“Apakah ini mimpi” tanyaku pada diriku sendiri, aku ditarik kembali kemasa itu masa di mana dunia ketakutan setengah mati, amsa dimana tuhan meninggalkan kota suci umat kristen ortodoks pada masa itu, masa dimana prajurit surgawi tak lagi tersisa
Sepuluh atau dua belas tahun sebelum tahun kelahiranku~yang seharusnya aku belum lahir saat itu~tepatnya tanggal 29 mei 1453 tahun paling mengerikan yang pernah ada. Kau pasti akan berpikir hal yang sama jika kau hadir dan menyaksikan langsung dengan mata kepalamu bagaimana mengerikan orang orang bangsa turk dari klan utsmaniyah menaklukan kota suci dibawah kendali kekaisaran romawi timur salah satu kerajaan terkuat di dunia. Tapi coba kau bayangkan lagi apa yang kau rasakan jika kamu berada di barisan prajurit klan utsmaniyah melihat di hadapan matamu sendiri bagaimana takluknya kota suci umat kristen ortodoks serta runtuhnya kekaisaran romawi timur di tangan seorang sultan muda dari kekaisaran ottoman. Mungkin bagimu tidak terbayangkan, dan memang tidak akan kau mau membayangkan nya tetapi di sanalah
berdiri di barisan para pejuang penakluk kota yang mereka sebut sebagai “kizi elma” ~ apel merah ~
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana orang-orang turk bersorak sorai menyebut asmanya dikala nyala api melahap ganas sang tembok bizantium aku melihat di salah satu menara~yang kurasa itulah menara benteng yang tertinggi~berkibar dengan gagahnya sebuah bendera merah tua berlukiskan bulan sabit berwarna kuning yang menjadi lambang kebanggaan bangsa turk dari klan utsmaniyah pada masanya. pandanganku kepada tiang bendera seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun-an terduduk lemas dengan posisi berlutut, rambut hitamnya yang panjang dan berlumuran darah menutupi wajahnya yang tertunduk. Puluhan luka dan lumuran darah menghiasi tubuhnya yang kekar ada sekitar tujuh anak panah yang tertancap di sekujur tubuhnya, dua diantaranya tertancap di rusuk bagian kanan dan kirinya satu tertancap tepat di d**a, tiga tertancap di punggung belakangnya,dan satu yang terakhir tertancap di ubun-ubunya. Aku tidak tahu siapa dia tapi ada sesuatu yang aneh saat aku memandangnya
Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang hinggap di bahu kananku aku menoleh seorang pria berusia dua puluh satu tahun berdiri disampingku sambil menatapku tersenyum. Ia Mengenakan jubah berwarna hitam pandangannya ia palingkan dari menatapku ke arah aku menatap sebelumnya
“Dia pahlawan yang hebat, bukan begitu nona muda ?” aku tersentak dari lamunanku. Pria itu baru saja berbicara denganku “ kau harusnya merasa bangga memiliki ayah sepertinya” tunggu apa? Mayit di atas benteng itu ayahku?.
“Apa maksudmu tuan?” tanyaku
“ kau merasa beruntung memiliki sosok ayah sepertinya” jawabnya singkat
“Aku….” kalimatku terhenti, pria disampingku itu merangkulku sambil meneteskan air mata, itu rangkulan yang hangat yang pernah aku rasakan seperti seorang ayah merangkul putrinya dengan penuh cinta “kau beruntung walau kau tidak pernah bertemu denganya, karena ia akan selalu mencintai walau ia pun tak pernah hadir dan tidak akan pernah hadir di hari kelahiranmu”. Entah mengapa mataku terasa perih satu per satu air mataku berjatuhan membasahi pundak pria berjubah hitam itu
Apakah ini benar- benar mimpi ? seharusnya begitu tapi entah mengapa segalanya terasa begitu nyata