Author Pov
"Hello honey, pacarmu yang paling ganteng sedunia sudah datang" ucap Dain ketika kekasihnya membukakan pintu untuknya.
"Ehmm pagi-pagi gini sudah kesini. Aku baru bangun loh hon, ayo masuk" jawab seorang wanita yang memang baru saja bangun dari tidurnya. Dimana dia masih memakai baju tidur yang seksi dengan muka masih kusut khas seperti orang bangun tidur.
"Ini sudah jam sembilan hon, sudah cukup siang bagiku. Kamu bilang masih pagi"
"Iya tapi aku masih mengantuk hon, lagian juga capek kemarin kuliahku full jadwalnya"
"Loh bukannya kalau hari Rabu kamu cuma kuliah satu mata kuliah saja ya" jawab Dain kemudian dia duduk di sofa ruang tamu dan meletakkan makanan yang dibawanya di meja.
Sedangkan kekasihnya Freya itu tidak menanggapi perkataan kekasihnya dulu karena dia mengambil nafas dan memutar otak mencari alasan yang tepat sambil mengambil air minum di kulkas.
"Kamu capek habis ngapain hemm? Kemarin aku telpon siang katanya kamu juga mau pulang kuliah kan"
"Iya tapi setelah itu ak...aku ternyata ada tambahan kuliah pengganti. Aku sendiri saja lupa, beruntungnya diingatkan sama temanku. Dan setelah itu aku lanjut lagi kerja kelompok sampai malam" Freya berjalan menghampiri kekasihnya sambil membawa satu gelas air putih.
Sedangkan Dain terus melihat ke arah kekasihnya, bahkan sampai kekasihnya sudah duduk dihadapannya. Dia seperti itu karena dia merasa ada yang tengah di sembunyikan dengan kekasihnya ini.
"Kenapa? Kamu tidak percaya sama aku hon? Kalau gitu aku telponin Loli ya biar dia jelaskan"
"Hah. Ti...tidak hon aku percayalah sama kamu. Sini peluk, aku kangen sama kamu"
Dengan takut-takut Freya mendekati kekasihnya dan memeluk. "Aku masih bau ya hon, aku mandi dulu soalnya"
"Baunya tetep harum gini hon. Tapi tunggu deh hon, kamu ganti parfum ya? Kok baunya beda gini" Dan mengendus tubuh kekasihnya dari mulai rambut, area wajah dan juga lehernya. Dain begitu asing dengan bau ini.
"Iya hon, aku barusan beli parfum baru kemarin. Enak kan baunya?" jawab Freya dengan bersemangat.
"Kamu tidak suka yah sama harumnya. Kalau gitu aku buang saja parfumnya"
"Tidak, suka kok. Tapi aneh saja biasanya kamu kan gak suka loh ganti-ganti parfum gini. Parfum itu bahkan sudah kamu pakai sejak SMP"
Semakin kesini, Dain dibuat aneh dengan sikap kekasihnya yang semakin berubah. Dia merasa ada yang di sembunyikan oleh Freya kepadanya, tapi dia tidak tau apa itu. Dalam hatinya, dia selalu menekankan bahwa dia tetap akan percaya dengan kekasih yang sudah menemaninya bertahun tahun in.
"Ya kan aku juga ingin coba-coba hal baru hon. Sudah ah kamu kok hari ini jadi over protectif gini sih. Kenapa memangnya? Kamu sudah tidak percaya lagi sama aku"
"Tidak hon, aku percaya sama kamu. Aku selalu percaya kok sama kamu, aku tadi kan cuma tanya saja. Aku minta maaf ya, kamu jangan marah" Dain kini merasa tidak enak, mungkin dari pertanyaannya tadi telah menyinggung perasaan kekasihnya sehingga dia langsung menghentikannya dan langsung meminta maaf.
"Iya tapi lain kali jangan gitu hon, kamu jadi tidak seperti biasanya kalau kayak begitu"
"Iya-iya janji hon, ini yang terakhir kalinya. Sudah jangan marah gitu nanti tidak aku kasih pesenan mu ini" Dain menunjukkan paper bag yang sejak tadi dibawanya.
"Ini pesananku kan hon? Kamu dapat?"
"Dapat, pacarnya siapa dulu. Aku penuh perjuangan sekali untuk dapatkan barang itu hon, bahkan aku sampai bertengkar sama tante-tante bule"
"Duh makasih ya hon, kamu memang yang terbaik"
"Iya harus hon, apapun yang kamu minta pasti akan aku berikan. Sudah coba kamu lihat tas nya dulu benar apa tidak. Dan asli apa tidak, tapi tidak mungkin aku membelikanku yang palsu. Dain tidak pernah membelikan barang yang palsu kepada kekasih yang paling cantik di dunia ini"
Freya tersenyum lebar menanggapi perkataan dari kekasihnya itu, kemudian dengan tidak sabar dia langsung membuka paper bag itu dan mengambil isinya. Dan isinya adalah sebuah bungkusan kardus kecil berbentuk persegi. Dengan perlahan dia membukanya dan mengambil isinya yang ada didalamnya yaitu sebuah 'TAS' impiannya.
"Hon ini serius" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Karena dia masih tidak menyangka tas impiannya yang selalu diimpikannya kini sudah ada didepannya dan itu pemberian dari kekasihnya.
"Iya serius hon, itu asli ya bukan pulsa yah aku belinya. Kamu tau sendiri harganya itu bisa menguras uang tabunganku"
"Makasih ya hon, ini adalah tas impianku dan akhirnya kamu bisa beliin juga. Makasih, tambah cinta sama kamu" ucap Freya dengan memeluk tubuh kekasihnya dengan begitu erat.
"Iya sama-sama. Tapi hon, kamu cuma bilang makasih saja gitu" mendengar akan hal itu membuat Freya baru teringat, sehingga setelahnya dia langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya ini.
Dan setelah itu..... Freya mencium dengan takut bibir kekasihnya yang juga diikuti oleh Dain setelahnya.
Mereka berciuman tidak lama seperti biasanya karena Dain segera melepas ciuman itu secara tiba-tiba membuat Freya terkejut dibuatnya.
"Kenapa ciuman ini tidak seperti biasanya. Kenapa aku jadi terbayang-bayang dengan ciuman bersama Lita. Ini sangat aneh" batin Dain.
Dain melepaskan ciuman itu karena dia merasa ciumannya dengan kekasihnya tadi tidak seperti biasanya. Justru dia menjadi teringat akan apa yang dilakukannya bersama dengan Lita semalam. Ini sungguh aneh bagi Dain, karena biasanya dia selalu dibuat ketagihan dengan ciuman dengan kekasihnya ini tetapi kali ini berbeda karena yang membuatnya ketagihan itu bukannya ciuman dari Freya kekasihnya tapi ciuman dari...."Lita"
"Hey kenapa, apa aku bau ya hon sampai kamu selesaikan ciuman ini dengan cepat?"
"Hon" panggilnya lagi karena dia melihat kekasihnya ini tengah melamun.
"Iya hon"
"Kenapa?"
"Sudah sana mandi, kamu bau"
"Ish masa aku bau sih hon. Biasanya kamu suka cium aku yang baru bangun tidur begini"
"Mandi dulu sana hon, lihat tasnya nanti lagi. Aku tunggu disini, katanya mau jalan-jalan hari ini"
"Iya-iya hon. Ya sudah aku mandi dulu. Kamu tungguin ya"
"Iya hon, pasti"
Setelah kepergian Freya, Dain mengeluarkan ponselnya yang satunya di dalam sakunya. Dia hendak menghubungi seseorang, tetapi terlebih dahulu dia memastikan bahwa kekasihnya sudah masuk ke kamar mandi dan barulah dia bisa mengirim pesan ke seseorang.
Pagi wanita seksiku
Dain perlu menunggu hingga 3 menit sampai pesannya itu dibalas.
Kamu dimana? Apa kamu pulang di pagi-pagi buta?
Dain tersenyum sebentar kemudian dia kembali mengetikkan sesuatu disana.
Sorry ya seksiku, aku tadi harus pergi pagi-pagi takut Letta bangun dan melihat kita tanpa sehelai bajupun di satu ranjang yang sama, bisa bahaya
Aku tadi harus kembali secepat mungkin ke apartemenku, kemudian ke apartemen kekasihku karena kita sudah janjian sebelumnya. Maaf yah nanti malamnya sama kamu lagi okey seksiku
1 Menit
5 Menit
10 Menit
Dain menunggu hingga akhirnya pesan itu dibaca. Tapi setelah beberapa saat tidak ada tanda-tanda pesannya dibalas membuatnya bingung kenapa dengan seseorang disana.
"Kenapa Lita tidak balas apa dia marah" gumamnya.
Memang benar yang dihubunginya sejak tadi adalah Lita. Tadi Dain memang keluar diam-diam saat waktu masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi karena dia harus kembali keapartemennya untuk segera bersiap-siap menemui kekasihnya Freya di apartemennya sekaligus memberikan hadiah yang memang diminta kekasihnya sejak lama. Oleh sebab itu, sekarang barulah dia memberi kabar Lita bahwa dirinya sedang bersama dengan kekasihnya.
Kamu marah sama aku Lit? Maaf kalau begitu. Apa yang semalam masih kurang?. Kalau iya nanti malam kita bisa melanjutkannya sampai pagi juga tidak apa. Nanti malam adalah waktu kita bersenang-senang okey
"Hon, kamu sudah beli makanan kan?"
"Kamu sudah selesai mandinya?" tanyanya sambil melihat kekasihnya yang tengah mengeringkan ramburtnya dengan handuk. Dan melihat kekasihnya masih berada di kamarnya, dia segera memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Sudah hon, aku bawain makanan kesukaan kamu ini "
"Apa itu?"
"Pecel ditempat kesukaanmu itu"
"Okey kalau gitu aku ambil piring sama gelasnya ya hon"
"Iya honey ku. Kamu seksi kalau habis keramas gitu, jadi pengen ehmm..., pasti sudah harum"
"Tapi maaf hon ke seksi anmu itu tetep kalah dengan ke seksian Lita. Aduh ini otak gue lagi tidak beres mungkin ya, mikirin Lita terus"
"Tadi saja aku ditolak trus harus mandi dulu, sekarang kamu minta. Gimana sih hon"
"Tadi kan kamu masih bau hon, sekarang kan sudah harum. Minta boleh kan ya?"
"Tidak aku sudah tidak mau, sekarang mau nya makan. Aku lapar" Freya sudah datang dengan membawa piring dan juga gelas yang berisi air.
Dia yang sudah kelaparan itu langsung membuka bungkusan nasi didalam kantong yang dibawa kekasihnya dan langsung melahapnya tanpa menghiraukan kekasihnya yang tengah marah-marah akibat tidak ditunggui untuk makan bersama.
Keduanya menikmati makan pagi menuju siang ini dengan di hiasi canda tawa dan saling menggoda satu sama lain.
⚫⚪⚫⚪⚫
"Kenapa kamu Lit?" Dain tengah memeluk tubuh Lita dari arah belakang dengan begitu mesra.
Mereka kini sehabis melakukan aktifitas rutin mereka setiap malam, dan saat ini mereka tengah berpelukan lebih tepatnya Dain memeluk tubuh Lita dari belakang.
Dain merasa ada yang berbeda dengan Lita malam ini. Sejak tadi dia merasa Lita lebih pendiam dan tidak seperti semalam. Oleh sebab itu, Dain tadi menyudahi permainannya dengan cepat karena dia tidak berselera jika Lita pasif seperti ini karena dia menyukai permainan yang semuanya ikut aktif didalamnya .
"Lit"
"Aku hari ini capek maaf ya" jawab Lita dengan masih membelakangi Dain.
"Capek? Mau aku pijitin?"
"Tidak. Aku mau tidur dulu ya"
"Tidur ya sudah tidurlah. Tapi hadap sini dulu" dengan mudah Dain mengubah posisi Lita menjadi menghadap kearahnya dan dengan itu dia dapat melihat bahwa Lita tengah menangis.
"Kamu kenapa menangis? Apa tadi aku terlalu kasar?"
"Tidak, aku hanya berfikir tentang Letta"
"Bukan berfikir tentang Letta tapi kamu Dain. Hatiku sakit saat kamu bilang akan pergi jalan-jalan sama kekasihmu. Sedangkan aku disini hanya sebagai boneka pemuas nafsumu yang tidak pernah kamu anggap diluar sana dan hanya kamu datangi saat kamu butuh"
"Kenapa dengan Letta? Apa keperluan sekolahnya masih kurang? Kamu bilang saja biar aku penuhin semuanya"
"Bukan itu" Lita berhenti sejenak untuk mencari alasan yang tepat hingga kini dia telah menemukan alasannya barulah dia berbicara.
"Lalu, Ada apa? Kamu cerita saja sama aku. Aku sudah berjanji akan mencukupi segala kebutuhan kalian"
"Bukan itu. Justru aku mau bilang, lebih baik Letta masuk di sekolah biasa saja. Kasian dia tidak cocok disana"
"Kenapa kamu mikir sampai gitu. Kalian itu sudah aku cukupin jadi tidak perlu merasa seperti itu. Kamu tidak boleh memikirkan apapun tentang hidup kalian ya, itu sudah menjadi tanggung jawabku. Terus kamu sekarang sudah punya usaha kecil-kecilan dari aku jadi tidak perlu merasa berkecil hati "
"Iya" kemudian Lita memeluk tubuh Dain.
Tubuh ini adalah tubuh yang bisa membuatnya nyaman, sehingga dia selalu merasa begitu nyaman berada didalam pelukan Dain. "Aku ingin tetap seperti ini Dain" ucapnya penuh makna namun ditanggapi oleh Dain dengan bercanda.
"Ya aku juga senang menempel begini berasa hangat-hangat gimana gitu" ucapan serius Lita itu ditanggapi bercandaan oleh Dain membuat Lita kesal.
"Aku tidak bercanda"
"Aku juga tidak bercanda seksi. Aku serius, serius masih kurang tadi. Rasanya tidak enak jadi, kita ulang lagi ya. Aku mohon"
"Aku capek Dain, besok lagi saja"
"Puasin satu kali saja ya, kamu harus aktif dulu baru aku langsung berhenti okey"
"Baiklah, satu kali setelah itu kita selesai ya. Soalnya aku capek"
"Iya tapi harus aktif dan..." Dain mendekatkan mulutnya ke telinga Lita. "Kamu harus semakin nakal okey"
"Iya sini"
"Sini apaan" Dain mencoba menggoda Lita dia pura-pura tidak paham.
Sedangkan Lita yang tengah di goda Dain seperti itu langsung dibuat kesal, namun setelahnya dia memiliki ide untuk membalas tingkah jahil Dain yaitu dengan...
"Ahh nakal yah kamu langsung peg.... Lit" Dain bergumam sambil memejamkan matanya akibat ulah Lita.
"Kamu jadi pintar kalau begini, cocok jadi tukang pijat Lit"
"Oh gitu berarti ini aku pijat lebih keras yahh..ehmm rasakan"
"Eh gila Lit berhenti. Aduh, masa depan gue, bisa patah nanti. Astaga. Kalau patah mau diganti pakai punyanya siapa coba?"
"Punyanya Sapi kan masih banyak jadi diganti pakai itu saja"
"Eh. Kamu ya sekarang mulai nakal. Diajarin siapa?"
"Kamu. Masih tidak sadar?"
"Oh gitu baiklah" Dain langsung berdiri dan mengubah keadaan menjadi Lita yang berada di bawahnya.
"Kamu mau bermain-main okey aku turutin. Awas saja akan aku buat kamu melayang"
"Siapa takut" tantang Lita tanpa ada rasa takut sedikitpun akan perkataan Dain.
"Oh gitu baiklah" Dain mengambil baju Lita yang ada dibawah ranjang, kemudian dia mengambil tangan Lita dan di kaitkan ke ranjang kasur dan diikat disana.
"Dain ka...kamu mau apa ini? Aku mau diapain?"
"Aku mau bermain-main denganmu. Karena kamu tadi sudah nakal, kamu aku hukum sekarang. Sudah jangan protes nanti hukumannya tambah berat"
"Hu...Kum?"
"Ya dan ini adalah pembalasan pertama"
"Da...Dain"
"Rasakan seksiku. Gimana?" Dain tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Lita yang pasrah dan bergeming karena ulahnya ini. Dan setelahnya mereka kembali melakukan aktifitas mereka yang sempat tertunda tadi.