Waktu terus berjalan bergulir sangat cepat bagaikan air sungai yang mengalir tak pernah berhenti, membawa setiap peristiwa, kenangan, dan cerita masa lalu menjauh, dan menggantikannya dengan hari-hari baru yang penuh warna dan makna. Sepuluh tahun lamanya sudah berlalu sejak hari kemenangan besar itu, hari di mana kebenaran akhirnya bersinar mengalahkan segala kebohongan dan fitnah jahat yang pernah menghampiri hidup mereka. Sepuluh tahun yang panjang itu dijalani oleh Sari dengan semangat yang tak pernah padam, di mana ia tak pernah sekalipun berhenti berjuang, tak pernah merasa lelah untuk belajar, dan tak pernah sedetik pun melupakan janji suci yang pernah ia ucapkan di depan ayah dan ibunya sepuluh tahun yang lalu.
Berkat beasiswa besar dan bergengsi yang ia peroleh dengan kerja keras, kecerdasan, dan kejujurannya itu, Sari akhirnya bisa melanjutkan pendidikan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi yang sangat ternama dan dihormati di kota besar yang jauh dari desa kelahirannya. Di sana, Sari memilih dan mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Pilihan itu sama sekali bukan kebetulan, bukan karena ikut-ikutan teman, melainkan karena sebuah tekad yang sudah tertanam kuat di dalam hatinya sejak ia masih kecil, sejak ia melihat ibunya terbaring lemah tak berdaya karena sakit yang tak kunjung sembuh. Ia berjanji dalam hati, kalau kelak ia sukses dan berhasil meraih cita-citanya, ia ingin sekali menjadi orang yang bisa merawat ibunya sendiri dengan ilmu yang dimilikinya, dan juga ingin membantu banyak orang lain yang sedang sakit, menderita, dan susah nasibnya, sama seperti dirinya dan keluarganya dulu.
Selama bertahun-tahun ia hidup merantau jauh di kota besar yang ramai dan bising itu, Sari menjalani kehidupannya dengan sangat sederhana, sangat hemat, dan sangat disiplin. Ia tidak mau menghamburkan uang sedikit pun untuk hal-hal yang tidak penting, yang hanya memuaskan kesenangan sesaat saja. Di sela-sela waktu kuliahnya yang padat dan melelahkan, Sari tidak pernah diam saja atau hanya sekadar belajar di kamar. Ia rajin mencari pekerjaan paruh waktu apa saja yang halal, yang bisa dikerjakan oleh tangannya yang terampil dan tekun. Ia pernah menjadi tukang cuci pakaian tetangga, menjahitkan pakaian orang yang rusak atau ingin dibuatkan yang baru, menjadi guru les privat bagi anak-anak sekolah yang butuh bimbingan, hingga berjualan makanan ringan dan kebutuhan kecil-kecilan. Apa pun dikerjakannya asal halal dan berkah, tanpa rasa malu atau gengsi sedikit pun.
Setiap rupiah uang yang ia dapatkan dari keringatnya sendiri itu, selalu ia sisihkan sebagian besar, ia simpan, dan ia tabung dengan sangat rapat, rajin, dan tertib di dalam buku tabungannya. Uang itu tidak dipakai untuk membeli barang-barang mewah, tidak dipakai untuk liburan yang menyenangkan, tidak dipakai untuk membeli pakaian mahal yang berkilauan, dan tidak dipakai untuk hiburan-hiburan yang berlebihan. Bagi Sari, setiap tetes keringat yang jatuh membasahi tanah saat ia bekerja, setiap lelah yang ia rasakan di tubuhnya, adalah bagian yang sangat penting dan berharga dari bahan bangunan untuk rumah impiannya. Setiap uang yang terkumpul adalah batu bata, adalah semen, adalah kayu, dan adalah atap yang sedang ia susun perlahan demi perlahan untuk membangun istana kecil yang indah bagi dua orang yang paling ia cintai seumur hidupnya.
Tidak sia-sia perjuangan berat yang dilakukan oleh Sari sendirian di sana. Kabar tentang keberhasilan, ketekunan, dan kebaikan hati Sari perlahan menyebar luas hingga ke mana-mana. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang paling tinggi, paling cemerlang, dan menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Tak lama setelah wisuda, ia langsung diterima bekerja dengan mudah di sebuah instansi kesehatan milik pemerintah yang besar dan terpercaya, dengan kedudukan yang baik dan penghasilan yang layak. Perlahan namun pasti, nama Sari mulai dikenal dan dihormati oleh banyak orang sebagai seorang wanita muda yang cerdas luar biasa, sangat jujur dan memegang teguh kebenaran, rendah hati kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan, dan yang paling terkenal serta dipuji orang adalah ia sangat luar biasa berbakti, menyayangi, dan menghormati kedua orang tuanya di kampung halaman.
Sementara itu, di sisi lain, nasib dan kehidupan Pak Made serta anak gadisnya, Eka, berjalan sangat jauh berbeda dan berbanding terbalik dengan nasib Sari. Kekayaan yang melimpah ruah yang selama ini mereka banggakan dan andalkan itu, lama-kelamaan makin lama makin menipis, bocor di sana-sini, dan akhirnya habis tak bersisa. Harta itu habis karena diurus dengan cara yang boros, dipakai untuk kesenangan saja, dijalankan dengan sikap yang manja, malas bekerja, dan tidak bertanggung jawab. Eka yang dari kecil sudah terbiasa hidup enak, semua keinginannya dituruti, tidak pernah merasakan susah, dan tidak pernah diajarkan cara bekerja keras, akhirnya sama sekali tidak mampu mempertahankan apa yang dimiliki oleh ayahnya, apalagi untuk menambah kekayaan itu. Ia hanya pandai menghabiskan dan membuang uang saja.
Kini, rumah besar dan megah milik mereka yang dulu selalu menjadi kebanggaan desa, yang tampak berkilauan, bersih, dan indah dipandang mata, kini berubah tampak kusam dan suram. Cat dindingnya banyak yang terkelupas, halamannya penuh dengan rumput liar yang tinggi karena tidak ada yang merawat, kaca jendelanya ada yang pecah, dan terlihat berdebu tebal di mana-mana. Rumah itu tampak terabaikan, sepi, dan jauh sekali berbeda dengan kemegahan di masa lalu yang dulu selalu dipamerkan. Dari peristiwa pahit itu, akhirnya mereka sadar betul dan terlambat menyadari satu hal yang paling penting: Kekayaan yang didapatkan tanpa usaha, tanpa keringat, tanpa kejujuran, dan tanpa rasa syukur, takkan pernah mampu bertahan lama di dunia ini. Ia akan lenyap hilang begitu saja seperti kabus yang tertiup angin.
Pagi yang indah pun tiba, matahari bersinar sangat terang sekali, hangatnya menyentuh kulit dan menyejukkan hati, persis sama seperti pagi sepuluh tahun yang lalu saat kebenaran akhirnya menang. Di sebidang tanah warisan keluarga mereka yang dulu terkenal sebagai tanah yang keras, berbatu tajam, kering kerontang, dan tidak ada gunanya itu, kini telah berdiri kokoh sebuah bangunan rumah yang sangat indah, bersih, rapi, dan sangat megah di mata keluarga itu. Rumah itu dikelilingi oleh halaman yang luas, tanahnya kini sudah berubah menjadi hijau rimbun penuh tanaman, dipenuhi oleh bunga-bunga yang berwarna-warni indah dan harum semerbak, serta ditanami banyak pohon buah-buahan yang sudah mulai berbuah lebat. Di sisi halaman yang lain, ada sebuah sumur besar yang airnya sangat jernih, dingin, dan mengalir deras sepanjang masa, memenuhi kebutuhan air mereka tanpa perlu susah payah lagi. Ada teras rumah yang luas dan teduh, ada kamar-kamar yang bersih, luas, dan nyaman untuk beristirahat, serta dapur yang lengkap peralatannya.
Inilah rumah yang dibangun sendiri oleh Sari dengan keringat, air mata, kasih sayang, dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ia sendiri yang mengawasi setiap susunan batu bata yang dipasang, setiap tiang yang ditegakkan, setiap butir semen yang diaduk, dan setiap sudut ruangan yang dirancang, persis seperti cara ayahnya dulu mengajarkan ia tentang ketelitian yang tinggi dan kesabaran yang panjang saat mengolah tanah yang keras dan berbatu menjadi ladang yang subur dan menghasilkan.
Pintu rumah yang besar dan indah itu perlahan terbuka lebar. Keluarlah Sari yang kini tampak jauh lebih dewasa, cantik mempesona, dan memancarkan wibawa yang lembut. Wajahnya bersih dan cerah, memancarkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang tulus yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ia melangkah keluar, lalu segera berbalik badan menghadap ke arah dalam rumah, menatap dua orang tua yang berjalan pelan di belakangnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh harapan dan cinta yang meluap-luap.
"Ayah... Ibu... silakan masuk... silakan lihat semuanya..." ucap Sari dengan suara yang bergetar hebat karena bercampur bahagia, bangga, dan haru yang mendalam. "Inilah rumah kita yang sesungguhnya... inilah istana kecil yang indah yang Sari janjikan dan impikan sepuluh tahun yang lalu saat kita masih tinggal di gubuk tua itu. Sekarang rumah itu nyata sudah, sudah ada di depan mata kita."
Di belakangnya, berjalan perlahan dengan penuh kehati-hatian dan rasa takjub, Pak Joko dan Bu Ratna melangkah masuk melewati pintu itu. Ayahnya kini sudah tampak jauh berbeda, wajahnya masih sederhana dan apa adanya seperti dulu, tapi tubuhnya kini jauh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih berisi, tidak lagi kurus kering, keriput, dan tampak lelah luar biasa seperti saat ia bekerja banting tulang dulu. Dan ibunya? Bu Ratna yang dulu tampak sangat pucat, kurus, lemah, dan nyawanya seakan melayang di ujung tanduk karena sakit paru-paru yang parah itu, kini wajahnya tampak jauh lebih cerah, segar, merona, dan terlihat sangat sehat dan bugar. Penyakit yang dideritanya bertahun-tahun itu sudah lama sembuh total, hilang lenyap berkat pengobatan yang teratur, perawatan yang sangat teliti, dan kasih sayang yang luar biasa besar yang diberikan oleh Sari kepada ibunya setiap hari tanpa kenal lelah. Wajah mereka berdua memang sudah bertambah tua, nampak banyak kerutan di sana sini sebagai tanda perjalanan panjang kehidupan, namun mata mereka bersinar sangat terang, indah, dan penuh kebahagiaan serta rasa syukur yang tak terkira besarnya. Langkah mereka pelan namun mantap dan tegas, memasuki rumah indah itu dengan air mata bahagia yang terus menetes tak henti dari sudut mata mereka.
Mereka pun berkeliling melihat setiap sudut ruangan rumah itu satu per satu dengan rasa takjub yang luar biasa. Mereka melihat ruang tamu yang luas, dingin, dan sejuk yang membuat hati tenang hanya dengan duduk di sana. Mereka melihat kamar tidur yang kasurnya empuk dan bersih, jauh berbeda dengan kasur tipis anyaman pandan dulu. Mereka melihat dapur yang lengkap peralatannya, rapi, dan bersih, tempat di mana mereka bisa memasak dengan nyaman dan gembira. Mereka melihat beranda yang luas yang menghadap langsung ke kebun yang asri dan hijau, tempat yang paling pas untuk bersantai di sore hari sambil menghirup udara segar. Udara di dalam rumah itu terasa sangat segar, dingin, bersih, dan damai menyejukkan seluruh tubuh dan jiwa. Semuanya tampak indah, semuanya lengkap tersedia, semuanya persis seperti impian mereka bahkan jauh lebih indah, lebih bagus, dan lebih melebihi apa yang pernah mereka bayangkan selama ini.
Pak Joko mengusap permukaan dinding yang halus, licin, dan kokoh itu dengan tangannya yang dulu kasar penuh kapalan bekas bekerja di ladang. Ia memeganginya lama sekali, seolah tidak percaya bahwa ini nyata dan bukan mimpi belaka. Lalu ia berbalik badan, menatap wajah anak tunggalnya itu dengan pandangan bangga yang meluap-luap hingga membuat dadanya terasa penuh sesak. Matanya berkaca-kaca berair, tak mampu lagi menahan rasa haru yang luar biasa itu.
"Nak... Sari sayangku..." suaranya parau dan gemetar. "Ini... ini jauh lebih indah, jauh lebih bagus, jauh lebih luas, dan jauh lebih nyaman daripada apa yang pernah Ayah impikan atau bayangkan seumur hidup Ayah. Tanah berbatu yang dulu kita sangka tidak ada gunanya, tanah yang dulu membuat kita kesusahan dan kepayahan itu... sekarang berubah menjadi tempat yang paling indah, paling berharga, dan paling membahagiakan di seluruh dunia ini. Terima kasih, Nak... terima kasih sudah berjuang sekeras tenaga, sekuat raga, dan sepenuh hati ini demi kami berdua. Ayah bangga sekali padamu... Ayah bangga luar biasa punya anak sepertimu, anak yang setia, anak yang berbakti, dan anak yang luar biasa mulia hatinya."
Tidak bisa berkata-kata lagi, Bu Ratna langsung berjalan mendekat lalu memeluk tubuh putrinya itu dengan sangat erat sekali, seakan tak mau melepaskannya selamanya. Ia menangis bahagia di d**a anaknya, membelai wajah cantik anaknya dengan tangan yang gemetar karena kasih sayang yang tak terhingga besarnya.
"Ibu sayang sekali padamu, Nak..." isak Bu Ratna lembut. "Ibu bersyukur sekali pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat penolong seperti kamu ke dalam hidup kami. Dulu Ibu sudah sering bilang kan, kalau Ibu gak pernah minta harta yang banyak, Nak. Ibu gak pernah minta rumah yang mewah atau makanan yang enak-enak saja. Ibu cuma minta satu hal saja dari kamu: jadilah anak yang baik hati, jujur, dan bahagia. Dan lihatlah, Nak... kamu sudah memberikan semuanya itu kepada Ibu, bahkan jauh lebih dari apa yang pernah Ibu minta atau harapkan. Rumah ini memang indah sekali, megah, dan nyaman. Tapi jauh lebih indah, jauh lebih berkilau, dan jauh lebih mahal harganya lagi adalah hatimu yang tulus dan mulia ini, Nak. Inilah harta yang paling berharga kami selamanya, takkan ada yang bisa menandinginya."
Berita tentang peresmian rumah baru milik keluarga Pak Joko itu menyebar ke seluruh penjuru desa. Di halaman rumah yang luas itu, banyak warga desa yang datang berkumpul, membawa ucapan selamat, wajah mereka tampak gembira dan ikut bahagia melihat kesuksesan keluarga yang sangat mereka hormati itu. Di antara kerumunan warga yang ramah itu, ada dua orang yang berdiri agak menjauh di pinggir halaman, mereka berdiri diam dan menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka adalah Pak Made dan anaknya, Eka. Mereka datang ke sana dengan niat yang sudah bersih, tulus, dan penuh penyesalan yang mendalam. Mereka datang bukan untuk menghina, bukan untuk iri hati, melainkan datang untuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas semua kejahatan, ejekan, penghinaan, dan fitnah jahat yang pernah mereka lakukan dulu bertahun-tahun yang lalu.
Pak Made pun maju perlahan dengan langkah yang ragu namun mantap karena keinginan bertobatnya. Ia mendekat ke arah Sari, Pak Joko, dan Bu Ratna, lalu menundukkan kepalanya sangat dalam sekali penuh rasa malu dan hormat.
"Sari... Bapak Joko... Ibu Ratna..." ucap Pak Made dengan suara yang lemah dan penuh penyesalan. "Mohon maafkan kami yang sudah datang kemari. Kami datang bukan untuk mengganggu kebahagiaan kalian, melainkan untuk memohon maaf yang sedalam-dalamnya. Dulu hati kami ini gelap, kami penuh rasa iri, kami penuh dengki, kami sangat sombong dan angkuh. Kami berbuat jahat sekejam itu kepada kalian hanya karena kami tidak terima melihat kebaikan, kejujuran, dan kehebatan yang ada pada diri kalian, terutama pada diri Sari. Kami pikir dengan harta dan kekuasaan, kami bisa melakukan apa saja semena-mena. Tapi hari ini, dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat bukti nyata yang paling hebat: Bukan harta yang membawa kebahagiaan sejati, melainkan kerja keras, kejujuran, dan kasih sayanglah yang mampu membawa kebahagiaan sejati dan kemuliaan yang abadi. Kami malu sekali, kami sangat menyesal, dan kami belajar banyak sekali pelajaran berharga dari kehidupan kalian yang luar biasa ini."
Sari tersenyum lembut, senyum yang sangat tulus, ikhlas, dan penuh kemaafan yang luas. Ia sama sekali tidak menyimpan dendam atau rasa benci sedikit pun di dalam hatinya. Ia lalu mengulurkan tangannya dengan hangat, menjabat tangan Pak Made dan tangan Eka dengan sopan dan ramah.
"Sudah berlalu semuanya, Pak, Eka..." ucap Sari lembut dan menyejukkan hati. "Semua kejadian yang pahit itu sudah jadi masa lalu dan tertutup sudah oleh kebahagiaan hari ini