Dimas datang ke Jakarta dengan ijazah di tas dan canggung di wajahnya—lulus, akhirnya, setelah bertahun-tahun kuliah sambil antar galon—dan ia datang bukan untuk dirayakan, melainkan untuk melihat.
'Kang, aku mau lihat tempatmu kerja. Yang beneran. Bukan foto.'
Fahmi membawanya pada hari yang tepat: bukan hari kunjungan resmi, melainkan hari kerja biasa, dengan antrean yang biasa dan dasbor yang biasa merah. Dimas berdiri di balik kaca ruang pantau dan menonton kakaknya bekerja—menonton dengan cara orang menonton pertunjukan yang tidak ia mengerti tapi ia kagumi—dan Fahmi bisa melihatnya dari sudut mata: adik kecilnya, yang dulu ia antar ke sekolah, berdiri di sana dengan jaket kebesaran dan mata yang besar.
Istirahat siang, di pantry, Dimas bertemu mereka semua—dan lantai tujuh, yang punya naluri untuk hal-hal seperti ini, menyambutnya seperti keluarga. Tari menunjukkan video-videonya. Joko bercerita tentang bayinya. Dan Pram—Pram menatap Dimas lama, lalu berkata dengan gaya datarnya, 'Jadi ini adiknya. Yang motornya itu.' Dan Dimas merah, dan semua tertawa, dan Fahmi melihat adiknya diterima—bukan sebagai beban kakaknya, melainkan sebagai tamu lantai itu.
Ada satu percakapan di pantry itu yang tidak direncanakan siapa pun: Wulan bergabung, dan Dimas—dengan keberanian yang tidak pernah dimiliki kakaknya di usia yang sama—bertanya langsung kepadanya: 'Mbak Wulan. Kakakku itu kerjanya beneran seberat yang dia ceritain?' Dan Wulan menjawab dengan jujur yang diukur: 'Lebih berat dari yang dia ceritain. Kakakmu selalu bilang lebih ringan dari yang sebenarnya. Itu penyakitnya.' Dimas menatap Fahmi dengan tatapan penuntut, dan Fahmi mengangkat tangannya seperti tertangkap, dan meja itu tertawa—tapi Dimas tidak sepenuhnya tertawa. Malamnya, di kos, ia berkata pelan, 'Kang, mulai sekarang kalau capek, bilang. Ke aku. Aku udah lulus. Aku udah bisa dengerin.' Dan Fahmi mengangguk, dan tidak mengatakannya—tapi ia menuliskannya: adikku sudah jadi orang yang menawarkan bahunya. Beban itu tidak hilang; ia berbalik arah. Dan ternyata rasanya tidak seperti kehilangan tenaga—rasanya seperti didampingi.
Di rooftop, sore itu, mereka berdua berdiri di angin—kakak beradik, kota di bawah. Dan Dimas berkata hal yang tidak direncanakan, hal yang membuat Fahmi menulis di buku kecilnya malam itu:
'Aku selama ini mikir aku beban, Kang. Tiap kali minta, tiap kali telat, aku ngerasa kayak lobang di kantongmu.' Ia menatap lampu-lampu. 'Tapi hari ini aku lihat kamu kerja. Kamu itu bukan lagi anak Karawang yang gagap, Kang. Kamu itu... kamu itu orang di sini. Dan aku pikir: lobang itu ternyata bukan lobang. Aku itu tangga kamu. Kalau nggak ada aku sama Ibu, kamu nggak akan sekuat ini. Jadi aku berhenti merasa jadi lobang. Aku mau jadi alasan.'
Fahmi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merangkul bahu adiknya—canggung, sebagaimana dua lelaki yang tidak biasa merangkul—dan mereka berdiri di sana sampai azan magrib mengapung di atas kota, dua orang dari warung kecil di Karawang, di atap gedung tinggi, dengan utang-utang yang sudah lunas dan mimpi-mimpi yang sudah berganti bentuk.
Ada satu hal lagi yang Dimas katakan sebelum mereka turun—lebih pelan, hampir tidak keluar: 'Dan Kang. Aku bangga. Aku nggak pernah bilang, tapi aku bangga. Dulu aku malu kalau orang tanya kamu kerja apa, karena 'CS' kedengerannya kecil. Sekarang kalau ada yang tanya, aku jawab: kakakku orang yang ngajarin mesin untuk berhenti.' Ia tidak menatap Fahmi saat mengatakannya, dan Fahmi tidak menatapnya saat mendengarnya, karena ada hal-hal yang hanya bisa diucapkan ke arah kota—ke arah lampu-lampu yang tidak menilai. Mereka tidak membicarakannya lagi malam itu. Tidak perlu. Kalimat seperti itu disimpan, bukan dibahas.
Dimas pulang dengan satu permintaan yang membuat Fahmi tertawa: 'Ajarin aku pasang jaringan. Beneran. Kalau suatu hari kamu bangun yang RT/RW itu, aku mau jadi orang yang panjat tiangnya.' Dan Fahmi menuliskannya malam itu: Dimas lulus. Dan dia menawarkan diri untuk memanjat tiang. Ada orang yang memberimu uang, ada yang memberimu doa, ada yang memberimu tenaganya di tiang—dan yang ketiga adalah bentuk cinta yang tidak pernah diumumkan. Bebanku berkurang satu malam ini, dan gantinya bukan uang. Gantinya adalah kaki tambahan untuk mimpi yang lama. RT/RW itu kini punya dua orang. Dan dua orang sudah cukup untuk mulai mengukur tanah.
Sebelum tidur, satu telepon terakhir: ibu mereka, yang ingin tahu segalanya tentang hari itu—apa yang dilihat Dimas, siapa yang ia temui, apakah kakaknya makan dengan benar. Dan Fahmi menceritakannya, dan Dimas menyambung dari sebelahnya, dan ibu mereka mendengarkan dari dapur warung dengan suara yang lebih ringan dari yang pernah Fahmi dengar bertahun-tahun. 'Dua-duanya di Jakarta sekarang,' katanya. 'Warung ini sepi. Tapi sepi yang enak, Nak. Sepi karena anak-anaknya sudah berdiri.' Dan setelah telepon ditutup, dua bersaudara itu duduk di lantai kos dengan mi instan dan peta kasar Karawang yang digambar Dimas di kertas bekas—dengan tanda-tanda kecil di sana-sini: rumah ini sudah ada, rumah ini belum, tiang bisa di sini. Ember yang bocor itu akhirnya punya dua pasang tangan untuk menambalnya—dan malam itu, untuk pertama kalinya, peta itu tidak terasa seperti khayalan. Ia terasa seperti rencana kerja yang menunggu pagi—pagi yang bisa dijangkau, dengan tiang yang bisa dihitung, dengan dua orang yang sudah tahu cara bekerja keras dengan benar.