Author POV
Pagi itu mangkuk bergetar, bukan lagu, bukan Freya, melainkan satu baris HRD: surat sudah, unduh di portal dinas, jangan sebar, datang baca jika perlu, tidak wajib hari ini.
Dain duduk, kesemutan, tidak unduh dulu. Letta menatap mangkuk seperti hakim menatap telur. "Om, mangkuk bunyi. Bunda angka. Om jangan ngegas. Titik. Jangan pesta." Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning. "Unduh. Speaker tidak perlu. Baca pelan. Pendek ke saya. Pengacara kalau perlu. Jangan portal publik. Jangan perut. Jangan rumah panjang."
Dain unduh, baca, tidak ngegas. Fit terbatas lagi. Tiga sector pendek, pulang hari yang sama, medis jujur, tidak komentar media, roster menyusul, bukan langsung. Bukan piala. Bukan vonis. Bukan selesai. Dia kembalikan ponsel ke mangkuk, berdiri di dapur, Lita menunggu, tidak merebut.
"Fit terbatas. Tiga pendek. Pulang hari sama. Roster menyusul. Tidak wajib ke kantor hari ini. Jangan pesta. Jangan setrika sekarang. Telur dulu. Titik." Suaranya pendek, hampir tidak percaya ia bisa pendek soal surat.
Lita mendorong kacamata. "Bukan piala. Bukan vonis. Roster belum. Kita tidak beli selesai. Kamu tidak ke apron hari ini. Tepat waktu nanti, bukan sekarang. Telur. Kaos. Titik." Letta menempel kertas baru: om fit terbatas. bukan piala. roster menyusul. jangan pesta. titik. Magnet longgar, Dain tekan.
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Letta hakim, luluskan. "Tidak asin. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om pesta surat, hakim cabut permen." Lita makan enam, damai, buah, damai. Dain berdiri makan. Mereka tidak TV. Dain hampir portal publik, Lita tepuk tangan. "Diam. Surat dinas bukan izin judul. Bukan izin cafe. Bukan izin hon. Bukan izin cincin."
Siang, Lita telpon Nana, tidak turun, tidak lima menit. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan. Letta ulang titik. Dain di kamar saat layar wali, keluar setelah mati, cuci piring. Orl chat: surat wajar, terbatas, jangan pesta, Freya belum tahu dari gue, jangan loe yang kasih tahu. Jesika: ibu tidak datang, cukup chat, Dain tidur, jangan jaga merah, jangan pesta kertas. Gavin: pelan. Pengacara: jangan sebar surat, jangan komentar. Dain titik, kunci ke mangkuk.
Siang panjang, panas di balik gorden. Dain tidak portal publik, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi satu, puas. Letta minta arti fit terbatas, Dain berjongkok, sejajar. "Om boleh terbang dekat, pulang hari itu juga. Bukan piala. Bukan jauh. Roster belum. Titik." Letta mengangguk, puas. Dain hampir setrika kemeja, Lita tepuk tangan. "Tidak. Surat bukan izin kerah hari ini. Lipat. Tidur nanti. Roster menyusul." Dain lipat. Ember menganggur. Kerja kecil, bukan judul.
Sore, koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, tetangga menunduk, satu hampir tanya, Dain menunduk. Masuk, rantai, gorden. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu. Kerja kecil, bukan judul. Freya tidak chat. Diam licin berkemeja. Mereka tidak gigit. Jesika tidak datang, cukup. Gavin tidak datang, cukup. Orl tidak mampir, cukup. Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan piala surat. Cukup. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Ember menganggur bagus. Ponsel di mangkuk bagus. Surat di portal dinas, bukan di kulkas, cukup. Jam jelek tetap. Magnet ditekan.
Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain berdiri. Tidak TV. Letta tanya, serius. "Om dekat, kan? Bukan jauh. Bunda tidak sendirian. Surat ada. Bukan piala. Om tidak pesta. Hakim larang pesta surat. Ember ada. Jam masih. Titik."
"Dekat. Tidak pesta. Roster menyusul. Titik." Dain berjongkok, sejajar. Malam Lita di ambang, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen.
"Dain. Surat datang. Fit terbatas. Roster belum. Itu bukan selesai. Itu bukan piala. Kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan ke cafe. Jangan belok ke apron. Jangan kasih tahu Freya. Pengacara kerja. Kamu tidur. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Tidak nama. Tidak adik. Tidak beli diam. Tidak beli prihatin. Kalau dia sebar, Mom. Bukan kamu ngegas. Kalau mulut sekolah, titik. Magnet tekan. Titik. Senang kecil: surat biasa, bukan vonis. Jangan rusak dengan pesta. Kalau kamu lapar apron, tunggu roster. Kalau kamu lapar hero, tekan magnet. Medis bilang tidur. Jujur itu termasuk tidur."
"Tidak pesta. Tidak ngegas. Sofa. Roster menyusul. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar. "Hakim larang pesta surat. Om fit terbatas. Bukan piala. Om kaos. Jam masih. Om tidak kasih tahu tante. Hakim larang." Dain memejam, surat sudah, roster belum, perut jadi tanya, belum nama, kertas kulkas lebih jujur, muka ember, bukan cafe, bukan hon, bukan balik. Dia hampir setrika, Lita dari ambang: "Tidak. Lipat. Tidur." Dain lipat kemeja, taruh, tidak gosong karena tidak disetrika. Letta puas. "Om lulus tidak ngegas."
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Surat di portal dinas, bukan di grup. Somasi jalan. Tawaran keluarga di pengacara. Rumah tidak pecah. Jam jelek tetap. Magnet longgar, Dain tekan. Tidak beli selesai. Beli tekan magnet. Beli tidur. Beli tidak kabur. Beli tidak buka grup. Beli roster yang belum, bukan piala yang sudah. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Kaki menggantung. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Letta berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Surat ada. Om tidak pesta. Bunda titik. Jam masih. Hakim jaga. Bukan piala. Roster menyusul. Om dekat. Ember ada." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu, cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, tekan magnet sekali, cuci muka sebentar, kembali ke sofa, lalu memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko. Jesika tidak chat malam itu, cukup. Gavin tidak, cukup. Orl tidak, cukup. Cukup rumah. Bukan selesai. Bukan piala. Cukup.