Author POV
Dain terbangun karena Letta mengetuk jam jelek, bukan karena damai, bukan karena nama nanti, bukan karena Freya.
Kaos kusut. Ember kosong di lantai. Plafon retak di pojok yang sama. Gorden turun. Portal mati. Ponsel masih di mangkuk, seperti janji semalam. Roster batch ini sudah lewat, kertas tidak dicoret, kertas hakim di bawahnya: bukan piala, hidup belum, nama nanti, sayap tidak simetris, magnet longgar sedikit. Kemeja dinas masih terlipat. Pagi itu rumah berbunyi hakim yang memeriksa om yang tidak beli damai.
"Om, jam masih. Om tidak cabut. Lulus. Bunda angka. Om masak. Tiga sudah, hidup belum, hari ini rumah. Kaos. Hakim lapar. Jangan kerah. Jangan lagu. Jangan buka mangkuk. Titik. Damai tidak dijual. Hakim larang beli. Diam gratis. Nama nanti. Hakim belum dengar nama."
Dain duduk, kesemutan, punggung sofa menuliskan garis, dan ia tidak ambil ponsel dulu. Ia cuci muka, baru cek mangkuk dengan takut kebiasaan. Tidak ada Freya. Tidak ada judul hamil. Tidak ada roster baru. Ada Nana: dua pelanggan lama. Ada Jon: sepi. Ada Orl: somasi damai tembus, Freya belum balas ke gue, lagu masih, jangan buka. Ada pengacara: jangan komentar. Dia tidak buka story. Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning, tidak pucat, ember tidak dipakai.
"Tidak mual. Jangan IGD muka. Air sudah. Telur, garam sedikit, jangan ngegas api. Jangan buka mangkuk lama-lama. Tanya perut masih di sekolah, bukan di portal. Kita sapu. Kita tidak lahirkan nama karena takut damai. Nama ada di kepala saya, tidak di mulut pagi ini. Kita tidak beli diam. Kita tidak beli prihatin. Kita tidak beli waktu. Kita tidak beli damai. Kita tidak beli selesai. Nama nanti. Sekarang titik. Kamu masih sofa. Tiga sudah, hidup belum. Jangan latihan piala di kepala sampai kamu tidak tidur."
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Minyak sedikit, garam di ujung sendok, Letta jadi hakim telur, kaki menggantung di kursi, barbie di meja jauh dari api, mencicipi, menimbang, luluskan dengan wajah serius.
"Tidak asin. Tidak gosong. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om buka portal, hakim ambil piring. Kalau om ngegas, telur gagal. Kalau om beli damai, hakim cabut permen. Kalau om pesta tiga, hakim cabut jam. Kalau om tanya nama, hakim cabut barbie. Nama nanti."
"Tidak beli damai. Tidak ngegas. Tidak pesta. Nama nanti. Titik." Lita makan enam suap, damai, lalu buah, damai. Dain berdiri makan, tidak duduk di kasur, hanya berdiri di dapur seperti orang yang masih belajar rumah. Mereka tidak TV. Radio tidak. Dain hampir ambil ponsel dari mangkuk lagi, Lita tepuk tangan sekali, pelan, dari sofa.
"Diam. Beli diam rumah, bukan diam Freya. Jam di kulkas bukan izin judul. Kalau kamu lapar berita, makan telur. Kalau kamu lapar Freya, cuci piring. Kalau kamu lapar hero, tidur. Kalau kamu lapar nama, tunggu. Medis bilang tidur. Jujur itu termasuk tidur. Somasi sudah jalan. Damai sudah di pengacara. Kamu bukan kurir. Kamu om di sofa. Roster berikutnya menyusul, bukan kamu yang menjemput di HRD."
Dain cuci piring. Letta mengeringkan gelas, salah letak, Lita komando dari sofa, rumah berbunyi kerja, bukan pesta. Siang, Lita telpon Nana, blok satu kasar, Bu Sari pewangi, tidak minta turun, tidak lima menit, tidak gang. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan, jangan ngegas di soal, jangan ngegas di angka, jangan ngegas di kepala. Letta ulang titik untuk video wali, seperti mengulang doa pendek yang tidak boleh jadi cerita.
"Bunda berobat. Dokter. Istirahat. Titik. Tidak perut. Tidak tumbuh. Tidak adik. Tidak nama. Kalau wali tanya lama, Letta ulang titik. Kalau teman tanya, Letta diam. Kalau tante jual damai, Letta tidak beli. Diam gratis di rumah. Tiga sudah. Hidup belum. Nama nanti. Jangan campur."
Dain di kamar saat layar wali, keluar setelah mati, cuci piring sampai bersih, Lita biarkan, tidak komando berlebihan, cukup. Lita menutup laptop, kacamata didorong, nota lurus. "Video lulus. Tidak perut. Tidak nama. Kamu tidak muncul. Bagus. Om di kamar, bukan di bingkai. Kalau kamu muncul, jadi berita. Kalau kamu diam, jadi rumah. Kalau kamu pesta tiga, jadi judul. Kalau kamu tanya nama di dapur, jadi pesta."
Sore, koridor dalam tiga putaran, tidak lima, Dain hitung, Letta hitung, Lita di kusen, tidak di lobby. Tetangga menunduk, tidak tanya perut, tidak tanya jam, satu hampir buka mulut, Dain sudah menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden, portal tetap mati. Jesika chat: ibu tidak datang hari ini, cukup, Dain tidur, Lita jangan toko di kepala, kunci di mangkuk, nama nanti, Gavin tidak datang. Gavin chat: pelan. Dain balas titik. Lita tersenyum kecil, jarang. "Ayahmu belajar pendek. Pendek tidak menjual tas. Pendek tidak beli damai. Pendek tidak pesta tiga. Pendek tidak merebut nama."
Malam Freya tidak chat ke Dain. Diam licin berkemeja. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut yang dilewati, Letta meniru sapu di udara. Kerja kecil, bukan judul. Lalu Lita ke ambang kamar, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen seperti orang yang tidak mau jatuh ke judul.
"Dain. Kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan ke cafe. Jangan belok ke HRD. Jangan balas damai dengan hon. Pengacara kerja. Kamu tidur. Tiga sudah, jangan hero tambah. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Tidak sangkalan panjang. Perut jadi tanya di dunia, nama di kepala saya, belum di mulut. Kita tahan. Kita sapu. Kita tidak beli judul. Kita tidak beli diam. Kita tidak beli prihatin. Kita tidak beli tinggal waktu. Kita tidak beli damai. Kalau kamu lapar roster, tekan magnet. Kalau kamu lapar hero, cuci piring. Kalau kamu lapar nama, tunggu. Nama nanti. Bukan malam ini."
"Tidur. Tidak gerbang. Tidak HRD. Tidak beli damai. Tidak pesta. Nama nanti. Sofa. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar di dada om, lalu ambil, aturan malam yang sudah hafal. Dain memejam, jam jelek di kulkas, perut jadi tanya, nama di kepala Lita, tiga sudah, hidup belum, muka ember, bukan cafe, bukan lagu, bukan hon. Magnet roster sedikit longgar. Dia tidak cabut. Dia tekan. Itu kerja malam: tekan magnet, bukan buka mangkuk, bukan merebut nama.
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Somasi sudah jalan. Damai ada di pengacara. Nama belum. Rumah tidak pecah. Itu yang mereka beli. Bukan selesai. Bukan tas. Beli diam rumah. Beli tidak beli damai. Beli jam yang jelek dan tetap ditempel. Beli hidup yang belum, bukan piala yang sudah. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Beli nama nanti, bukan nama pagi ini. Dia memiringkan tubuh, kaki menggantung, ember di lantai, dan untuk malam ini, kertas di kulkas tidak membuatnya ngegas ke siapa pun. Hanya rumah. Hanya kaos. Hanya tidak kabur. Hanya tidak beli selesai. Hanya jam jelek yang tetap menempel sampai pagi.
Letta di kamarnya berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Jam masih. Om tidak cabut. Bunda titik. Tante jangan damai. Hakim tidak beli. Om sudah pulang. Tiga sudah. Hidup belum. Nama nanti. Titik." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu. Lita batuk sekali, bukan IGD. Ember menganggur. Portal mati. Sofa menuliskan garis di punggung. Itu malam rumah, bukan malam judul, dan Dain memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.