Author POV
Subuh sector, alarm kedua belum berbunyi, Jesika sudah di dapur, air hangat, bukan pesta, bukan lagu.
Dain duduk di sofa, kesemutan, cek ponsel dengan takut kebiasaan. Tidak ada Freya. Tidak ada judul hamil. Ada Orl: lagu, bukan hamil, jangan buka. Ada Jon: mobil bawah, radio mati. Ada pengacara: jangan komentar di bandara. Dia tidak buka story. Lita sudah bangun, air, tidak pucat, kacamata, angka sepi, pipi kuning.
"Pergi. Jujur. Kabari. Pulang. Jangan pesta di lift bandara. Jangan cafe. Jangan putar. Kalau mual, Mom. Kalau judul, bukan kamu. Kaos sudah. Kerah sekarang. Hakim masih tidur, cium pelan. Saya tidak ke jendela. Gorden tetap. Ember menganggur, biarkan. Kamu muka ember. Bukan muka cafe."
Letta mengantuk, bangun karena janji, cium, titik, barbie jaga rumah, tidak ikut lift. "Om kabari. Om pulang. Bunda titik. Tante jangan judul. Hakim larang pukul. Permen takeoff. Permen mendarat. Jangan ngegas." Dain kerah lurus, permen di map, tas kecil, muka ember. Tidak menoleh jendela. Tidak buka gorden. Jesika di pintu: "Pelan. Jangan hero. Rumah kerja. Kamu kerja. Pulang." Dain angguk. Jon antar, radio mati, tidak ngegas, tidak lobby lama, tidak omong burung.
Bandara pagi, orang menoleh sedikit, Dain tidak memancing, toilet, muka ember, cuci tangan, chat Lita: sebelum ground, akan kabari takeoff, titik. Lita: titik, mom di sini, tidak mual, jangan putar. Letta, lewat Jesika: om kabari, om pulang, hakim titik. Briefing pendek, rute dekat, kapten pelan: jangan bawa rumah ke cockpit, jangan bawa cockpit ke portal, kerja, mendarat, pulang. Dain siap, tidak hero, tidak ngegas, permen di map, notes pulang di saku.
Di gate ia ketik: takeoff sebentar, pulang hari ini, titik. Lita: titik. Dain simpan ponsel, muka ember, kerja. Terbang. Cuaca biasa. Dain kerja, bukan pikir judul, kadang terpikir ember, lalu checklist, lalu kerja lagi. Itu yang ia beli: kerja, bukan pesta di udara. Tidak sangkalan. Tidak portal. Tidak cafe di kepala. Hanya rute dekat, hanya jam jelek yang sudah ia tekan semalam. Permen takeoff tidak dihisap, hanya ada, cadangan, seperti ember yang menganggur. Kapten sesekali singkat, Dain singkat. Tidak hero. Tidak ngegas. Langit pendek, cukup, jangan lebih.
Mendarat kota dekat, delay kecil, ketik: mendarat, delay, pulang sector dua sesuai, tidak putar. Lita: titik. Orl: Freya story, bukan hamil, lagu. Jangan buka. Dain tidak buka. Jesika: Letta titik, Lita makan, ember menganggur. Gavin: pelan. Dain pelan. Sector dua, pulang, cuaca biasa, kerja, muka ember, kadang terpikir jam di kulkas, lalu checklist. Bandara asal, chat: mendarat pulang, tidak cafe, jalan, titik. Lita: rantai nunggu. Dain tidak belok. Tidak tujuh tahun. Tidak hon.
Di pesawat, antara checklist, Dain sempat takut senang. Senang kecil: ia kabari, Lita titik, Letta titik. Senang itu ditahan, tidak dijadikan pesta di cockpit, tidak dijadikan lagu di kepala. Kapten tidak tanya rumah. Dain tidak tawarkan. Kerja. Mendarat. Delay. Kerja lagi. Itu sector terbatas: cukup, jangan lebih, jangan belok.
Di parkir bandara tidak ada Mama Freya. Tidak ada hoodie. Tidak ada kamera yang ia kenali. Ada Jon. Pulang, tidak ngegas, tidak cafe, tidak tujuh tahun, tidak belok ke kampus, tidak belok ke gerbang. Di jalan Dain hampir buka story, menahan, kunci ke saku. Kode dua, rantai, ember di kaki sofa, Letta piala konyol, bukan piala pesawat, hanya peluk pendek, titik. Lita cek muka, kerah, tangan, tidak cek perut di depan pintu. Jesika di belakang, tidak foto, tidak pesta.
"Kamu tidak putar. Kamu kabari. Saya percaya sedikit lagi. Kaos. Angka. Tidak pesta dua sector. Masih ada sisa. Tidur. Medis bilang tidur. Jangan buka story. Jangan hero. Sofa. Jangan beli selesai karena kamu sudah pulang. Pulang dua kali hari ini, sofa tetap sofa."
Dain ganti kaos, tidak pesta, tidak lagu, tidak hon. Jesika puas pelan, tetap sampai malam, tidak menginap kedua kecuali diminta. Rumah hangar. Dain cuci piring, keringkan, salah letak gelas, Lita komando dari sofa, Letta tertawa kecil, rumah berbunyi kerja. Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain berdiri. Tidak TV. Tidak radio. Judul hamil belum. Diam Freya licin. Mereka tidak gigit.
Sore setelah pulang, Dain hampir tidur di sofa sebelum makan, Lita tidak izinkan. "Makan dulu. Medis bilang tidur, bukan pingsan. Telur. Enam suap saya. Kamu berdiri. Lalu tidur. Jangan buka story sambil ngantuk, nanti jadi judul." Dain menurut. Letta gambar pesawat dengan sayap lebih simetris, masih jelek, tetap ditempel dekat yang lama. Nana: toko tutup aman. Jon: sepi, plat tidak. Orl: Freya lagu, mama marah di grup, jangan masuk. Dain tidak masuk. Koridor tidak. Cukup rumah. Jesika cuci gelas, Dain dilarang berlebihan, Letta dilarang tumbuh, Lita dilarang toko di kepala. Empat larangan, satu hangar.
Malam Lita di ambang, singkat, lebih kuat, lebih capek.
"Kamu sudah pulang. Saya tidak pecah. Besok atau lusa sisa, sama: kabari, pulang, muka ember. Jangan senang sampai jadi pesta. Senang kecil: jam di kulkas, kaos, rantai. Titik. Ember menganggur. Portal mati. Tidak cincin. Tidak nama. Tidak adik. Kalau dia sebar malam ini, Mom. Bukan kamu ngegas. Janji masih. Saya percaya sedikit lagi. Sedikit itu mahal. Jangan rusak dengan cafe."
"Senang kecil. Tidak pesta. Sofa. Tidak putar. Janji." Letta titip barbie sebentar. "Om lulus kabari. Hakim lulus. Tante jangan judul. Om tidur. Jam masih." Dain memejam, dua sector sudah, satu sisa, perut jadi tanya, belum judul, kertas kulkas lebih jujur, muka ember sudah dipakai, bukan cafe, bukan hon, bukan balik. Magnet longgar, dia tekan. Tidak beli selesai. Beli pulang. Beli diam. Beli jam yang jelek dan tetap menempel. Kaki menggantung. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Letta berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Om lulus. Bunda titik. Jam masih." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, dan tidur sebelum kepala jadi toko.