Kisah perjalanan hidup Rina yang luar biasa itu tak berhenti hanya sampai di gerbang keberhasilan pribadi dan kebahagiaan keluarganya saja. Setelah kabar bahwa Rina berhasil bangkit dari keterpurukan, menyelesaikan pendidikan tinggi dengan gemilang, dan pulang membawa kesuksesan serta kemewahan menyebar, nama Rina makin dikenal luas dan terangkat tinggi namanya. Bukan lagi sekadar dikenal sebagai anak desa yang rajin atau gadis kecil yang kuat memikul beban berat, tapi namanya kini menjadi simbol harapan dan kekuatan. Kabar tentang kebaikan hatinya, ketabahannya, dan kesuksesannya itu melambung jauh melewati batas desa kelahirannya. Namanya terdengar sampai ke telinga warga desa-desa tetangga yang letaknya berpuluh-puluh kilometer jauhnya, terdengar di kantor-kantor pemerintahan hingga sampai ke telinga para pejabat daerah yang memiliki kuasa, terdengar di gedung-gedung perkantoran besar hingga sampai ke telinga para pengusaha sukses, orang-orang terpandang, dan tokoh-tokoh penting di kota besar yang ramai dan maju.
Semua orang yang mendengar kisah hidupnya itu merasa kagum luar biasa, tak percaya, namun sangat terinspirasi. Mereka kagum pada sosok gadis yang dulunya setiap hari terlihat memikul air dan kayu bakar yang beratnya luar biasa, yang hidupnya serba kekurangan dan tak punya apa-apa selain tekad, kini mampu bangkit berdiri tegak menjadi seorang wanita muda yang sangat sukses, cerdas, berwibawa, dan memiliki hati yang jauh lebih mahal harganya daripada emas permata. Rina dikenal bukan karena ia kaya raya saja, tapi karena ia sangat dermawan, sangat peduli pada sesama, dan memiliki jiwa yang begitu mulia. Banyak orang besar yang datang berkunjung, ingin bertemu, ingin bersalaman, dan ingin belajar dari Rina. Bagi mereka, Rina adalah bukti nyata bahwa nasib buruk bisa diubah, dan penderitaan bukanlah vonis mati.
Namun bagi Rina sendiri, semua pujian, kekaguman, dan kemewahan yang kini ada di genggamannya itu tak membuatnya menjadi sombong atau merasa dirinya sudah selesai. Ia sadar betul, perjuangannya belum usai, buku kehidupannya belum ditutup halaman akhirnya. Rina menyadari satu kebenaran besar: dirinya sudah selamat, keluarganya sudah bahagia, tapi di luar sana, masih sangat banyak sekali orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya dulu, bahkan ada yang jauh lebih menyedihkan lagi. Di pelosok-pelosok desa yang terpencil, di gubuk-gubuk reot yang tersembunyi di balik bukit dan lebatnya hutan, masih banyak anak-anak kecil yang harus memikul beban berat yang sama persis seperti yang dulu pernah ia pikul. Masih banyak anak yang pundaknya merah dan membiru karena memikul air, kayu, atau hasil bumi demi sesuap nasi. Masih banyak orang tua yang terbaring sakit, lemah, dan tak berdaya sama persis seperti Ayah dan Ibunya dulu, namun tak ada yang merawat dan tak ada biaya untuk berobat. Masih banyak keluarga yang hidup dalam kesusahan, tertekan oleh keadaan, dan hati mereka dipenuhi rasa putus asa, merasa tak ada harapan lagi bagi masa depan mereka.
Melihat kenyataan yang begitu memilukan itu, hati Rina tersentuh sangat dalam. Ia tidak bisa hanya duduk diam menikmati kekayaannya sementara di sana-sini masih ada air mata yang mengalir. Ia ingin sekali pesan indah yang dulu ia temukan dan ia yakini seumur hidupnya itu: "Beban berat itu bukan penghalang, itu kekuatan, dan di balik setiap beban berat itu tersimpan senyum kebahagiaan yang paling indah", bisa didengar, dimengerti, dan dirasakan oleh hati setiap orang di seluruh penjuru negeri ini. Ia ingin tidak ada lagi anak yang membenci nasibnya, tidak ada lagi orang yang menangis meratapi kesedihannya, dan tidak ada lagi manusia yang merasa kalah sebelum bertanding.
Maka dengan segala ilmu pengetahuan yang telah ia pelajari di bangku universitas, dengan pengalaman hidup yang telah menempa jiwanya menjadi sekuat baja, dengan harta kekayaan yang telah ia kumpulkan hasil kerja kerasnya, serta dengan kepercayaan dan dukungan dari banyak orang yang kagum padanya, Rina mendirikan sebuah lembaga sosial besar yang bernama "Yayasan Senyum Beban". Nama itu diambil dari prinsip hidup yang menjadi pedoman hidupnya selama ini. Yayasan ini didirikan dengan tujuan yang sangat mulia dan jelas: membantu anak-anak serta keluarga miskin yang sedang berjuang berat menghadapi kerasnya kehidupan. Bentuk bantuannya pun lengkap dan menyentuh segala aspek kehidupan. Yayasan ini membiayai sekolah dan pendidikan bagi anak-anak yang pintar namun tak mampu bayar, membiayai pengobatan dan perawatan bagi orang tua yang sakit dan lemah, memberikan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang cukup bagi mereka yang menganggur atau bekerja dengan upah yang tak manusiawi, dan yang paling utama dari semuanya... yayasan ini bertugas menyalurkan semangat, harapan, dan keyakinan yang membara ke dalam hati setiap orang yang dibantunya. Rina ingin setiap orang paham dan percaya sepenuhnya bahwa kesusahan itu hanya sementara, rasa sakit itu hanya sebentar, namun kemenangan dan kebahagiaan besar itu pasti ada di depan mata bagi siapa saja yang bertahan.
Tak puas hanya duduk di kantor yang nyaman memimpin yayasannya, Rina memilih untuk turun tangan sendiri. Ia sering melakukan perjalanan jauh berkeliling ke desa-desa yang sangat terpencil, masuk ke pelosok-pelosok yang jarang dijamah orang, mendatangi rumah-rumah yang kumuh, sempit, dan reot. Ia tidak hanya mengirimkan bantuan berupa uang atau barang lewat orang lain, tapi ia berbicara langsung, bertatap muka, dan menatap mata orang-orang yang sedang menderita itu satu per satu. Dalam setiap perjalanannya, Rina tidak pernah memakai pakaian yang mewah, berlebihan, atau yang membuatnya terlihat berbeda jauh dari warga setempat. Ia tetap berpakaian sederhana, sopan, apa adanya, tetap ramah menebar senyum, dan tetap rendah hati persis seperti saat ia masih menjadi gadis kecil yang memikul beban berat dulu. Bagi Rina, kesederhanaan adalah kunci untuk bisa masuk ke hati orang lain.
Suatu hari yang cerah, Rina datang mengunjungi sebuah desa yang terletak sangat jauh di dalam pegunungan. Kondisi desa itu sangat sulit, jalannya berbatu dan terjal, tanahnya tandus, dan kehidupan warganya sangat tertinggal serta serba kekurangan. Di tengah perjalanan menelusuri jalan setapak yang berdebu itu, mata Rina menangkap sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa teriris sakit namun juga penuh haru. Di sana, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, tubuhnya kurus kering sekali hingga tulang-tulangnya terlihat jelas, pakaiannya hanya sisa kain yang dijahit asal jadi. Anak kecil itu sedang memikul dua buah ember air yang ukurannya sangat besar, hampir sama beratnya dengan berat tubuh kecilnya sendiri. Jalannya tertatih-tatih, kakinya gemetar menahan beban yang terlalu besar itu, keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya, dan wajah mungilnya tampak begitu sedih, murung, dan penuh beban berat seolah ia sedang memikul dunia di atas pundaknya. Banyak orang yang melihat anak kecil itu hanya menggelengkan kepala sambil berkata kasihan, ada yang bilang nasibnya s**l, ada yang bilang menyedihkan, tapi tak ada satu pun yang berhenti atau berbuat sesuatu untuk membantunya, apalagi mengubah cara pandang anak itu.
Melihat pemandangan itu, hati Rina langsung tergerak kuat sekali. Ia seakan melihat bayangan dirinya sendiri bertahun-tahun yang lalu. Rina pun segera mempercepat langkahnya menghampiri anak kecil itu dengan lembut agar tidak mengejutkannya. Ia menahan langkah anak itu perlahan, lalu dengan sigap dan hati-hati ia membantu menurunkan galah bambu serta ember berat itu hingga tersandar aman di tanah, memberi kesempatan bagi pundak kecil anak itu untuk beristirahat sejenak. Rina lalu berlutut hingga posisinya sejajar dengan tinggi badan anak kecil itu, menatap matanya yang tampak sedih dan lelah itu dengan tatapan yang sangat dalam, penuh perhatian, dan kasih sayang yang tulus. Di wajah Rina, tersungging senyum yang paling cerah, paling hangat, dan paling menular yang pernah dilihat oleh anak itu seumur hidupnya.
"Adikku sayang... nama kamu siapa ya? Berat sekali ya bawa air begini? Sakit nggak pundak kamu rasanya? Capek sekali kan pasti?" tanya Rina dengan suara yang sangat lembut, rendah, dan menenangkan, seolah suara angin yang berhembus sepoi-sepoi.
Anak laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, memandang ujung kakinya yang kotor dan berdebu. Matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hampir saja meledak keluar. Suaranya terdengar lirih dan penuh kepahitan.
"Nama saya Dika... berat banget Kak, beratnya bukan main. Pundak saya rasanya sakit sekali, rasanya mau patah remuk, dan badan saya capek sekali rasanya. Jujur saja Kak... saya benci banget harus begini terus setiap hari. Saya benci harus bawa air berat begini, saya benci hidup saya yang susah begini. Kapan sih hidup saya bisa gampang Kak? Kapan sih saya nggak perlu memikul beban berat begini terus-terusan sampai kapan-kapan?" tanya Dika dengan nada putus asa.
Rina tersenyum makin lembut, tangannya yang halus terulur mengelus kepala dan rambut Dika yang acak-acakan itu dengan penuh kasih sayang. Lalu ia memegang kedua bahu kecil Dika itu dengan kedua tangannya yang kokoh dan hangat, memegangnya erat seolah sedang menyalurkan kekuatan ke dalam tubuh anak itu.
"Dika dengerin penjelasan Kakak baik-baik ya Nak," kata Rina tegas namun tetap lembut. "Dulu waktu Kakak masih seumuran kamu, bahkan mungkin lebih kecil lagi, Kakak juga persis banget kayak kamu lho. Tiap pagi buta Kakak harus jalan jauh memikul air, memikul kayu bakar yang beratnya luar biasa sampai pundak Kakak jadi merah, membiru, sakit sekali, dan lama-kelamaan jadi keras dan kapalan. Dulu Kakak juga sering merasa benci sama nasib, sering mengeluh dalam hati, sering ingin menangis seharian karena capek dan sedih. Tapi lama-kelamaan, setelah Kakak jalani dan rasakan semuanya, Kakak sadar satu hal yang paling penting dan paling benar di dunia ini: Semakin berat beban yang kamu pikul hari ini, semakin besar kekuatan yang sedang kamu simpan dan kamu tabung untuk masa depan kamu nanti. Dulu Kakak pikul beban yang berat-berat terus, sekarang lihatlah Kakak... jadi orang yang kuat banget, jadi bisa membahagiakan Ayah dan Ibu Kakak, jadi bisa menolong orang banyak, dan jadi orang yang disayang semua orang. Dika tau nggak Nak? Rasa sakit dan rasa berat yang kamu rasakan sekarang itu cuma sebentar saja, cuma hari ini dan besok saja. Tapi kekuatan, kehebatan, dan kebahagiaan besar yang bakal kamu dapat nanti... itu bakal abadi selamanya, tak akan hilang dan tak akan rusak oleh siapa pun. Percayalah Dika, beban yang sedang kamu pikul ini sama sekali bukan hukuman atau siksaan buat kamu... ini adalah hadiah yang paling mahal harganya. Hadiah berupa kekuatan istimewa yang disiapkan Tuhan buat kamu supaya kamu jadi orang hebat nanti. Di balik beban berat yang ada di pundakmu ini... tersimpan senyum kebahagiaan yang paling indah dan paling manis yang sedang menunggu kamu untuk mengambilnya. Percaya deh sama Kakak ya!"
Perlahan namun pasti, Dika mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk itu. Ia menatap wajah Rina yang penuh senyum tulus dan matanya yang penuh keyakinan yang tak bisa digoyahkan itu. Perlahan, mendadak saja, rasa berat di hatinya seakan hilang tersapu pergi oleh kata-kata indah itu. Bibir kecil Dika yang tadi cemberut dan sedih itu pun mulai melengkung membentuk sebuah senyum kecil, lalu makin lebar dan makin cerah. Mata yang tadinya redup dan penuh air mata itu kini mulai bersinar terang memancarkan harapan baru yang membara.
"Benar ya Kak? Apa yang Kakak bilang ini benar-benar nyata? Kalau saya kuat dan sabar memikul berat ini... nanti saya bakal jadi orang hebat dan bahagia kayak Kakak?" tanya Dika dengan nada yang penuh semangat dan antusiasme yang tinggi.
"Pasti! Bahkan kamu bakal jadi jauh lebih hebat, jauh lebih sukses, dan jauh lebih bahagia lagi daripada Kakak! Ingat pesan Kakak ini baik-baik ya... jangan pernah benci bebanmu, tapi sayangilah bebanmu, karena di situlah kekuatanmu yang sesungguhnya sedang tumbuh dan berkembang. Nanti pas kamu sudah sukses dan berhasil mencapai cita-cita kamu... kamu bakal bersyukur banget pernah punya beban berat begini di masa kecilmu," jawab Rina dengan tegas, yakin, dan penuh semangat.
Seketika itu juga hati dan pandangan hidup Dika berubah total. Ia kembali memikul galah bambu dan ember beratnya itu, tapi kali ini bukan dengan wajah sedih dan langkah yang berat tertatih-tatih... melainkan dengan senyum lebar yang menghiasi wajah mungilnya dan langkah kaki yang makin tegap, cepat, dan ringan seakan beban berat itu hilang lenyap tak bersisa. Ia berjalan menyusuri jalan berbatu itu sambil bersenandung kecil dengan riang gembira, seolah sedang membawa harta karun yang paling berharga.
Momen indah dan ajaib seperti itu terus berulang di mana saja kaki Rina melangkah pergi. Di setiap desa, di setiap rumah, dan di setiap hati yang ia sentuh, Rina berhasil mengubah ribuan tetesan air mata kesedihan menjadi senyum kebahagiaan, mengubah ribuan kata keluhan menjadi semangat juang yang tinggi, serta mengubah ribuan rasa putus asa menjadi harapan yang kokoh. Nama Rina kini menjadi penawar hati dan harapan baru bagi ribuan keluarga miskin yang tinggal di pelosok-pelosok desa di seluruh penjuru negeri.
Bertahun-tahun pun berlalu dengan begitu cepat, Yayasan Senyum Beban yang didirikan Rina kini makin besar, makin kokoh, dan makin luas jangkauannya. Cabang-cabangnya tersebar di berbagai kota dan kabupaten, menjangkau daerah-daerah yang sulit terjangkau sekalipun. Ribuan anak-anak yang dulu putus sekolah kini bisa kembali duduk dengan rapi di bangku kelas, ribuan orang yang dulu sakit terbaring kini sudah sembuh dan sehat kembali, serta ribuan kepala keluarga yang dulu bingung mencari makan kini memiliki pekerjaan yang layak dan bergaji cukup. Banyak dari anak-anak yang dulu dibantu, disemangati, dan dididik oleh Rina kini sudah tumbuh dewasa menjadi orang-orang sukses, menjadi pemimpin, menjadi dokter, guru, pengusaha, dan orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Mereka semua memiliki satu kesamaan yang sangat kuat: mereka tak pernah melupakan rasa beratnya beban yang dulu pernah ada di pundak mereka, dan mereka tak pernah melupakan pesan sakti dari Rina: Beban berat adalah kekuatan, dan senyum indah selalu tersimpan di baliknya.
Sementara itu, Pak Harun dan Bu Siti kini sudah memasuki usia tua renta, rambut mereka memutih semua, kulit mereka penuh kerutan halus, dan tulang mereka makin rapuh. Namun, di masa tua mereka ini, mereka hidup sebagai orang tua yang paling bahagia, paling sejahtera, paling terhormat, dan paling dicintai di seluruh daerah itu. Mereka tinggal di rumah besar yang indah, megah, dan penuh dengan kehangatan kasih sayang. Setiap hari mereka dikelilingi oleh anak cucu yang berbakti serta orang-orang yang datang berkunjung untuk sekadar memberi hormat dan berterima kasih atas kebaikan anak mereka. Sering kali di sore hari yang indah, mereka duduk berdua di atas kursi empuk di beranda rumah yang luas itu, melihat puluhan anak-anak dan remaja yang datang bermain atau belajar