Author POV
Siang datang lebih dulu dari rasa aman.
Dain baru merapikan jaket ketika Orlando menelepon, nada pendek. Lita masih di sofa, membuka laptop untuk angka, belum ke portal. Letta menggunting kertas tugas. Rumah berbunyi gunting, lalu berbunyi perang lagi.
Foto mereka tetap ada.
Bukan dari etalase. Dari atas gang: belakang, pintu besi, Lita yang sedang naik, Dain yang menahan siku, Letta yang memegang barbie. Crop jelek, sudut miring, cukup untuk dikenali. Akun yang sama, caption pendek: 'janda sudah kembali bekerja, pilot antar'. Tidak ada kata hamil. Tidak ada perjanjian. Cukup untuk mengingatkan dunia bahwa mereka belum selesai.
Dain tidak menunjukkan ke Letta. Dia tunjukkan ke Lita setelah anak itu ke kamar ambil pensil. Lita menatap sekali, menutup, menaruh laptop lebih pelan daripada yang perlu.
Orlando menelepon lebih dulu dari Lita sempat buka.
"Jangan buka kolom. Satpam toko tidak liat yang foto. Atas, mungkin drone mainan atau lantai dua seberang. Gue urus. Loe jangan ke gang lagi minggu ini. Lima menit kemarin sudah keburu."
Lita duduk, laptop ditutup. "Saya yang minta turun. Saya yang bawa berita lagi."
"Bukan," kata Dain. "Saya yang setuju. Kita tidak ulang. Toko tetap jalan tanpa kamu di gang. Nana video. Cukup."
Letta menatap layar yang belum dibuka. "Om dan bunda di foto. Letta juga. Barbie Letta. Orang jahat suka barbie Letta?"
"Orang jahat suka rumah kita. Bukan barbiemu. Kamu tidak salah bawa mainan." Dain berjongkok. "Besok tidak ke toko. Tugas di rumah. Om tidak marah ke kamu."
Pengacara mengirim somasi baru, lebih pendek, menuntut foto anak di-blur atau diturunkan. Dain tanda tangan izin lewat telpon, tidak ke kantor, karena Lita tidak boleh ditinggal lama setelah gang. Dua jam kemudian crop Letta di-blur, wajah Lita masih, Dain masih. Tidak bersih. Lebih baik. Lita tidak melihat versi awal yang Letta kelihatan. Dain yang pastikan, dua kali, sampai Orlando kirim tangkapan setelah blur.
"Anak tidak kelihatan," kata Dain. "Kamu kelihatan. Saya kelihatan. Cukup untuk malu, tidak cukup untuk Letta diobok-obok teman."
Lita mengangguk. "Malu saya tahan. Letta jangan."
Jesika datang sore, membawa buah dan marah yang dingin. Tasnya kecil, langkahnya cepat, satpam basement menyingkir sendiri. Letta dipeluk dulu, baru Lita, baru Dain dapat tatapan.
"Ibu sudah bilang belakang juga bisa diincar. Kamu berdua keras kepala. Lita rindu mesin, ibu mengerti. Rindu tidak boleh lebih besar dari perut. Dain, cutimu bukan tiket antar jemput konten. Ibu tidak marah karena toko. Ibu marah karena perut dibawa ke gang."
"Saya salah, Mom."
"Salah, lalu duduk. Jangan salah lagi dengan ngegas ke seberang gang mencari orang hoodie." Jesika menatap Lita. "Dokter ibu chat. Istirahat. Kalau rindu mesin, ibu belikan suara mesin di telpon. Bukan lima menit di gang."
Lita menunduk, lalu mengangkat. "Saya tidak ulang. Saya tetap pimpin dari sini. Maaf sudah bikin foto."
"Jangan minta maaf ke ibu. Minta maaf ke perut. Lalu makan."
Mereka makan. Suasana rumah seperti setelah mendarat darurat yang selamat: syukur, malu, lapar. Jesika menyuapi Letta buah, bukan karena anak itu tidak bisa, karena tangan dewasa perlu kerja yang tidak merusak. Dain cuci piring, salah letak gelas, dibetulkan Lita dari sofa dengan perintah pendek, seperti di toko.
Letta gambar gang dengan pintu besi, om besar, bunda kecil, bintang di siang hari, salah, tetap ditempel di kulkas. "Bintang di siang, biar om ingat jangan foto. Bintang jaga."
"Bintang tidak jaga," kata Dain. "Om yang jaga. Bintang hias."
"Bintang tetap. Om jangan berdebat sama Letta."
Jesika menyembunyikan senyum. "Dain kalah. Bagus. Kalah ke anak lebih sehat daripada menang di portal."
Sore menjelang malam, Dain menolak ajakan Jon untuk 'cek lantai dua'. Jesika sudah cukup. Ngegas mencari anak kuliah hanya akan jadi foto berikutnya. Dia menyetrika, salah, Lita menyuruh berhenti sebelum gosong. Letta menonton mereka seperti menonton film yang membosankan, lalu puas karena membosankan.
Malam, Freya mengirim pesan, pertama setelah diam panjang.
Lima menitmu lucu. Saya tidak sebar kertas utuh. Saya tidak perlu. Kamu yang kasih foto. Mama saya masuk acara lain, bukan malam itu. Tunggu.
Dain meneruskan ke pengacara dan Orlando, tidak membalas. Lita membaca satu kali, menutup, lalu membuka buku nota supaya tangan ada kerja.
"Dia tidak sebar utuh karena somasi, bukan karena baik. Tunggu itu ancam. Kita tetap sapu. Kita tidak usir. Kita tidak ke gang. Dain, kalau kamu ingin membalas 'lima menit itu hak kerja', jangan. Kalimat itu akan jadi judul."
"Tidak balas. Saya cuci piring."
"Cuci. Jangan cuci nama dia di mulut Letta."
"Dia tidak sebar utuh karena somasi, bukan karena baik. Tunggu itu ancam. Kita tetap sapu. Kita tidak usir. Kita tidak ke gang."
Dain di sofa, notes pendek: jangan gang, jangan balas, blur anak. Dia hampir tidur ketika Lita batuk kecil, lalu diam. Dain ke ambang, Lita menggeleng.
"Bukan mual. Hanya capek jadi foto. Tidur. Besok saya tidak minta mesin."
"Besok kamu minta angka. Angka boleh. Mesin belakangan."
Lita tersenyum tipis. "Kamu mulai bisa bedakan. Dulu semua kamu satukan: nafsu, toko, tas, takut. Sekarang kamu pisah. Jangan berhenti pisah. Kalau kamu campur lagi, saya yang tarik kamu ke sofa, bukan ke kasur."
Dain mengangguk. "Saya pisah. Foto itu saya yang setuju turun. Saya tanggung. Kamu jangan pikul judul sendirian."
"Saya pikul angka. Kamu pikul setir. Letta pikul tugas. Adil."
Dain di sofa memikirkan motor hoodie, lantai dua seberang, dan lima menit yang terasa seperti satu jam di berita. Dia tidak ngegas. Dia juga tidak kabur ke langit. Pesawat masih tidur. Om juga, akhirnya, meski foto masih di suatu server. Dia menulis di notes: tidak ada gang. Dia membaca baris itu sekali. Lalu mematikan layar sebelum kolom sempat dibuka, dan sebelum tujuh tahun sempat membalas sendiri.