Author POV
Hari-hari menuju medis ulang memendek seperti sebelum tiga terbatas, hanya tanpa kerah, hanya dengan kemeja yang masih lipat.
Dain bangun karena alarm percobaan, terlalu keras, Lita mengumpat pelan lalu tertawa kecil dari ranjang. "Belum medis. Matikan. Ember menganggur, kamu jangan jadi sirine." Dain matikan, malu, cuci muka. Ember kosong. Lita mual sedikit, tidak hebat, jalan pelan ke kamar mandi, Dain di luar dengan ember yang tidak jadi pakai, Letta di ranjang mengulang seperti PR: bunda berobat, dokter, istirahat, titik. Diam gratis. Tidak beli. Tidak pesta telepon. Dokter pesawat, bukan perut. Jangan campur.
"Bunda tidak bunyi banyak. Om jangan IGD muka," kata Lita dari dalam, serak, lalu keluar, pucat tipis, minum air. "Bubur. Bukan telur. Hakim kompromi. Satu tetes madu. Bukan pesta manis. Kunci tetap di mangkuk. Kemeja tetap lipat. Medis bukan hari ini."
Bubur, bukan telur. Letta protes, menerima, minta dua tetes, ditolak, hakim kompromi dengan muka kesal yang lucu. Dain hampir tambah telur, Lita menggeleng. Nana kirim angka: sepi mereda, dua lama, titipan tanpa nama nol, satpam sepi, plat tidak, tetangga toko tidak tanya lagi. Lita mencatat garis lurus, tidak turun, tidak mesin, tidak lima menit, tidak foto gang.
"Kemenangan hari ini: saya tidak rindu sampai bodoh. Kamu jangan ke klinik lebih awal. Jangan ngegas ke dokter pesawat. Kaos, diam, PR. Kalau kamu pergi sekarang, itu takut, bukan tepat waktu. Takut boleh duduk. Takut tidak boleh dikendarai. Somasi boleh jalan. Kamu tidak boleh jadi kurir. Telepon biasa boleh di mangkuk. Kamu tidak boleh jadi pesta."
Dain tinggal. Dia tidak setrika kemeja. Ia cek lipatan, Lita luluskan dari sofa. "Bagus. Bukan kerah hari ini. Rumah sekarang. Jangan tas miliaran. Jangan cincin di saku. Kalau kamu pakai cincin, saya cabut jam. Kalau kamu beli selesai di kepala, bubur gagal. Kalau kamu beli diam Freya, kunci cabut dari mangkuk, saya marah. Kalau kamu setrika sekarang, telur nanti gagal."
Letta titip permen ke mangkuk, bukan ke map. "Cadangan rumah. Bukan takeoff. Hakim pindah aturan. Om di rumah, permen di rumah. Kalau om ke klinik nanti, permen pindah. Hari ini tidak." Dain mengangguk, tidak tertawa besar, hanya simpan, hanya titik. Siang panas di balik gorden, rumah tidak buka jendela lebar. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi dua, puas. Letta bagi, Dain salah di desimal, dibetulkan, ulang, salah cerita, dibetulkan lagi, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal." Dain pelan. Letta luluskan om dengan muka kemenangan kecil.
Jesika chat: ibu datang subuh hari medis, bukan malam ini, Dain tidur, jangan jaga sampai merah, kunci di mangkuk. Dain hampir tidak menurut, berdiri di dapur, lalu tidur siang dua puluh menit di sofa, bangun karena Letta menaruh barbie di map dinas, Lita ambil, tegas.
"Barbie tidak ke klinik. Om saja. Klinik bukan perang mainan. Map jangan jadi rumah boneka. Kemeja jangan disetrika diam-diam." Dain tertawa, pecah, setuju. Map dirapikan. Barbie ke sofa. Ember tetap di lantai, saksi konyol. Ponsel tetap di mangkuk, saksi pelan. Kemeja tetap lipat.
Sore, kode dua kali, Jon: sahabat. Orlando mampir sebentar, sepatu di luar, tidak omong burung, tidak balado di meja.
"Medis loe minggu ini. Gue antar. Jangan bawa ember, aneh. Bawa kartu, bawa diam, bawa permen anakmu. Kalau ditanya berita, tidak komentar. Kalau ditanya rumah, cuti keluarga. Titik. Freya diam berkemeja. Mama marah di grup, screenshot sudah. Jangan masuk grup itu. Kalau ada yang nunggu di klinik, masuk, chat gue, jangan debat parkir. Kuasa belum gerak lagi. Loe sofa. Jangan cafe. Jangan hon. Jangan balik. Jangan beli diam. Jangan pesta telepon. Jangan ngegas ke dokter."
Lita minta speaker. "Dia rumah. Saya angka. Hakim titik. Kamu antar. Jon basement. Jangan loe bawa Dain ke cafe tujuh tahun. Langsung rumah. Diam tidak dijual. Dokter pesawat, bukan perut. Jangan campur." Orl angguk. Letta dari kursi: "Om berisik. Titik. Tidak burung. Kalau om ngegas, hakim ambil permen. Kalau om beli diam, hakim ambil barbie." Orl tertawa kecil, titik, tidak berdebat dengan hakim, pergi, rantai dikunci Dain, gorden dicek, portal tetap mati, ponsel kembali ke mangkuk.
Mereka tidak ke koridor lima. Mereka tiga, Lita di kusen, tetangga menunduk, tidak tanya perut. Masuk, rantai. Freya tidak chat ke Dain. Diam licin. Mereka tidak menggigit. Dain cuci tangan, Lita buka nota lagi, Letta gambar jam baru di bawah roster, lebih jelek, lebih jujur, magnet longgar, Dain tekan.
Malam Lita lebih lama di ambang, memegang kusen, suara pelan, bukan judul.
"Saya takut sendirian di judul, bukan takut kamu ke dokter pesawat. Dokter pesawat hakmu. Judul bukan hak Freya. Diam bukan dagangan. Prihatin bukan kemasan yang kita beli. Kalau dia sebar saat kamu di klinik, Mom. Bukan kamu ngegas di parkir. Janji lagi. Saya bos angka. Kamu bos pulang. Hakim bos titik. Ember bos kalau mual. Pengacara bos kalau judul. Kamu jangan jadi bos semua. Kamu jadi orang yang tepat waktu dan pulang. Sofa masih sofa. Ember menganggur, biarkan. Jangan kamu bawa ember ke klinik. Jangan kamu bawa kunci dari mangkuk ke ruang periksa."
"Janji. Tidak ngegas. Tidak cafe. Tidak hon. Tidak beli diam. Tidak pesta. Sofa. Tidak ember ke klinik. Tepat waktu nanti." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar, ambil, aturan. Dain tidur, tidak dalam, cukup, kemeja masih lipat, permen di mangkuk, jam jelek di kulkas, magnet ditekan lagi, sayap tidak simetris, rumah tidak pecah.
Dia bangun sekali tengah malam, bukan karena Freya, karena perut Lita berbunyi lapar kecil. Bubur sisa, dihangatkan, tidak ngegas, Lita makan tiga suap, damai, kembali ke kamar, tidak kunci. Dain cuci mangkuk makan, ponsel tetap di mangkuk lain, ember menganggur, portal mati, dan ia kembali ke sofa seperti orang yang sudah hafal garis punggung. Tidak beli selesai. Beli tidur. Beli tidak ngegas. Beli muka ember yang belum dipakai di klinik. Cukup. Bukan selesai. Cukup.