidak mengeluh, tidak menyerah.
"Kak Sola sendiri di sini? Nggak punya keluarga?"
Sola terdiam sejenak. "Aku juga nggak punya siapa-siapa di sini. Keluarga di Padang. Kadang pulang setahun sekali."
Aku mengerti. Rasanya seperti melihat diriku sendiri di masa depan. Atau mungkin, dia adalah versi diriku yang lebih berhasil.
"Kak Sola... kenapa Kakak mau bantu aku? Bayarin makan, kasih kerja... kita kan baru kenal."
Sola tersenyum. Matanya sayu, seperti mengingat sesuatu yang jauh.
"Karena aku pernah ada di posisimu," katanya pelan. "Dulu ada juga orang yang bantu aku waktu aku susah. Dan dia bilang, 'Kalau nanti kamu bisa, bantu orang lain. Biar rantai kebaikan nggak putus.'"
Aku terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Aku tidak tahu harus berkata apa.
"Jadi," Sola melanjutkan, "aku cuma nerusin apa yang dulu aku terima."
Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi, deretan pabrik dan gudang mulai terlihat di sisi kiri kanan. Aku melihat papan-papan nama perusahaan, truk-truk parkir di halaman, beberapa pekerja berseragam mondar-mandir.
"Ini kawasan industrinya," kata Sola. "Perusahaan kita di ujung sana. Nanti aku kenalin kamu sama mandor gudang."
Aku menatap ke luar, jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena semangat yang memenuhi dadaku.
Sola memarkir mobil di depan sebuah bangunan berwarna biru putih. Tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi. Ada tulisan di papan nama PT. Cahaya Estetika Internasional Importir & Distributor Alat Kecantikan.
Aku menelan ludah. Alat kecantikan. Pekerjaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tapi tidak apa. Aku siap.
Sola mematikan mesin, lalu menoleh padaku. "Kamu siap?"
Aku mengangguk tegas. "Siap, Kak Sola."
Dia tersenyum. "Bagus. Sekarang ikut aku. Jangan canggung. Kamu kerja di sini mulai besok. Tapi hari ini aku perkenalkan dulu."
Aku membuka pintu mobil, kaki menjejak aspal halaman perusahaan. Ransel biru masih di punggung, uang sisa dua ratus ribu di saku, dan semangat yang membara di d**a.
Aku memandang gedung di depanku, lalu menatap langit kota yang sedikit mendung.
Terima kasih, Tuhan, batinku. Aku baru sampai, dan sudah diberi jalan. Ini pasti pertolongan-Mu.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah ibu Riana, aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah memarkir mobil di halaman depan, Sola mengajak Lazuardi berkeliling area luar gudang. Pemuda itu berjalan di sampingnya dengan ransel biru masih menggantung di punggung, matanya tak henti-henti mengamati setiap sudut. Gedung berwarna biru putih itu tampak sederhana namun terawat. Di sisi kanan, beberapa truk kecil terparkir rapi. Dari dalam gudang terdengar suara orang memindahkan kardus dan sesekali tawa kasar para pekerja.
Sola baru saja membuka pintu utama ketika ponselnya berdering. Lazuardi melihat Sola mengerutkan kening sesaat sebelum menjawab.
“Ya, Bu,” kata Sola dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi lebih formal. Matanya melirik sekilas ke arah Lazuardi, lalu ia bergerak beberapa langkah menjauh. “Iya, sudah sampai… Baik, saya lapor nanti.”
Lazuardi hanya bisa mendengar potongan-potongan suara. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang menguping, jadi ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperhatikan sebuah truk yang sedang bongkar muat di seberang.
Percakapan telepon itu singkat. Sola kembali mendekat dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia menyimpan ponsel ke dalam tas kecilnya, lalu tersenyum tipis.
“Kita masuk,” katanya singkat.
Lazuardi mengangguk, tidak banyak bertanya.
Di dalam gudang, udara terasa lebih sejuk karena sirkulasi dari kipas-kipas besar yang berputar lambat di langit-langit. Rak-rak besi berjajar rapi, berisi kardus-kardus dengan label berbahasa asing. Beberapa pekerja laki-laki sedang sibuk menghitung stok. Seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan perut sedikit membuncit berjalan menghampiri mereka. Wajahnya tampak tegas tapi matanya ramah.
“Sola, ini anak baru?” tanyanya sambil mengamati Lazuardi dari kepala hingga kaki.
“Iya, Pak Herman. Namanya Lazuardi. Baru datang dari Tebing Tinggi,” Sola memperkenalkan. Lalu ia menoleh ke Lazuardi. “Ini Pak Herman, mandor gudang. Kamu akan bekerja di bawah pengawasannya.”
Lazuardi segera menegakkan badan. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan sedikit gugup. “Lazuardi, Pak. Bisa dipanggil Zu. Umur 23 tahun. Asli Tebing Tinggi, Sumatra Utara.”
Pak Herman menerima jabatannya. Genggaman pria itu keras, seperti orang yang terbiasa bekerja dengan tangan. “Lazuardi, ya. Baru pertama kali kerja di gudang?”
“Iya, Pak. Tapi saya siap belajar.”