Author POV
Pagi itu mangkuk bergetar, bukan lagu, bukan Freya, melainkan satu baris HRD: roster terbatas sudah, tiga pendek minggu ini, pulang hari yang sama, jangan sebar, jangan komentar, kabari ground.
Dain duduk, kesemutan, tidak buka dulu. Letta menatap mangkuk seperti hakim menatap telur. "Om, mangkuk bunyi. Bunda angka. Om jangan ngegas. Titik. Jangan pesta." Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning. "Buka. Baca pelan. Pendek ke saya. Jangan portal publik. Jangan perut. Jangan rumah panjang. Jangan piala."
Dain buka, baca, tidak ngegas. Tiga jam jelek baru, dekat, pulang hari itu, medis jujur tetap, bukan piala, bukan vonis, bukan selesai. Dia kembalikan ponsel ke mangkuk, berdiri di dapur, Lita menunggu, tidak merebut.
"Roster terbatas. Tiga pendek. Pulang hari sama. Minggu ini. Jangan pesta. Jangan setrika sekarang. Telur dulu. Titik." Suaranya pendek, hampir tidak percaya ia bisa pendek soal roster.
Lita mendorong kacamata. "Bukan piala. Bukan vonis. Kita tidak beli selesai. Kamu tidak ke apron hari ini. Tepat waktu nanti, bukan sekarang. Telur. Kaos. Titik. Mom hari terbang. Bukan hari ini." Letta menempel kertas baru di kulkas, huruf besar, lidah keluar: jam jelek baru. bukan piala. om kabari. om pulang. titik. jangan pesta. Magnet longgar, Dain tekan. Kertas lama tidak dicabut. Dua kertas, satu magnet, satu rumah.
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Letta hakim, luluskan. "Tidak asin. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om pesta roster, hakim cabut permen." Lita makan enam, damai, buah, damai. Dain berdiri makan. Mereka tidak TV. Dain hampir portal publik, Lita tepuk tangan. "Diam. Roster dinas bukan izin judul. Bukan izin cafe. Bukan izin hon. Bukan izin cincin."
Siang, Lita telpon Nana, tidak turun, tidak lima menit. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan. Letta ulang titik. Dain di kamar saat layar wali, keluar setelah mati, cuci piring. Orl chat: roster wajar, terbatas, jangan pesta, Freya belum dari gue, jangan loe yang kasih tahu. Jesika: ibu hari terbang, bukan hari ini, Dain tidur, jangan jaga merah, jangan pesta kertas. Gavin: pelan. Pengacara: jangan sebar roster, jangan komentar. Dain titik, kunci ke mangkuk.
Siang panjang, panas di balik gorden. Dain tidak portal publik, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi satu, puas. Letta minta arti jam jelek baru, Dain berjongkok, sejajar. "Om terbang dekat, pulang hari itu juga. Bukan piala. Bukan jauh. Kabari. Pulang. Titik." Letta mengangguk, puas. Dain hampir setrika kemeja, Lita tepuk tangan. "Tidak. Roster bukan izin kerah hari ini. Lipat. Tidur nanti. Hari terbang menyusul." Dain lipat. Ember menganggur. Kerja kecil, bukan judul.
Sore, koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, tetangga menunduk, satu hampir tanya, Dain menunduk. Masuk, rantai, gorden. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu. Kerja kecil, bukan judul. Freya tidak chat. Diam licin berkemeja. Mereka tidak gigit. Jesika tidak datang, cukup. Gavin tidak datang, cukup. Orl tidak mampir, cukup. Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan piala roster. Cukup. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Ember menganggur bagus. Ponsel di mangkuk bagus. Jam jelek baru di kulkas, bukan di grup. Magnet ditekan.
Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain berdiri. Tidak TV. Letta tanya, serius. "Om dekat, kan? Bukan jauh. Bunda tidak sendirian. Roster ada. Bukan piala. Om tidak pesta. Hakim larang pesta roster. Ember ada. Jam masih. Nenek hari terbang. Titik."
"Dekat. Tidak pesta. Kabari. Pulang. Titik." Dain berjongkok, sejajar. Malam Lita di ambang, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen.
"Dain. Roster datang. Tiga pendek. Hari terbang belum. Itu bukan selesai. Itu bukan piala. Kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan ke cafe. Jangan belok ke apron. Jangan kasih tahu Freya. Pengacara kerja. Kamu tidur. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Tidak nama. Tidak adik. Tidak beli diam. Tidak beli prihatin. Tidak beli tinggal waktu. Kalau dia sebar, Mom. Bukan kamu ngegas. Kalau mulut sekolah, titik. Magnet tekan. Titik. Senang kecil: jam di kulkas, bukan vonis. Jangan rusak dengan pesta. Kalau kamu lapar apron, tunggu hari terbang. Kalau kamu lapar hero, tekan magnet. Medis bilang tidur. Jujur itu termasuk tidur."
"Tidak pesta. Tidak ngegas. Sofa. Hari terbang nanti. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar. "Hakim larang pesta roster. Om jam jelek baru. Bukan piala. Om kaos. Jam masih. Om tidak kasih tahu tante. Hakim larang." Dain memejam, roster sudah, hari terbang belum, perut jadi tanya, belum nama, kertas kulkas lebih jujur, muka ember, bukan cafe, bukan hon, bukan balik. Dia hampir setrika, Lita dari ambang: "Tidak. Lipat. Tidur." Dain lipat kemeja, taruh, tidak gosong karena tidak disetrika. Letta puas. "Om lulus tidak ngegas."
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Roster di kulkas, bukan di grup. Somasi jalan. Tinggal waktu di pengacara. Rumah tidak pecah. Jam jelek tetap. Magnet longgar, Dain tekan. Tidak beli selesai. Beli tekan magnet. Beli tidur. Beli tidak kabur. Beli tidak buka grup. Beli hari terbang yang belum, bukan piala yang sudah. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Kaki menggantung. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Letta berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Roster ada. Om tidak pesta. Bunda titik. Jam masih. Hakim jaga. Bukan piala. Om kabari. Om pulang." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu, cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, tekan magnet sekali, lalu memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko. Jesika tidak chat malam itu, cukup. Gavin tidak, cukup. Orl tidak, cukup. Cukup rumah. Bukan selesai. Bukan piala. Cukup.