Author POV
Tiga hari belum datang. Yang datang pagi adalah mual yang lebih jahat.
Dain masih setengah tidur ketika Lita tersandung selimut. Dia bangun lebih cepat daripada alarm kantor dulu. Lita hampir tidak sampai ke kamar mandi. Dain memegang ember di lorong, bukan memotret, bukan menelepon dunia. Letta di luar pintu, menangis karena bunyi, barbie jatuh.
"Bunda, bunda, Letta tidak pukul siapa-siapa, kenapa bunda sakit."
Lita keluar pucat, menggeleng pada Dain yang ingin ke IGD, dan pada Letta yang ingin masuk.
"Tidak darah. Tidak kram hebat. Hanya mual. Telpon dokter dulu, jangan ngegas."
Dokter di telpon suaranya datar, menenangkan tanpa meremehkan. Istirahat, minum yang disarankan, datang jika darah atau nyeri, jangan angkat, jangan ke toko. Dain menurut, gelisah, memasak air, bukan telur, menumpahkan sedikit, menyeka, memasak lagi. Letta duduk di kaki ranjang, memegang jari Lita, barbie di lantai.
"Bunda sakit karena foto? Karena Tante Frey? Letta pukul lagi?"
"Jangan pukul. Bunda sakit karena perut sedang kerja. Bukan karena foto. Kamu tidak salah. Om tidak salah masak. Dunia yang sedang kasar, perut yang sedang kerja. Dua-duanya, tapi kamu jaga bunda, bukan jaga perang." Lita menatap Dain, minta tolong menutup sebelum kata tumbuh jadi adik. Dain mengangguk: belum nama, belum adik.
Dia ke dapur, kirim chat ke Jesika: mual hebat, dokter bilang rumah dulu, tidak darah. Jesika membalas: ibu datang sore, jangan IGD kalau tidak perlu, jangan portal.
Siang, mual reda. Lita tidur dengan handuk kecil di leher. Dain dan Letta di ruang tamu, bicara pelan, televisi mati, gorden tetap.
Letta memegang pensil, tidak menulis. "Om, perut bunda kerja. Kerja apa? Laundry di dalam? Mesin kecil?"
Dain memilih kata seperti memilih landasan, pelan, takut overshoot. "Bunda sedang dijaga dokter. Ada yang tumbuh, pelan. Bukan mesin. Nanti bunda yang kasih tahu, bukan om. Om jaga, tidak lelucon. Om tidak bilang ke teman om, ke portal, ke Tante Frey."
Letta mengerut. "Tumbuh. Kayak gigi? Letta dulu gigi tumbuh, sakit, bunda usap."
"Lebih diam dari gigi. Kadang bunda mual. Kamu usap tangan, jangan perut, kecuali bunda izinkan. Jangan tanya ke teman. Janji."
"Janji. Om jangan bilang Tante Frey. Tante jahat ke perut. Kalau tante datang, Letta ambil ember, bukan pukul. Om bilang jangan pukul."
"Ember, telpon, rantai. Bukan pukul. Pintar." Dain mengusap kepala anak itu, lama, karena takut suatu hari kalimat tumbuh ini akan dia sesali, dan tetap harus diucapkan supaya Letta tidak mengarang lebih liar.
Sore, Lita bangun, mendengar cukup dari Letta yang terlalu jujur di pintu: "Om bilang tumbuh, diam, jangan ke teman. Ember, bukan pukul." Lita menatap Dain, bukan marah penuh, lebih seperti orang menghitung risiko.
"Kamu tidak sebut adik. Bagus. Kamu tidak sebut nama. Bagus. Jangan tambah. Jangan gigi. Jangan mesin. Saya yang akan bicara kalau sudah waktunya. Bukan karena kamu salah. Karena mulut anak lebih cepat dari somasi, dan teman Letta lebih cepat dari pengacara."
"Saya tahan. Maaf sudah dekat. Dia tanya, saya tidak bisa diam total."
"Dekat boleh. Nama jangan. Diam total juga mustahil. Saya tahu." Lita minum, meringis, lalu duduk. "Lima menit toko jangan dulu. Mual ini cukup. Angka saja. Dain, kalau briefing tiga hari datang dan saya mual, kamu tetap pergi ke kantor, jangan pilih ember sampai kamu dipecat. Ember bisa dijaga Mom. Langitmu jangan kamu buang karena takut saya."
"Saya timbang. Tidak kabur. Tidak buang. Timbang."
"Timbang. Itu kata yang saya mau. Jangan pesta kalau dokter bilang aman. Jangan kabur kalau dokter bilang hati-hati. Dua-duanya sama-sama ngegas."
Dain mengangguk. "Tidak pesta. Tidak kabur. Timbang." Letta di kaki ranjang mengulang, pelan, seperti PR baru: timbang.
Dain mengangguk. Jesika datang tanpa diundang, seperti mencium mual dari jauh, membawa apa yang dokter izinkan. Beliau tidak memarahi lima menit lagi. Beliau hanya duduk, mengusap rambut Lita, menatap Dain.
"Tiga hari briefing. Ibu yang jaga kalau kamu harus ke kantor. Jangan pilih langit daripada ember. Ember lebih jujur."
"Saya pilih ember dulu, Mom."
Malam itu Freya diam. Ojek tidak kembali. Portal pindah ke artis lain. Dain di sofa, Lita di kamar, Letta tidur dengan rahasia yang belum genap, sudah terlanjur tumbuh di kepala. Jesika pulang setelah memastikan ember bersih dan obat sesuai. Dain tidak menulis nama. Dia menulis: ember, angka, tiga hari, jangan gang, jangan nama, timbang. Checklist pendek, seperti kokpit, cukup untuk tidak ngegas.
Lita ke ambang, lebih lemah, lebih tegak.
"Dain. Kalau kamu terbang nanti, bawa muka yang tadi. Bukan muka cafe. Bukan muka perjanjian lama. Muka ember. Itu yang saya percaya sedikit."
"Muka ember. Tercatat." Dain tidak cium. Tidak pesta. "Tidur. Saya di sofa. Kalau mual, panggil. Jangan jalan sendiri. Ember di sini, sudah kering, sudah siap."
"Jangan kabur. Jangan ke gang. Jangan ke kampus."
"Tidak kabur. Tidak gang. Tidak kampus. Sofa." Lita mengangguk, puas pada daftar yang pendek.
Sebelum memejam, Dain cuci ember, keringkan, taruh lagi di sisi sofa, konyol dan siap. Letta sempat keluar, melihat ember, mengangguk seperti orang dewasa.
"Om jaga ember. Letta jaga pintu kamar. Jangan kabur."
"Tidak kabur. Tidur."
Dain memejam. Plafon retak. Kaki menggantung. Di laci, sapu. Di kamar, tumbuh yang belum boleh disebut. Di luar, perang yang belum kalah, belum menang. Untuk malam ini, ember kosong di sisi sofa sudah cukup menjadi janji yang lebih jujur daripada kertas pertama. Dia tidak menulis nama. Dia tidak membuka gang. Dia hanya mendengar napas Lita dari kamar, rata, batuk tidak ada, mual tidak datang lagi malam itu, dan itu lebih penting daripada briefing tiga hari. Dain memiringkan tubuh, kaki tetap menggantung, ember tetap di lantai, dan untuk pertama kali sejak foto gang, dia tidak membuka portal sebelum tidur.