~NOW~
Setelah Levi dan Lody kuliah, rumah terasa terlalu besar. Bayu masih mengetuk kamar anak sebelum sadar tidak ada siapa-siapa. Melody memasak porsi empat lalu menyimpan sisa tiga hari.
Minggu pertama mereka menikmati kebebasan. Mereka menonton film larut malam dan bepergian tanpa mengatur jadwal pengasuhan. Minggu kedua, percakapan mulai terlalu banyak membahas anak yang tidak ada.
'Kita dulu menikah karena ingin hidup bersama,' kata Melody. 'Kenapa sekarang bingung saat benar-benar berdua?'
'Karena selama ini kalender anak ikut memberi bentuk.'
Mereka kembali ke terapi, bukan karena krisis, melainkan perubahan tahap. Konselor meminta masing-masing membuat kegiatan sendiri serta kegiatan bersama. Hubungan tidak boleh menjadi satu-satunya sumber makna setelah pengasuhan harian berkurang.
Melody mengikuti kelas menulis resep dan sejarah keluarga, tetapi berhati-hati tidak memakai cerita Mbok Hartik atau pekerja tanpa izin. Bayu memperdalam fotografi dokumenter dengan komunitas.
Mereka menetapkan satu malam kencan, satu malam pribadi, dan akhir pekan fleksibel. Pada malam pribadi, pintu ruang kerja dapat ditutup. Tidak ada kewajiban menemani hanya karena rumah sepi.
Konflik muncul ketika Bayu menerima proyek foto tiga minggu di Sulawesi. Dulu Melody mungkin takut perjalanan menjadi Medan kedua. Kini Bayu memberi informasi sejak tawaran datang, termasuk jadwal komunikasi dan kemungkinan sinyal buruk.
'Aku tetap takut kamu pergi dan berubah pikiran,' kata Melody.
'Aku bisa memberi kabar dan pulang sesuai rencana. Aku nggak bisa menjamin kamu nggak takut.'
Melody menerima. Dia tidak ikut hanya untuk mengawasi. Selama Bayu pergi, dia mengunjungi Levi di Yogyakarta setelah membuat janji, bukan kejutan.
Levi menolak Melody membersihkan kos. Mereka makan di luar dan berbicara tentang proyek kuliahnya. Melody mengetahui putranya sedang dekat dengan seorang teman laki-laki tetapi tidak bertanya label sebelum Levi siap.
'Mommy nggak kaget?' tanya Levi.
'Mommy ingin tahu kamu aman dan diperlakukan baik. Kamu cerita sisanya kalau mau.'
Levi mengangguk. Pengalaman Lody membantu keluarga lebih siap menerima tanpa menjadikan identitas anak sebagai pengumuman.
Bayu pulang tepat jadwal dengan tubuh lelah. Melody tidak mengadakan sambutan besar. Dia bertanya apakah ingin ditemani atau tidur. Bayu memilih mandi dan makan.
Hasil fotonya mendapat tawaran pameran. Beberapa gambar menampilkan komunitas adat. Bayu memastikan persetujuan pameran serta pembagian keuntungan. Melody membantu membaca kontrak hanya sebagai pasangan, sementara penasihat independen menilai hak.
Rumah sepi juga membawa persoalan tempat tinggal. Mereka mempertimbangkan pindah ke rumah lebih kecil. Sebelum memutuskan, mereka bertanya kepada anak apakah barang serta kamar boleh diubah. Levi mengatakan tidak perlu menyimpan kamar utuh. Lody meminta satu lemari dan ruang tidur saat pulang.
Mereka menjual sebagian perabot, menyumbangkan dengan izin pemilik, dan mengubah satu kamar menjadi studio gabungan. Rumah sewa lama akhirnya ditinggalkan. Mereka menyewa apartemen tiga kamar: kamar pasangan, dua ruang fleksibel bagi anak dan kerja.
Rumah Melody tetap disewakan, apartemen lama Bayu dijual setelah perjanjian aset ditinjau. Uang penjualan tetap aset pribadinya. Mereka tidak menganggap pernikahan panjang menghapus dokumen.
Pada malam pertama di apartemen baru, tidak ada suara anak. Bayu memasang foto kebun raya yang dipilih Levi serta gambar peta keluarga buatan Lody. Melody menggantung resep puding lama di dapur.
'Kita jadi orang tua sarang kosong?' tanya Bayu.
'Sarangnya nggak kosong. Burungnya cuma punya jadwal sendiri.'
Mereka tertawa. Beberapa hari kemudian Lody pulang mendadak karena konflik asrama, membuktikan istilah kosong berlebihan.
Rumah yang kembali berdua tidak berarti kembali ke awal. Di dalamnya tetap ada jejak anak, mantan pasangan yang sesekali menelepon, pekerjaan, dan keluarga. Bayu serta Melody tidak mencoba menjadi kekasih muda lagi. Mereka belajar menjadi pasangan paruh baya yang memilih kebersamaan tanpa menggunakan kesibukan anak sebagai penyangga.
Kepindahan apartemen mengungkap perbedaan tentang barang. Bayu ingin membuang benda yang tidak dipakai setahun. Melody menyimpan karena mengaitkannya dengan orang. Mereka membuat aturan: pemilik benda memutuskan, tetapi ruang bersama memiliki batas volume.
Kotak kenangan Melody berisi tiket, kartu Levi, foto toko, dan salinan surat Medan. Bayu tidak membuka. Kotak Bayu berisi dokumen rumah lama, kamera rusak, dan gambar Lody. Melody juga tidak menilai mana pantas disimpan.
Mereka menyewa satu unit penyimpanan selama tiga bulan, bukan selamanya. Setelah masa itu, setiap orang memilih dua kotak. Sisanya disumbangkan, dipindai, atau dibuang. Proses dilakukan perlahan agar tidak berubah menjadi pemaksaan minimalisme.
Rumah berdua juga mengubah kerja domestik. Ketika anak jarang hadir, Melody mengira tugas berkurang dan menghentikan jasa bersih. Ternyata mereka tetap sibuk. Pekerjaan menumpuk dan keduanya saling menyalahkan. Mereka mengembalikan bantuan dua kali sebulan, membayar layak, serta membagi tugas harian.
Bayu memasak lebih sering, Melody menangani cucian. Saat proyek foto membuat Bayu pergi, dia mengatur makanan beku sebelum berangkat hanya setelah bertanya; Melody tidak membutuhkan diperlakukan seperti tidak mampu makan sendiri.
Kehidupan seksual mereka pun berubah dengan usia, hormon, serta kelelahan. Mereka berkonsultasi ketika rasa sakit muncul, bukan menganggap gairah hilang. Kedekatan diperluas menjadi pijat, percakapan, tidur bersama, atau ruang sendiri.
Pada ulang tahun pernikahan kesepuluh, mereka menolak pesta kejutan keluarga dan memilih satu hari tanpa telepon kerja. Rencana gagal ketika Ibu Bayu membutuhkan kontrol dan Levi menelepon soal kontrak kos. Mereka menangani lalu menjadwal ulang, tidak menyalahkan keluarga merusak romantisme.
Minggu berikutnya mereka pergi ke museum dan makan sederhana. Tidak ada nostalgia wajib. Bayu mengambil foto Melody setelah meminta. Melody tidak mengunggah.
Rumah kembali berdua memberi mereka waktu, tetapi juga menyingkap bahwa kebersamaan tak dapat hidup hanya dari sisa pengasuhan. Mereka harus tetap bertanya siapa orang di sampingnya sekarang. Jawabannya berubah: penulis, fotografer, anak dari ibu yang menua, orang tua yang mulai dilepas, dan pasangan yang masih membutuhkan pintu pribadi.
Malam pertama setelah pindah, mereka tidak berusaha mengisi seluruh sunyi. Bayu membaca di balkon dan Melody menulis di meja. Sesekali keduanya saling melihat, memastikan yang lain ada tanpa memanggil. Rumah berdua mulai menemukan suara baru yang tidak membutuhkan keramaian untuk terasa hidup.