Author POV
Hari sebelum medis sama seperti hari sebelum briefing: rumah memendekkan kalimat.
Dain bangun karena alarm percobaan, terlalu keras, Lita mengumpat pelan lalu tertawa kecil dari ranjang. "Lusa, bukan sekarang. Matikan. Ember menganggur, kamu jangan jadi sirine." Dain matikan, malu, cuci muka. Ember kosong. Lita mual sedikit, tidak hebat, jalan pelan ke kamar mandi, Dain di luar dengan ember yang tidak jadi pakai, Letta di ranjang mengulang seperti PR: bunda berobat, dokter, istirahat, titik.
"Bunda tidak bunyi banyak. Om jangan IGD muka," kata Lita dari dalam, serak, lalu keluar, pucat tipis, minum air. "Bubur. Bukan telur. Hakim kompromi."
Bubur, bukan telur. Letta protes, menerima, minta madu, dapat satu tetes, minta dua, ditolak, hakim kompromi dengan muka kesal yang lucu. Dain hampir tambah telur, Lita menggeleng. Nana kirim angka: sepi mereda, dua lama, titipan tanpa nama nol, satpam sepi, plat tidak. Lita mencatat garis lurus, tidak turun, tidak mesin, tidak lima menit, tidak foto gang.
"Kemenangan hari ini: saya tidak rindu sampai bodoh. Kamu jangan ke klinik lebih awal. Jangan ngegas ke dokter. Setrika, kerah, diam. Kalau kamu pergi sekarang, itu takut, bukan tepat waktu."
Dain tinggal. Dia setrika. Dia diam. Takut tetap ada, tidak dikendarai. Siang dia cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Sore hampir sama dengan kemarin, hanya kerah lebih lurus dan perut lebih tenang. Mereka tidak ke koridor lima. Mereka tiga, atau tidak sama sekali. Malam mendekat dengan kemeja di kusen, seperti orang yang belajar berangkat tanpa kabur. Dain makan malam sedikit, Lita sedikit, Letta luluskan bubur sisa. Tidak ada lagu. Ada sapu. Ada takut yang didudukkan, bukan dikendarai. Cukup untuk masuk ke ambang dan ke sofa.
Dain menyetrika kemeja dinas, pelan, tidak gosong. Lita luluskan kerah dua kali. Letta titip permen kedua, "cadangan." Dain hampir tertawa. Takut manis, lebih baik daripada takut ngegas.
Siang panjang, panas di balik gorden, rumah tidak buka jendela lebar. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi dua, puas. Letta bagi, Dain salah di desimal, dibetulkan, ulang, salah cerita, dibetulkan lagi, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal." Dain pelan. Letta luluskan om dengan muka kemenangan kecil.
Jesika chat: ibu datang subuh lusa, bukan malam ini, Dain tidur, jangan jaga sampai merah. Dain hampir tidak menurut, berdiri di dapur, lalu tidur siang dua puluh menit di sofa, bangun karena Letta menaruh barbie di map dinas, Lita ambil, tegas.
"Barbie tidak ke klinik. Om saja. Klinik bukan perang mainan. Map jangan jadi rumah boneka." Dain tertawa, pecah, setuju. Map dirapikan. Barbie ke sofa. Ember tetap di lantai, saksi konyol.
Sore, kode dua kali, Jon: sahabat. Orlando mampir sebentar, sepatu rapi, tidak omong burung.
"Besok gue jemput. Jangan bawa ember, aneh. Bawa kartu, bawa diam, bawa permen anakmu. Kalau ditanya berita, tidak komentar. Kalau ditanya rumah, cuti keluarga. Titik. Freya diam. Mama marah di grup, screenshot sudah. Jangan masuk grup itu. Kalau ada yang nunggu di klinik, masuk, chat gue, jangan debat parkir."
Letta mengintip. "Om berisik. Titik. Tidak burung."
"Titik," kata Orl, hampir hormat. "Saya pergi. Urutan: klinik, rumah, baru dunia. Jangan cafe. Jangan kampus."
Lita antar sampai rantai, bukan lobby. "Terima kasih tidak bawa keramaian. Terima kasih tidak bawa burung." Orl angguk, hampir tertawa, pergi. Dain cuci gelas yang tidak dipakai Orl. Rumah kembali pendek. Letta bilang om berisik lulus titik. Lita bilang sore masih panjang, jangan buka lagu. Dain tidak buka. Dia lipat kemeja, buka, lipat lagi, takut kerah kalah, Lita: sudah, jangan ngegas ke kain. Dain duduk, hisap permen, Letta hitung saku, masih ada cadangan. Sore pecah jadi malam dengan kemeja di kusen dan orang yang takut jujur sekaligus takut bohong. Takut itu didudukkan di sofa, tidak dikasih setir. Orl sudah jauh. Grup mama tidak dibuka. Lagu tidak. Hanya bubur sisa, permen cadangan, dan titik. Dain cek alarm dua kali, Lita: sudah, tidur. Letta titip hakim tidak galak kalau om jujur. Dain janji jujur. Malam menahan orang yang besok diukur, bukan orang yang besok ngegas. Sofa pendek, ember kosong, kemeja di kusen, alarm dua kali, siap benar. Cukup untuk jujur, cukup untuk tidak beli fit, cukup untuk tepat waktu. Dia memejam. Klinik menunggu orang jujur. Rumah menjaga ember. Permen di saku. Titik. Tidak ngegas. Tidak lebih awal. Tidak beli fit. Tidak buka portal. Tidur di sofa.
Malam Lita lebih lama di ambang, menatap kemeja yang tergantung.
"Saya takut kamu bohong fit karena malu cuti. Malu cuti lebih murah daripada cockpit bohong. Ingat Senja. Ingat ember. Ingat saya pernah lihat kamu bohong sehat demi Freya. Jangan ulang ke perut, jangan ulang ke pesawat. Dua-duanya bisa jatuh."
Dain duduk di lantai. "Tidak bohong. Medis jujur. Tidur saya jelek, saya bilang. Kalau tidak fit, rumah. Kalau fit, dekat. Timbang. Bukan pahlawan."
"Timbang. Kata itu tetap. Jangan pesta kalau fit. Jangan kecil kalau tidak. Pulang. Kabari. Titik."
Letta sudah tidur, mulut mengucap titik, tangan di barbie. Dain menutup pintu kamarnya pelan. Lita sudah di ranjang, tidak panggil air. Dain tidak tidur dalam, bolak-balik, kaki menggantung, cukup untuk tidak menulis notes sampai pagi, cukup untuk tidak buka grup Mama Freya. Alarm dipasang dua. Permen di saku kemeja. Rantai. Ember menganggur. Klinik menunggu orang yang belajar jujur, bukan orang yang belajar beli tas, bukan orang yang belajar bohong sehat. Dain cek kartu identitas, cek permen, cek alarm, tidak cek portal. Dia hisap permen cadangan, manis, lalu benar-benar memejam, kaki menggantung, plafon retak, Lita batuk tidak ada, mual tidak datang lagi. Cukup. Besok tepat waktu, bukan lebih awal, bukan ngegas.