Author POV
Video wali kelas berjalan di meja makan.
Sebelumnya Lita menyapu remah, merapikan latar, menutup pintu kamar Dain, menurunkan foto di dinding yang ada wajah Dain. Bukan malu. Bukan umpan. Letta memakai kemeja sekolah, hijab kecil yang kadang dipakainya, wajah serius. Lita di luar frame kamera, hanya suara. Dain di kamar, pintu tertutup, sesuai janji tidak tampil, duduk di tepi kasur Lita yang tidak boleh dia tiduri, mendengar suara anak itu lebih tegak daripada suaranya sendiri seminggu ini.
"Letta kerjakan halaman lima. Bunda bantu. Teman-teman jangan tanya berita. Letta tidak sakit bodoh. Letta jaga bunda."
Wali kelas tersenyum kaku di layar. "Bagus, Letta. Teman-teman sudah dinasihati. Kirim foto tugas sore. Ibu doakan bunda cepat sehat."
Setelah mati, Letta melepas kemeja. "Bunda sehat. Bunda memar. Orang bilang sehat supaya tidak tanya memar."
Lita mencium rambutnya. "Orang dewasa kadang bicara baik untuk menutup yang jelek. Kamu tetap jujur di rumah. Di luar, tidak perlu ceritakan om dan tante."
"Hafal."
Dain keluar setelah yakin layar mati. "Saya ke rumah Daddy. Ada yang harus ditandatangani. Pulang siang. Jon di bawah. Mom bisa mampir."
Lita menatapnya. "Jangan pulang bawa cincin. Jangan pulang bawa usir. Pulang bawa keputusan yang bisa saya dudukkan di sofa."
"Tidak cincin. Tidak usir."
Di rumah Rocarlton, Gavin, Jesika, pengacara, Dain. Meja kerja. Map perjanjian asli yang Dain ambil dari brankas apartemennya, bukan fotokopi Freya.
"Kita akhiri kertas ini secara hukum," kata pengacara. "Buat pernyataan pembatalan klausul 'kebersamaan' dan sewa yang menindas. Tetap tanggung jawab nafkah tempat tinggal dan usaha selama Lita hamil dan sampai ada kesepakatan baru. Ini bukan nikah. Ini membersihkan kotoran tanpa membuang orang."
Dain membaca. Tangannya tidak gemetar. "Saya tanda tangan. Lita harus tanda, sukarela, bukan diancam. Saya bawa pulang, bukan dipaksa di sini."
Gavin mengangguk. "Daddy tidak mau cucu lahir di atas klausul boneka. Daddy juga tidak mau kamu kabur ke langit untuk menghindari kertas. Cuti. Tanda. Jaga."
Jesika menambahkan. "Kalau Lita menolak tanda, jangan marah. Itu hak. Ibu yang bicara. Kamu jangan bawa pena seperti membawa tas miliaran."
Dain pulang dengan map baru, lebih tipis, lebih bersih. Di basement dia duduk di mobil lima menit, merapikan muka, takut kelihatan seperti orang yang membawa mahar. Ini bukan mahar. Ini sapu.
Di unit, dia letakkan di meja, jelaskan tanpa rias, kalimat per kalimat, Klausul lama dibaca sekali lalu ditutup.
"Ini pembatalan yang kotor. Tempat tinggal dan laundry tetap. Kasur tidak. Uang bukan upah badan. Kamu boleh tidak tanda hari ini. Kamu boleh baca semalaman. Saya tidak usir kalau kamu tidak tanda. Saya juga tidak marah kalau kamu minta orang ketiga, pengacara sendiri."
Lita menatapnya. "Saya tidak punya pengacara sendiri."
"Boleh pakai yang Mom, atau yang lain. Hak kamu."
"Yang Mom dulu. Saya baca."
Lita membaca dua kali, tiga kali, minta waktu sampai malam. Dia jalan pelan ke jendela, gorden tetap turun, hanya mengintip celah: taman, pot, tidak ada kamera. Dain masak, kali ini tidak asin, Letta luluskan. Dain tidak menekan pena ke tangan Lita. Dia mencuci piring dua kali karena gelisah.
Siang lewat tanpa Freya. Portal lelah, pindah ke skandal lain. Dain tidak percaya lelah itu selamanya. Dia tetap cek basement lewat Jon. Sepi. Itu membuatnya lebih waspada, bukan lebih santai.
Menjelang sore Lita minta dibacakan lagi satu paragraf, tentang laundry, lalu tentang sewa, lalu tentang yang tidak ada: kasur. Dain baca tanpa merendahkan suara. Letta di kamar, dilarang mendekat, menggedor sekali, disuruh gambar.
Sore, Lita memanggil ke meja.
"Saya tanda. Bukan karena saya percaya kamu sudah suci. Karena saya tidak mau anak ini lahir di kertas yang menyebut saya kebersamaan. Saya mau kertas yang membosankan: sewa, usaha, tanggung jawab. Membosankan itu aman. Kalau suatu hari kamu kawin orang lain, kertas ini tetap melindungi tempat Letta tidur. Itu yang saya beli dengan tanda tangan."
Dain menyodorkan pena, tidak merayakan. Jemarinya tidak menyentuh jari Lita. Lita tanda tangan, nama yang sama seperti di perjanjian lama, tapi tangannya lebih tegak. Dain tanda. Pengacara di telpon, scan, "sudah terima, jangan sebar scan ke siapa pun selain kami." Selesai.
Dain menutup telpon. "Tidak sebar. Laci."
Lita menutup pena. "Jangan cium. Jangan pesta. Ini bukan pelaminan. Ini sapu."
"Sapu," ulang Dain. "Saya sapu. Kamu duduk. Letta jangan lihat kertas."
Letta justru muncul. "Om dan bunda ujian? Lulus?"
"Lulus sapu," kata Lita. "Bukan ujian sekolah. Cuci tangan, mau makan."
Malam itu Dain tetap di sofa. Map lama di pengacara. Map baru di laci. Perut Lita masih rahasia. Freya masih di dunia, mungkin marah pada kertas yang sudah tidak sama dengan fotokopinya. Dain memikirkan itu, lalu memikirkan telur, lalu memikirkan batuk yang sudah hilang.
Lita ke ambang. "Dain. Kalau dia sebar yang lama, yang baru sudah ada. Saya tetap tidak kabur. Kamu tetap tidak hilang. Itu saja yang saya minta dari sapu ini."
"Tidak hilang. Sofa. Besok kita lihat toko dari belakang, lima menit, kalau dokter tidak marah. Kamu rindu mesin."
Lita tersenyum kecil. "Saya rindu mesin. Saya tidak rindu kamera. Lima menit. Belakang. Lalu pulang."
"Lima menit. Notes."
Dain memejam. Plafon retak. Kaki menggantung. Di luar, plat motor tidak lewat. Di laci, kertas membosankan yang baru. Di kamar, detak yang belum punya nama di mulut. Perang belum selesai, tapi kertas kotor tidak lagi menjadi satu-satunya bahasa di rumah itu.
Dia hampir tidur ketika Letta keluar, menaruh barbie di dadanya lagi, bisik, "Om jangan kabur ke pesawat sebelum bunda sembuh."
"Tidak kabur," bisik Dain. "Pesawat tidur. Om juga."
Letta puas, balik ke kamar. Dain benar-benar tidur, tanpa notes sampai pagi, untuk pertama kali sejak video di bandara.