Author POV
Ruang briefing tidak penuh. Ada orang HRD, ada perwakilan humas, ada kapten yang biasa satu jadwal dengan Dain. Tidak ada kamera. Ada satu map berisi print berita.
"Jourdain, kami tidak memecat," kata humas, datar. "Kami menunda jadwal terbang Anda sampai pemberitaan mereda atau sampai ada pernyataan resmi yang tidak menyeret nama maskapai. Anda tetap gaji. Anda tidak boleh menjawab media atas nama perusahaan. Kalau ditanya di luar, 'tidak ada komentar'. Titik."
Dain mengangguk. "Saya mengerti. Saya tidak statement. Keluarga sudah pakai pengacara."
Kapten di sudut menatapnya lebih manusiawi. "Dain, cockpit tidak boleh bawa berita. Istirahat. Jangan ngegas di darat juga. Kami dengar ada rumah sakit. Urus itu. Pesawat tidak lari."
"Terima kasih, Sir."
HRD menyodorkan kertas cuti administratif. Dain tanda tangan. Tangannya stabil. Di dalam, dia memikirkan gaji yang masih masuk, laundry yang mundur, dan Lita yang menghitung kiloan di sofa. Dia tidak merasa dihukum habis. Dia merasa ditarik dari langit supaya tidak menjatuhkan orang lain.
HRD menambahkan, hampir lembut, "Kalau ada yang menghubungi Anda dari media dengan mengaku rekan, teruskan ke kami. Jangan janji wawancara. Jangan klarifikasi di grup kerja."
"Siap."
Keluar dari ruangan, dua pramugari yang dikenalnya pura-pura menunduk. Satu sempat bisik, "Kami tidak percaya judul itu." Dain tidak menjawab panjang. "Terima kasih. Jangan ikut debat. Jangan bela saya di story." Itu cukup. Yang lain mengangguk, pergi lebih dulu, meninggalkan Dain di koridor yang terlalu terang.
Dia ke toilet, cuci muka, menatap orang yang cuti bukan karena sakit, karena berita. Dia tidak menangis. Dia hanya menghitung napas seperti sebelum takeoff, lalu keluar.
Di parkir kantor, Jesika menelepon.
"Ibu sudah dengar dari pengacara. Portal setuju turunkan crop pipi. Foto lobby masih, tapi caption diganti jadi 'tidak dikonfirmasi'. Itu setengah. Acara malam Mama Freya batal. Ibu bayar bukan uang, ibu kirim kertas. Dain, kamu dari kantor langsung pulang. Jangan ke laundry. Ada yang kelihatan di depan toko, plat sama, Jon sudah ke sana."
"Plat motor itu. Saya ke laundry."
"Tidak. Jon dan satpam. Kamu pulang. Lita batuk, Letta ngeyel. Ibu ke apartemen."
Dain menggertakkan gigi, lalu menurut. Ngegas ke laundry adalah ngegas dari bandara versi lain. Dia mengetik ke Jon: foto, jangan kejar, jangan adu mulut. Jon membalas: sudah pergi, plat sama, hoodie, tidak turun.
Dain memutar stir ke apartemen. Di jalan dia hampir beli bunga, lalu ingat Gavin: beras, bukan bunga. Dia beli roti isi dan buah di minimarket, jelek, cukup.
Di unit, Jesika sudah sampai lebih dulu, termos baru, Letta di pangkuan. Lita menatap Dain dari sofa.
"Jadwal terbang?"
"Ditunda. Gaji jalan. Tidak pecat. Saya cuti administratif. Tidak statement."
Lita menghela. "Bagus. Langit bisa nunggu. Perut tidak."
Jesika menatap keduanya. "Jon kirim foto. Motor itu ojek yang dipakai orang bershoodie, bukan Reza. Wajah tidak jelas. Dia hanya duduk di seberang, tidak turun. Sudah pergi waktu satpam nyamper. Besok kita pasang orang di seberang, bukan hanya di toko."
Dain duduk di lantai. "Mom, kantor saya bersih. Portal setengah. Freya diam. Saya tidak percaya diam."
"Ibu juga tidak. Makanya ibu di sini. Lita, minum obat batuk yang aman, ibu sudah tanya dokter kandungan lewat telpon. Bukan sembarang pelega."
Lita menurut. Letta menatap Dain. "Om tidak terbang. Om di rumah. Letta senang. Om jangan sedih. Pesawat om tidak marah."
"Pesawat tidak marah. Om yang harus tidak marah." Dain mengusap kepala anak itu. "Nenek di sini. Om cuci piring."
Siang itu pengacara mengirim salinan persetujuan turun crop. Dain membacakannya pada Lita, tanpa gaya, dua kali karena Lita minta yang kedua lebih pelan. Lita mengangguk, lalu kembali ke foto buku dari Nana, mengoreksi satu angka yang salah ketik.
"Aku lebih takut salah hitung daripada salah berita. Salah hitung bikin karyawan tidak makan. Berita sudah kenyang menghina."
Jesika menyodorkan obat batuk. "Dua hari, sesuai dokter. Jangan beli yang di iklan."
Dain mencuci piring dan, tanpa diminta, menyetrika seragam kerja Lita yang tergantung, pelan, seperti orang belajar hormat pada kain orang lain. Uap mengenai wajahnya. Dia teringat seragam pilot di kantor, ditunda. Dua kain, dua kerja, satu orang yang sedang belajar tidak kabur. Jesika melihat, tidak komentar, hanya membetulkan letak setrika supaya tidak terlalu panas.
"Jangan sampai gosong. Hormat itu tidak berarti membakar."
"Iya, Mom."
Sore, Letta menggambar pesawat yang diparkir, bukan terbang. "Om istirahat. Bunda istirahat. Pesawat tidur."
"Bagus," kata Jesika. "Semua orang perlu hangar."
Menjelang magrib, ponsel Lita bergetar. Nomor tidak dikenal. Dain mengangguk, Lita angkat dengan speaker.
"Mbak Lita? Saya dari sekolah Letta. Kami lihat berita. Kami tidak mengusir, tapi beberapa orang tua bertanya. Lebih baik Letta offline dulu seminggu, tugas kami kirim. Kami jaga nama anak."
Lita memegang pinggiran sofa. "Saya mengerti. Terima kasih tidak mengusir. Saya minta kelompok tidak membahas pipi saya di kelas."
"Kami sudah bicara ke wali. Maaf, Mbak."
Setelah tutup, Letta yang mendengar sebagian hanya bertanya, "Letta tidak sekolah. Bukan karena bodoh?"
"Bukan," kata Dain cepat. "Karena orang dewasa sedang berantem di luar. Kamu tidak bodoh. Kamu jaga bunda di rumah, tugas tetap dikerjakan. Nenek bisa bantu. Om bisa hitung, meski om kadang salah."
Letta mengangguk, tapi matanya berkaca. "Teman Letta bisa lihat TV. Teman bisa bilang bunda jahat. Letta mau bilang tidak. Boleh?"
"Di rumah boleh. Di grup sekolah, jangan. Serahkan ke guru. Kamu jaga mulut, bukan karena kalah, karena aman."
Lita menariknya. Dain ke dapur, bukan kabur, menuang air, menahan marah pada dunia yang menghukum anak karena tangan Freya. Gelasnya berbunyi di bak. Jesika menatapnya, tidak menyuruh diam, hanya mengangguk: marah boleh, jangan sampai ke setir.
Malam itu Freya masih diam. Diam itu menekan atap. Dain di sofa, Jesika pulang, Jon di basement. Lita batuk tinggal sedikit. Dain memejam dengan cuti di saku dan pesawat yang tidur, seperti gambar Letta.