Tari pamit pada hari Jumat, di pantry, dengan cara yang sudah dipersiapkannya berminggu-minggu—dan tetap saja berantakan di tengah, karena air matanya tidak membaca rencana.
Ia tidak pergi karena gagal. Ia pergi karena selesai: seri dokumenternya dilirik sebuah rumah produksi—tawaran yang benar, untuk menceritakan pekerja-pekerja yang tidak terlihat, dengan izin, dengan konstitusi yang ia tulis sendiri. Keputusan yang ia ambil dengan dua tahun bekal: ia membaca tawaran itu dengan daftar syarat, dengan pensil, dengan Wulan di sebelahnya—dan baru menandatanganinya ketika kertasnya benar.
Persiapan perpisahannya berjalan diam-diam, sebagaimana lantai itu mempersiapkan segala hal penting: tanpa poster, tanpa pengumuman. Tapi ada hadiah-hadiah kecil yang dikumpulkan dari semua orang—bukan barang, melainkan halaman-halaman: satu bundel tipis berisi catatan dari setiap agen, satu halaman per orang, hal-hal yang tidak akan mereka ucapkan keras-keras. Pram menulis satu kalimat saja, dengan tulisannya yang jelek: 'kamu satu-satunya orang yang membuatku tertawa pada tahun-tahun ketika aku lupa caranya.' Joko menggambar—bukan menulis—sebuah botol air dengan tanda matahari kecil. Dan Fahmi menulis halaman terakhirnya dengan tangan yang harus berhenti dua kali: tentang video pertama yang salah arah, dan bagaimana orang yang salah arah itu berubah menjadi orang yang paling hati-hati di antara mereka—'dan itu bukti bahwa tidak ada kesalahan yang final, selama ada orang yang mau belajar arah.'
Malam terakhirnya bukan malam pesta. Tari memintanya sendiri: satu shift terakhir, biasa, seperti malam-malam lain—karena ia ingin mengingat lantai itu sebagaimana lantai itu setiap hari, bukan sebagaimana lantai itu berpesta. Dan ia menjalani panggilan-panggilan terakhirnya dengan cara yang membuat Fahmi tersenyum dari seberang: sabar, bercanda, dengan jeda yang benar—sampai panggilan terakhirnya, tepat sebelum shift berakhir, ketika seorang pelanggan menutup dengan 'terima kasih ya, Mbak, sabar banget,' dan Tari menjawab dengan kalimat penutup yang ia pilih sendiri untuk malam itu: 'Sama-sama, Bu. Terima kasih sudah menunggu dengan baik.' Lalu ia melepas headsetnya, pelan, seperti orang menaruh sesuatu yang berharga—dan pantry malam itu ramai dengan orang-orang yang tidak mau pulang.
'Kalian tidak kehilangan aku,' katanya, di pantry yang penuh, dengan suara yang pecah di tiga tempat. 'Kalian cuma kehilangan suara gaduhku tiap pagi. Aku akan terus menceritakan orang-orang seperti kalian—karena kalian yang mengajariku bahwa cerita itu bukan milik penceritanya. Cerita itu milik orang yang diceritakan.'
Fahmi berdiri di barisan belakang, tidak bisa bicara—karena ada kehilangan yang baik, dan ini salah satunya, dan kehilangan yang baik tetap kehilangan. Tari yang menemuinya di lorong, setelahnya, dan mereka berdiri berdua di lorong itu sebagaimana dua orang yang sudah melewati terlalu banyak untuk canggung.
'Kamu tahu kamu yang paling pertama percaya aku bisa jadi orang benar?' kata Tari. 'Waktu semua orang lihat aku cuma konten dan poni. Kamu yang pertama bilang kebaikanku cuma salah arah. Kamu yang kasih aku arah.'
'Kamu yang kasih aku sesuatu yang lebih besar,' kata Fahmi. 'Kamu mengajariku bahwa orang yang salah langkah bisa kembali lebih kuat. Aku pakai itu tiap kali aku salah. Tiap kali.'
Mereka tidak berpelukan lama—satu pelukan cepat, kaku, seperti hari-hari dulu—dan Tari pergi dengan kotak kecil dari pantry dan satu janji yang ia ucapkan di pintu: 'Aku akan balik. Bukan sebagai pegawai. Sebagai orang yang menceritakan. Lantai ini punya cerita yang belum selesai.'
Di lift, ia berbalik sekali—dan berkata hal terakhir, yang tidak direncanakan, yang keluar begitu saja: 'Mi. Kalau suatu hari kamu pergi dari sini—dan kamu akan pergi, aku tahu—jangan diam-diam. Janji. Orang-orang seperti kamu tidak boleh pergi diam-diam, karena ada terlalu banyak yang berdiri di atas bahumu.' Dan lift menutup, dan Fahmi berdiri di depannya lebih lama dari yang masuk akal, karena Tari—yang paling tahu cara membaca orang dari gerak-gerik—baru saja membaca sesuatu pada dirinya yang belum ia umumkan pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri. Dan lift itu turun, dan lantai tujuh melanjutkan dengungnya, sebagaimana lantai itu selalu melanjutkan dengungnya: karena di sinilah orang-orang datang dan pergi, dan pekerjaan menjawab tidak pernah berhenti untuk siapa pun.
Dan malam itu Fahmi menulis: Tari pergi dengan cara yang benar—dengan izin, dengan syarat, dengan air mata yang tidak disembunyikan. Aku tidak sedih. Aku penuh. Karena aku menonton seseorang tumbuh dari orang yang merekam demi viral menjadi orang yang menceritakan demi dimengerti—dan aku ada di sana untuk kedua bentuknya, dan aku tahu betapa jauh jaraknya, dan betapa sedikit orang yang pernah menempuhnya. Pintu tidak tertutup, Tar. Tidak pernah. Lantai ini tidak pernah menutup pintu untuk orang yang keluar dengan benar—karena orang yang keluar dengan benar selalu kembali membawa sesuatu.
Dan satu baris lagi, lebih kecil, yang ia tulis dengan pensil: Aku iri sedikit. Itu jujur, dan jujur harus ditulis. Iri karena ia pergi ke mimpi yang jelas sementara mimpiku masih setengah jalan. Tapi iri yang diawasi adalah kompas: ia menunjukkan apa yang kauinginkan. Dan aku tahu apa yang kuinginkan—dan ia sedang dibangun, tiang demi tiang, di kampung yang sudah menunggu terlalu lama. Sabar, Mi. Semua punya musimnya. Musim Tari baru saja mulai. Musimku sedang tumbuh—dan tumbuh itu tidak bisa dipercepat, hanya bisa dirawat, hari demi hari, dengan sabar yang sudah kupelajari dari semua orang yang kucintai.