Author POV
"Gila ini gila Dain" Dain yang tengah tiduran di ranjang kasurnya itu terus dibuat gelisah bahkan dia tidak bisa memulai untuk tidur.
Dain sebenarnya ingin bisa beristirahat dengan tenang karena tubuhnya terasa tidak enak sehabis hujan-hujanan tadi membuat tubuhnya langsung demam dan kini dia sudah flu. Tapi bukan karena itu dia tidak bisa tertidur tetapi karena memikirkan kejadian paling gila yang pernah dilakukannya tadi.
"Gila bisa-bisanya kamu mencium Janda Dain, eh tapi memang dia benar Janda?" Ucapnya kali ini.
"Tapi ciumannya itu loh...Astagfirullah menggoda banget...ehmm" kini pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan bahwa kejadian tadi berlanjut lebih lagi.
"Apanya yang menggoda Dain, jangan bilang kamu sama Freya..." Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Dain dengan membawa satu nampan berisi makanan dan juga minuman hangat.
"Mom" pekik Dain dengan tak percaya melihat mamanya sudah ada didekatnya.
"Huajing huajing" dia bersin dengan mencoba dibuat-buat seperti tadi ketika dia baru sampai dirumah.
"Sudah gak perlu dibuat-buat gitu Dain"
"Ngapain mom kesini sih, Dain kan masih ngambek jadi jangan nemuin Dain dulu mom" kini Dain mengubah posisinya menjadi miring memunggungi Momma nya yang sudah duduk dibelakangnya.
"Ya ampun Dain, kamu itu sudah umur 23 mau ke 24 kok masih ngambek kan gini sih. Kayak umur 2 tahunan saja. Fafa yang umurnya 4 tahun gak gini juga"
"Gak mau tau yang penting aku masih ngambek, dad dan mom marah-marahin anaknya yang baru pulang....huajjing huajing"
"Jangan dibuat-buat Dain" marah mommanya yang sepertinya sudah tau bahwa itu dibuat-buat oleh putranya.
"Enggak dibuat-buat mom, ini seriusan"
"Ya sudah kalau gitu kamu makan dulu ini mom buatkan sup sama dibawakan obat biar kamu gak tambah parah gini"
"Jangan perhatian gitu mom tadi aja habis marahin Dain"
"Astaga Dain, mom sama dad gak marahin kamu tapi tadi kami itu hanya menasehati kamu, kami khawatir sama kamu yang baru pulang malam kayak gini. Kami itu sayang sama kamu, jadi sudah gak usah ngambek gini malu-maluin saja"
"Ihh mom ini gak malu-maluin. Kalau sayang yah seharusnya direstuin lah aku sama Frey mom. Kami itu..."
"Dain mom malas membahas itu, lebih baik sekarang makanlah. Mom gak mau berdebat lagi tentang hal yang sama"
Dain merubah posisinya menjadi duduk dan menghadap Momma nya. "Mom sampai kapan mom kayak gini sama daddy. Kata mom aku sudah dewasa, aku juga mau nikah mom. Dan itu sama Frey"
"Dain, kamu gak tau Freya itu kayak gimana orangnya dan dari keluarga yang seperti apa"
"Memangnya Frey gimana mom? Apa yang masih kurang dari Freya? Bilang sama Dain, biar nanti Dain bilang ke Freya dan biar dia bisa merubahnya sedikit demi sedikit"
"Kamu gak tau Dain, kalau kamu tau kamu pasti tidak akan secinta ini sama dia karena pasti kamu akan meninggalkannya dan memilih wanita lain"
"Apa yang gak Dain tau mom? Apa? Kasih tau Dain "
"Sudah malam sayang, makanlah dan minum obat mom mau tidur" Ibu Jesika yang merupakan momma Dain dan juga momma dari 4 anak ini sudah berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi, namun dia kembali berbalik menghadap putranya dan mengelus rambut putranya.
"Gak ada satupun orangtua yang tidak menginginkan anaknya bahagia dan menikah dengan seorang wanita yang dicintainya Dain, begitu pula mom dan dad. Percayalah kami tidak mau kamu kecewa dan sakit, lebih baik dengarkan kata-kata kami"
"Mom sama dad gak tau apa yang Dain mau"
"Apa yang kamu mau belum tentu baik untukmu nak. Segera makan dan minum obat good night sayang" Ibu Jesika mencium puncak kepala putra keduanya ini, setelahnya barulah dia pergi meninggalkan putranya yang masih terdiam di tempatnya.
"Kenapa Dad dan Mom tidak menuruti apa kemauan Dain. Kak Jero saja tidak diatur seperti ini mau menikah dengan siapapun itu, tetapi kenapa aku sesulit ini berhubungan dengan Frey. Sebenarnya apa yang terjadi, sampai mom dan dad susah merestui kami" gumamnya kemudian dia melihat makanan yang tadi dibawakan Momma nya.
Dari kepulan asap hingga aromanya membuatnya menjadi lapar. Sebenarnya Dain merasa gengsi akan makan, makanan dari momma nya ini tapi karena perutnya sangat lapar, dia membuang rasa gengsinya itu dan segera memakan makanan ini dengan lahap dan meminum obat yang disiapkan Mommanya. Disaat perutnya sudah kenyang seperti ini memudahkannya dengan cepat dapat terlelap ke alam mimpi.
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
"Enggh" gumam seseorang didalam tidurnya.
Gumaman itu membuat seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya dibuat menggelengkan kepalanya."Heh itu pasti bayangin yang enggak-enggak ya. Emang dasar omes Sarden satu ini, pikirannya gak pernah benar"
"Omes salden tu apa dad?" tanya seorang anak kecil yang datang bersamanya.
"Heh ini bocil denger saja. Sudah, anak kecil sepertimu lebih baik kesana dan bangunin Om Sarden. Terserah dinaikin atau diapain lah yang penting Om Dain bangun, kalau enggak nanti gak Daddy belikan mobil-mobil"
"Ote-ote. Celalu ngancem. Iya ni Fafa bangunin Om Dain"
Seseorang yang tengah tertidur sambil bergumam itu adalah Dain. Dain masih tertidur dengan nyenyak dan bergelung dengan selimut di ranjang kasurnya di siang hari seperti ini.
"Nah pinter bocil sana" laki-laki dewasa yang tadi menggendong anak berusia hampir 4 tahunan itu menurunkannya dan membiarkannya membangunkan seseorang yang masih menggerang dalam tidurnya itu.
"Sukurin elo Sarden, habisnya mimpi kok yang m***m-m***m"
"Om Dain bangun, aku sama Daddy sudah ada disini ayo halan-halan. Ayoo om bangun" anak kecil berusia hampir empat tahun itu tengah asik meloncat-loncat di kasur sambil mengguncang tubuh seseorang yang masih terlelap.
"Siapa sih ini gangguin orang lagi ena-ena aja ini" seseorang yang sejak tadi tidur dengan terbawa ke alam mimpinya yang indah itu harus terusik dengan kehadiran seseorang yang mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya.
"Bangun om, ayoo bangun"
"Woy Sarden bangun woy sudah siang, bayangin Janda montok elo ya" teriakan tepat ditelinga nya itu membuatnya langsung terjungkal dan bangun dari tidurnya karena dia begitu terkejut dengan suara itu.
"Siap..."
"Apa! Ini gue" teriak seseorang di depan Dain sambil berkacak pinggang.
"Astaga elo ondel-ondel"
"Huh enak aja ondel-ondel , orang gue ganteng gini dibilang ondel-ondel. Walaupun gue belum punya anak tapi gue masih ganteng tau. Kegantengan gue gak akan luntur dengan bertambahnya usia dan tambahnya buntut krucil-krucil nanti"
"Halah ngomong apaan sih elo. Ini kenapa elo udah kesini se pagi ini sih. Gue lagi mimpi indah malah digangguin"
"Woy masih pagi elo bilang. Fa coba tunjukkan jam kamu sekarang, trus kasih tau ke Om Sarden"
"Jam 11 dad" jawab anak kecil itu sambil menunjukkan jam tangannya yang memang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Anak berumur hampir 4 tahun itu begitu pintar karena dia sudah tau tentang jam berapa sekarang.
"Nah pinter anak Daddy ini, masa Om Sarden gitu aja gak tau yah Fa"
"What! Sudah jam 11 siang"
"Iyaa Sarden. Elo tadi mimpi apa hayo. Mimpi goyang in Jendes yang montok yah"
"Hah kok elo tau" ucapnya spontan tanpa bisa dicegahnya.
"Astaga jadi elo beneran mimpi gitu. Gila. Siapa yang ngajarin jadi omes gini"
"Elo"
"Ihh gue gak pernah ngajarin elo goyangin Jendes yah"
"Doyangin Jendes itu apa dad, om?" tanya anak kecil dengan polos.
"Tanya sama Daddy mu yah Fa, dia lebih ahli. Tapi tunggu...kamu kok sudah keren gini Fa? Gini nih kalau anaknya Abi Rolando, percaya gue kalau anak daddy elo yang satu ini gak mungkin modelannya begini" puji Dain sambil menciumi anak kecil yang begitu menggemaskan ini.
"Yee enak aja elo, nanti kalau anak gue jadi, sih Fafa ini gak ada apa-apanya"
"Sudah om, bau. Aku sudah kelen"
"Eh kok jadi gini pasti kamu diajarin daddy mu yah. Kamu jangan mengikuti ajaran daddy mu, masa depanmu bisa hancur"
"Yee enak aja loe" sebuah toyoran di kepalanya dan itu dari tamu yang tak diundangnya ini.
Tamu yang membangunkannya di siang hari seperti ini adalah Orlando dan juga Dhaffa anak dari kembaran Orlando yaitu Rolando. Lama memang mereka tak bertemu membuatnya begitu merindukan mereka, lebih tepatnya merindukan Dhaffa saja, tidak dengan sahabatnya yang paling menyebalkan ini.
"Eh elo tadi benar mimpi Jendes, trus gimana Jendesnya montok, bohay?"
"Elo yah udah punya bini masih aja m***m bayangin cewek lain gue bilangin ke Zal biar di potong tuh burung kebanggaan elo"
"Eeh siapa yang bayangin. Gue...gue cuma tanya aja"
"Fa, bilangin umi yah. Bilang Daddy nakal soalnya godain cewek lain"
"Daddy emang seling gitu om. Godain cewek yang cantik. Sampai Fafa yang suruh nanyain namanya"
"Astaga Daddy kamu kayak gitu, dasar ya Daddy centil banget. Bilangin ke Umi aja"
"Fa, Daddy gak belikan mainan loh ya" ucap Orlando sambil menatap kesal ke arah Dhaffa.
"Ehh endak-endak. Daddy" dia berjalan menghampiri daddy-nya dan langsung duduk di pangkuannya kemudian dia menciumi seluruh wajah daddy-nya agar Daddy nya tidak marah lagi kepadanya dan mau membelikannya mainan sesuai keinginannya.
"Halah gak usah sok sayang Daddy gitu. Tadi aja jelek-jelekin Daddy"
"Enggak dad, Daddy baik deh. Ganteng lagi"
"Heleh sok ngerayu lagi ajaran siapa itu"
"Daddy" mendengar hal itu Dain langsung tertawa hingga dia terbatuk-batuk.
"Haduh ini si Ro kok ya boleh anaknya di didik sama adiknya. Begini nih modelannya" kini Dain tertawa kembali bahkan dia sampai bersin-bersin.
"Huajing huajing huajing"
"Ihh jorok Dain, virus aja"
"Ihh gue ini sakit flu makannya gue bisa tidur sampai siang gini"
"Flu apa mikirin Janda?"
"Janda apaan sih" berbicara tentang Janda, dia jadi teringat akan mimpinya tadi sebelum dia terbangun. Dimana di dalam mimpinya itu, dia kembali bertemu dengan wanita semalam yang ditolongnya. Kemudian mereka kembali berciuman dan menghabiskan waktu yang indah semalaman.
"Nah ini nih, pikirannya sudah kemana-mana kan"
"Apaan sih" Dain menepis tangan Orlando yang hendak menunjuk ke dahinya.
"Sudah elo beneran sakit yah badan loe panas gini, ini kemarin paling elo goyangnya terlalu berlebihan jadinya capek gini"
"Goyang-goyang apaan sih. Gue kemarin habis hujan-hujanan bantuin seseorang"
"Seseorang? Janda?" Tebak Orlando. Karena dia tau sahabatnya ini seperti ada yang tidak beres sejak dia memergokinya tadi.
"Iya"
"Astaga jadi elo mimpi tadi mikirin dia. Emang Jandanya cantik, bohay?" Dain tidak menjawabnya, justru dia kini melamun sambil tersenyum sendiri sambil menyebutkan nama seseorang. "Lita"
"Hah Lita? Jadi namanya Lita?" Pertanyaan dari Orlando tidak dijawab oleh Dain karena dia masih melamun sambil tersenyum sendiri.
"Nah kan. Sudah mending loe mandi air hangat biar otakmu ini beres. Bahaya elo, gue bilangin Frey loh ya karena elo lebih tertarik Janda daripada sama cewek loe yang semoga saja masih perawan itu"
"Frey, astaga gue belum ngabarin cewek gue" Dain seperti baru tersadar dalam tidurnya, membuatnya langsung mencari ponselnya dan menghubungi kekasihnya itu. Karena jika tidak, kekasihnya pasti akan marah kepadanya.
"Halah gaya banget mau kasih kabar ke ceweknya padahal tadi pikirannya ke seorang Janda, emang dasar ya"
"Diam ondel-ondel"
"Terus ini elo gak bisa gue ajak keluar nyenengin nih bocil satu nih"
"Iya-iya bisa. Sudah diam, loe bawel banget sih. Gue mau telpon cewek gue dulu habis itu gue mandi dan kita keluar"
"Yeh" teriak Dhaffa dengan bahagia.
Sementara itu Orlando terus mengamati sahabatnya yang tengah berbincang dengan kekasihnya via telepon di balkon kamarnya. "Lagian elo pertahanin apa itu cewek loe Sarden, kalau Janda itu lebih baik kenapa tidak. Gue lebih dukung loe sama itu Janda, kalau dia lebih bermartabat dari cewek loe apa salahnya elo sama dia aja" gumam Orlando sendirian. Kemudian dia dikejutkan dengan Dhaffa yang minta diantarkan ke kamar mandi membuatnya mengantarkan anak dari kakak kembarnya ini.