~NOW~
Teguh mengadakan reuni kecil mantan karyawan AIF Group di Bandung. Bayu hampir menolak karena tempatnya dekat kos lama dan rumah yang pernah dibeli untuk Melody. Melody mengatakan mereka boleh datang tanpa mengunjungi semua lokasi kenangan.
Acara berlangsung di kafe biasa. Popy hadir sebagai teman lama Melody, bersama beberapa orang yang pernah menyaksikan awal hubungan mereka. Teguh menyiapkan foto-foto kantor. Satu gambar memperlihatkan Bayu dan Melody berdiri terlalu dekat saat belum berpacaran.
'Kalian memang dari dulu cocok,' ujar seseorang.
Bayu mengoreksi bahwa cocok tidak berarti komunikasi mereka dahulu sehat. Melody menambahkan banyak orang lain terluka ketika mereka bertemu kembali.
Suasana sempat canggung. Teguh mengubah topik ke mutasi kantor. Mereka membahas teman yang pindah, pensiun, dan meninggal. Reuni tidak lagi hanya soal cinta Bayu-Melody.
Seorang mantan atasan meminta Bayu menceritakan alasan pindah ke Medan. Bayu menjawab singkat: promosi serta keputusan pribadi yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Dia tidak menyalahkan Melody atau menjadikan pengorbanan finansial sebagai kisah heroik.
Popy bertanya apakah Melody akhirnya membaca surat Medan. Melody mengatakan iya tetapi tidak membagikan isi. Teman dekat tidak otomatis mendapat akses ke dokumen privat.
Setelah acara, sebagian kelompok ingin mengunjungi kantor lama. Bayu ikut. Melody memilih bertemu teman toko. Mereka tidak harus bergerak sebagai satu unit.
Kantor telah berubah menjadi ruang kerja bersama. Bilik tempat Bayu duduk tidak ada. Seorang pengelola memberi izin melihat area umum, tetapi melarang masuk ruang penyewa. Bayu menghormati. Dia mengambil satu foto lorong kosong, bukan orang yang bekerja.
Teguh mengaku dulu menganggap diam Bayu sebagai sifat keren.
'Gue harusnya nyuruh lo telepon Melody,' katanya.
'Gue orang dewasa. Bukan tugas lo membuat gue bicara.'
'Tetap aja gue ikut menormalisasi.'
Bayu menerima refleksi tanpa memindahkan tanggung jawab. Mereka kemudian makan mi dan membahas kesehatan, bukan masa lalu.
Melody bertemu Popy di toko lama Dara's Bakery. Popy meminta maaf pernah memuji hubungan mereka sebagai takdir yang menang. Setelah melihat perceraian serta anak-anak, dia mengerti kalimat itu menghapus orang lain.
'Aku juga pernah suka kalimat itu,' jawab Melody. 'Jadi bukan cuma kamu.'
Mereka melihat buku catatan mutasi lama. Melody dahulu pergi ke Bandung untuk membuktikan kemandirian. Kini dia menyadari banyak keputusan hidup lahir dari kebutuhan membuktikan sesuatu kepada keluarga.
'Menyesal?' tanya Popy.
'Nggak. Tapi aku nggak mau menyebut semua pilihan sulit sebagai jalan yang memang harus terjadi.'
Malam hari Bayu dan Melody bertemu di hotel. Mereka memesan dua kamar karena Bayu mendengkur dan Melody butuh tidur setelah perjalanan. Petugas tidak bertanya.
Keesokan pagi mereka berjalan dekat rumah lama Bayu, tetapi tidak berhenti di depan. Rumah itu sudah direnovasi dan anak-anak bermain di halaman. Bayu tidak mengambil foto.
'Aku dulu membayangkan kamu di sana,' katanya.
'Aku tahu.'
'Sekarang aku nggak merasa rumah itu menunggu.'
'Bagus. Karena pemiliknya bisa marah kalau kita berdiri lama-lama.'
Mereka tertawa dan terus berjalan.
Di stasiun, kereta terlambat. Dulu keterlambatan mungkin menjadi alasan memperpanjang adegan romantis. Kini Melody membaca, Bayu membeli air, dan keduanya sesekali mengeluh tentang kursi.
Reuni mempertemukan mereka dengan orang, tempat, dan versi diri yang pernah dianggap pusat dunia. Tidak ada keinginan mengulang. Kenangan boleh dikunjungi seperti kota: melihat perubahan, mengakui apa yang hilang, lalu pulang tanpa mengambil kunci dari penghuni sekarang.
Dalam perjalanan pulang, Bayu menerima pesan dari mantan rekan yang tidak hadir karena merawat pasangan sakit. Dia meminta foto reuni. Bayu mengirim album setelah memastikan persetujuan grup dan menghapus gambar orang yang memilih tidak dibagikan.
Melody menemukan namanya masih tercantum dalam daftar alumni perusahaan dengan jabatan lama. Dia meminta data diperbarui, bukan karena malu pernah menjadi staf administrasi, melainkan agar sejarah tidak berhenti pada satu tahap. Pengelola reuni menambahkan kolom persetujuan kontak untuk acara berikut.
Teguh mengusulkan reuni tahunan. Sebagian orang menolak karena biaya dan perjalanan. Mereka sepakat tiga tahun sekali dengan pilihan daring. Pertemanan tidak diukur dari kemampuan hadir fisik.
Bayu serta Melody juga menemui ibu kos lama yang kini dikelola anaknya. Mereka tidak masuk kamar lama karena sudah ditempati. Anak pemilik menunjukkan buku tamu setelah menutup data penghuni lain. Nama Melody masih ada pada catatan kunjungan.
'Mau difoto?' tanya Bayu.
'Nggak. Aku sudah tahu pernah datang.'
Mereka meninggalkan tempat tanpa membawa salinan. Bukti tidak selalu diperlukan untuk membuat kenangan sah.
Di kereta, Melody bertanya apakah Bayu ingin mengulang satu hari dari masa lalu jika bisa. Bayu mengatakan ingin kembali ke malam ketika menerima promosi dan meneleponnya. Melody memilih hari ketika dia meminta waktu menikah dan menjelaskan tanpa takut.
'Tapi kalau kita mengubah, Levi dan Lody mungkin nggak ada,' kata Bayu.
'Makanya pertanyaannya cuma khayalan.'
Mereka tidak menjadikan anak sebagai alasan bahwa semua luka perlu terjadi. Kehidupan sekarang berharga, dan jalan menuju sini tetap berisi keputusan yang seharusnya lebih baik.
Saat kereta tiba, Bayu serta Melody turun membawa tas masing-masing. Reuni tidak mengembalikan usia muda. Ia memberi kesempatan melihat bahwa mereka tidak lagi perlu mengulang adegan untuk memperoleh akhir berbeda. Percakapan yang dulu gagal kini sudah dijalankan bertahun-tahun di tempat lain.
Beberapa bulan setelah reuni, satu teman meninggal. Grup kembali ramai oleh ucapan duka dan foto lama. Bayu meminta gambar almarhum tidak diteruskan keluar grup tanpa izin keluarga. Mereka mengumpulkan bantuan bagi pasangan yang ditinggalkan melalui rekening transparan, bukan sekadar karangan bunga.
Kematian itu membuat reuni terasa lebih berharga sekaligus tidak boleh menjadi kewajiban. Popy mengusulkan setiap orang memperbarui kontak darurat dan pilihan berbagi foto. Teguh membuat formulir sederhana.
Bayu serta Melody menghadiri pemakaman, duduk bersama mantan rekan, dan pulang tanpa membicarakan siapa berikutnya. Usia memberi pertemuan rasa mendesak, tetapi mereka menolak memakai takut sebagai alasan memaksa kedekatan. Teman boleh datang, menjauh, lalu muncul lagi tanpa membuktikan loyalitas.
Reuni berikutnya mungkin memiliki kursi kosong lebih banyak. Mereka akan menyebut nama yang hilang tanpa menjadikan seluruh acara makam. Mengingat orang bukan menghentikan waktu pada foto terbaik, melainkan membiarkan cerita tentangnya berbeda di mulut orang yang pernah mengenal.